Pendakian Raung: Setengah Perjalanan Lagi Menuju Pulang

Ngecamp. Kami menginap dua malam di POS 7 atau Samudra Awan

Puncak Sejati, Tusuk Gigi, 17, dan Puncak Bendera sudah tercapai, Kini saatnya kami berjalan pulang. Rute yang sama, separuh jalan.

Matahari masih menyengat sungguh saat kami tiba di Puncak Bendera. Padahal, jarum jam bilang petang mulai datang. Perut juga terasa lapar. Haus, tak perlu ditanya. Andai tak berhitung kebutuhan tim, ingin ku teguk sebanyak-banyaknya air termos dan botol minum ini.

Tapi, perjalanan pulang masih cukup jauh. Kami harus mencapai Pos 9 lebih dulu, kemudian menuju Pos 8. Mengingat tanjakan tadi pagi menuju dua pos itu, artinya kami akan meneguk banyak bonus, jalur turunan, menuju Pondok Rasta alias Pos 7.

Jadi, mau tidak mau harus hemat air minum. Satu bekal lain yang kami bawa turun, sebuah janji,”Sunset di Pos 7 sangat bagus dengan samudra awannya,” kata Dean.

Setelah waktu istirahat habis, kami memutuskan untuk melepas harnes dan helm. Juga menyimpan figure of eight dan prusik.

Agar tak telat sampai di Pos 7, untuk menyaksikan sunset, kami berusaha untuk berjalan lebih cepat. Sempat berencana beristirahat di Pos 9, namun akhirnya kami batalkan. Ngaso di Pos 8 juga tak berlama-lama. Kami betul-betul berkejaran dengan waktu. Kami harus sampai di Pondok Rasta sebelum pukul 17.00.

Kendati sudah tak banyak tanjakan, rupanya jalur kembali ke Pos 7 bukanlah pekerjaan ringan. Selain berlomba dengan waktu, kami juga harus menepikan rasa bosan, meskipun sejak awal sudah diinformasikan perjalanan dari Pos 7 hingga ke puncak dan kembali lagi ke Pondok Rasta biasanya membutuhkan waktu 10 jam.

Barisan para porter. Berjumpa porter, mereka naik, kami turun

Perasaan bungah muncul saat dari satu titik kami bisa melihat tenda kuning milik kami di Pos 7. Kami juga bisa menyaksikan iring-iringan awan tepat di depan tenda kami. Matahari masih menyala meski tak lagi galak seperti saat di puncak tadi, namun kami menyadari dia tak akan berlama-lama memamerkan kuningnya.

Tak buang waktu, setelah memeluk tenda, kami mengambil tripod dan selonjor menatap ke barat. Semeru tampak jauh di sana seolah menjadi sarang matahari setelah tenggelam nanti. Dengan gulungan awan putih di depan mata kami, rasanya mudah saja menyeberang ke Semeru di sana.

Baru duduk sebentar, dingin merambati tangan, telinga, dan kepala. Lama-lama kian menjerat badan. Tapi, gulungan awan dan matahari terbenam di seberang sana tak menggoyahkan kami untuk berpindah.

“Kapan lagi bisa menikmati yang semacam ini,” ujar Emon.

Dean yang sudah lebih dulu masuk tenda, berinisiatif membuat minuman hangat. Dia menawarkan teh dan kopi. Tawaran yang tak bisa ditolak.

Kami pun bergegas masuk tenda. Kami harus bersegera memasak, karena lapar sungguh. Kami sudah tak sabar untuk menyantap sop ayam yang ada dalam menu malam kedua di Pos 7 ini. Sebelum menu siap, kami menyantap cemilan yang ada. Kerupuk ikan, keripik suku, kacang cukro, dan lain-lain.

Setelah tuntas makan malam dan berbincang, kami memilih tidur. Aku dan Ale yang tumbang duluan. Emon dan Dean melanjutkan entah ngobrol soal apaan.

Memotret Bintang

Masih di Pos 71

Pukul 03.00, Emon udah berisik. Dia kebelet pipis. Dia minta ditemani. Tapi, juga mengajak kami untuk memotret bintang dan tenda saat malam hari.

Sempat malas, tapi aku bangun juga. Setelah menyelesaikan urusan di toilet, kami mengambil kamera. Mencoba-coba mengabadikan jutaan bintang, pondok rasta setua tenda sendiri dan tetangga.

Kami mencoba berbagai angle dengan latar belakang bintang. Setelah 1,5 jam, kantuk menyerang. Dingin juga kembali menggigit.

Menilik hasil fotonya, sepertinya aku perlu ikut kelas khusus untuk memotret bintang.

Menuju Pos 1, Pos Sunarya

Tahu-tahu langit sudah terang saat kubuka mata. Emon dan Ale juga telah mengaduk-aduk kantung snack dan meneguk teh dan susu hangat.

Emon malah sudah mulai untuk membuat bekal makan siang. Sushi. Juga, menu untuk sarapan, farfalle jamur.

Aku pun bangun, ikut meneguk teh hangat dan menghabiskan kerupuk ikan. Sepotong sushi kuambil, kumasukkan ke dalam mulut.

Untuk menghemat waktu, aku segera berkemas, berganti pakaian lapangan, menggulung pakaian tidur, dan melipat sleeping bag.

Ale juga mulai berkemas. Rencananya, kami start jalan pukul 09.00. Berkaca waktu tempuh saat dari Pos 1 menuju Pos 7 kemarin lusa, kami menghabiskan waktu 11 jam.

Dean bangun paling akhir. Dia telat lagi.

Dengan jalur menurun sejak Pos 7 hingga Pos 4 dilanjutkan landai hingga Pos 1, kami memperkirakan bisa memotong waktu tempuh sekitar 4 jam alias bisa mencapai basecamp Bu Soeta sekitar pukul 16.00.

Pondok Rasta di Pos 7

Setelah sarapan, kami mulai packing. Soal yang satu ini bukan perkara mudah saat kondisi badan disergap lelah. Tenda kami bagi dua, frame bersamaku dan pasangannya ada di Ale. Ale juga membopong sampah milik tim.

Ku tengok arloji, sekitar pukul 09.00 kami beres berkemas. AKu membayangkan sudah selonjor di rumah Bu Soeto sembari mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen nanti malam.

Tapi ternyata aku kena tipu arlojiku sendiri. Jarumnya tak berdetak alias mati. Rupanya, kami beres berkemas dan siap jalan pukul 11.00 alias molor dua jam dari rencana.

Sekali lagi, kami harus berburu dengan waktu. Kami tak boleh kemalaman, untuk mencapai Pos 1.

“Kalau sampai kemalaman, nanti ada tambahan biaya ojek,” kata Dean.

Kami berupaya sekuat tenaga untuk mencapai Pos 1. Tapi, ternyata kaki tak bisa dipaksa. Jalur dari Pos 7 sampai pos 4 sebagian besar turunan curam. Rute ini sudah kami lewati, namun sebagian tak cukup jelas saat berangkat karena sempat berjalan malam.

Lumayan, kami masih memiliki ransum spesial. Empat buah mangga dan sushi.

Sedikit masalah juga menghambat perjalanan kami, tepatnya dari Pos 7 hingga cemara kembar. Kantong sampah yang dibopong Ale mengganggu perjalanan. Sampai-sampai kami membongkar tas Ale dan mengambil sebagian kecil packingannya. Kami memutsukan agar sampah masuk dalam carrier.

Setelah beres, angan-angan kami sudah bermain-main di Pos 4. Kami rindu jalur landai.

Sampai di Pos 4, kami rayakan dengan memotong mangga. Tapi ternyata jalur landai nan panjang itu juga menguji mental kami. Kami harus melawan rasa bosan. Juga petak-petak semen yang menghantam telapak kaki kami yang mulai malas diajak berjalan. Alas sepatupun rasanya mengeras dan tak nyaman.

Sementara itu, matahari mulai merangkak ke barat. Sedikit kelegaan saat kami mencapai padang ilalang yang artinya Pondok Seng, satu perhentian sebelum Pos 1 tak terlalu jauh.

Dean juga telah mengontak ojek untuk mwmberikan ancar-ancar waktu penjemputan. Kami senang, Ada harapan POS 1 sudah dekat.

Tapi ternyata, dengan sisa tenaga Dan telapak kaki yang sudah Kian panas, perjalanan landai Dan seharusnya tak panjang-panjang amat itu menjadi unjian. Berat Ferguson.

Sekitar 45 menit sejak berjalan dari Pondok Seng, akhirnya tercapai juga POS 1. Malam sudah menyapa. Lima ojek sudah menanti rombongan kami.

Kami menyapa pemilik rumah lagi. Kali ini, kami bisa berjumpa dengan Pak Sunarya. Kami juga ngobrol sebentar dengan Bu Sunarya. Meneguk kopi setempat, juga nglarisi T-shirt Dan kopi bubuk. Lumayan malah dikasih bonus dua batang kayu manis.

Pak Sunarya pemilik rumah Pos 1

Setelah cukup berbincang-bincang dengan pak dan bu Sunarya, kami pamit. Wusssss, menuju Basecamp Bu Soeto.

Kali ini, kami sudah siap mental melewati off-road di atas boncengan motor. Tapi justru kami dibuat terkejut dengan kisah, di antaranya cerita mistis, dari pak ojek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s