Menjejak Titik Tertinggi Gunung Raung: Puncak Sejati 3344 Mdpl

Sesuai rencana, kami bertiga, Ale, Ria Emon, dan aku, bangun pukul 03.00 WIB. Kami berniat menuju titik tertinggi Gunung Raung di Puncak Sejati 3344 mdpl hari ini.

Setelah bangun tidur, kami menyiapkan perbekalan menuju puncak. Air minum, cemilan, dan yang spesial, cupcake, kami bungkus. Juga helm, harnes, dan webing yang bakal digunakan untuk harness nantinya, serta figure of eight, dan prusik juga P3K.

Sarapan kali ini, bubur kacang hijau. Bonusnya, bubur disiapkan oleh guide kami, Dean. Apesnya, bubur gagal matang. Sebab, dia terlambat bangun sehingga enggak punya banyak waktu buat memasak.

Aktivitas camp ini itu baru usai pukul 05.30 WIB. Persiapan ini itu juga membutuhkan tambahan waktu. Kami pun start menuju puncak pukul 05.45 WIB.

Ini bukan keterlambatan pertama. Start dari base camp Bu Soeto di Desa terakhir kemarin pun terlambat. Dean telat bangun.

Baca Juga: Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung

Target pertama hari ini, hari kedua pendakian, Kamis (25/7/2019), dari Pos 7 alias Pondok Rasta, tempat kami bermalam, melakukan aktivitas camp, dan sarapan pagi ini menuju Pos 9 dalam tempo dua jam. Pos 9 menjadi titik start untuk menjejak empat puncak; Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati.

Jalur dari Pos 7 hingga Pos 9 masih berupa jalur tanah dengan hutan lebat, mirip perjalanan kemarin dari Pos 2 hingga Pos 7.

Kendati tinggal membawa bekal secukupnya, perjalanan kali ini cukup melelahkan. Sebab, jalur didominasi tanjakan. Bahkan, tanjakan itu sudah dimulai tepat di atas tenda kami.

Sekitar dua jam, kami tiba juga di Pos 9. Selain ngemil dan ngeteh, Dean meminta kami memasang harness, prusik, dan figure of eight, serta mengenakan helm. Jalur di depan mulai ekstrem kata dia.

Kami, yang pendaki amatir ini, lupa memakai harnes dari webing. So, Dean membuka kursus singkat di Pos 9 buat kami. Ya, kami mendapatkan harnes dari webing. Bukan harnes yang betul-betul harnes bermerk Petzl. Soal keamanan dan kenyamanan tak ada beddanya sih, hanya saja jika menggunakan harnes webing usahakan ikatan tak kendur di paha, karena harnes dipakai terus sampai puncak dan kembali ke Pos 9 atau Puncak Bendera saat turun nanti.

Dari Pos 9 ini, Puncak Bendera tak begitu jauh. Senang karena kami bisa mencapainya sesuai waktu yang ditargetkan.

Dari sinilah perjalanan ekstrem itu dimulai. Jalur pendakian berubah menjadi jalur setapak dan bebatuan, sudah tak ada lagi pohon yang menaungi.

Panas? Ya. Sebab, kami kesiangan.

Perlahan kami menyusuri jalur yang disebut sirathal mustaqim menuju puncak 17. Tidak seperti maknanya, sebagai jalan yang lebar, sirathal mustaqim itu justru jalur setapak berupa pasir dan kerikil, kiri kanan jurang. Jadi, justru paling aman berjalan satu demi satu saking sempitnya. Tapi, jika mengambil makna jalan yang mengantar kepada kebahagiaan (dunia dan akhirat) ke Puncak Sejati, itu lebih pas. Tapi, mendengar namanya saja sudah ngeri, bukan?

Sampai di hadapan Puncak 17, kami tak menapak titik tertingginya, namun melipir. Setelah melewati tepian Puncak 17, kami kembali berjalan di atas sirathal mustaqim. Kali ini, untuk menuju Puncak Sejati.

Jalur kali ini lurus, kemudian menurun untuk pindah punggungan. Kami membutuhkan bantuan webing di beberapa titik di sini, juga tali dan peralatan keamanan lainnya untuk menuruni jalur.

Setelah berada di dasar punggungan, kami beristirahat sejenak. Tak ada jalur setapak lagi di depan, namun berupa batuan besar. Sebagian rapuh, lainnya cukup kukuh untuk diinjak. Jalur berupa tanjakan, yang tampaknya tidak ada bonus sedikitpun.

Di area kami bersitirahat, tumbuh bunga edelweis. Belum banyak. Kami mengangankan suatu hari nanti, di lembah ini menjadi seperti Surka Kencana di Gunung Gede, tumbuh banyak edelweis.

Melihat arloji, sekitar pukul 10.30, kami sepakat untuk segera berjalan lagi.

“Ada enam atau tujuh bendera di depan sana yang bsia dijadikan patokan. Bisa lewat mana saja. Saat melangkah, pilih batu yang kukuh,” kata Dean.

Ale berjalan paling depan. Emon mengikuti. Aku paling belakang. Dean awalnya mengambil langkah paling belakang, namun kemudian bisa menyusul kami dan segera berada di deretan paling depan.

Perlahan kami mengejar bendera yang terpancang di antara batu-batu itu. Kami cuma bisa meringis kala batu ambrol saat dipijak. Artinya, kami kembali merosot.

Sebuah pemandangan menjanjikan sempat menggoda saat tiba di bendera ketiga.

“Tampaknya ada jalur landai di depan, bendera keempat dan kelima seperti berada pada ketinggian yang tak jauh berbeda,” aku bilang.

Emon yang berjalan tak jauh dari saya menyahut,”Tidak, itu hanya seolah-olah saja.”

Dan, Emon benar kali ini. Tanjakan jalur batu ini sama sekali tak berbonus, hingga mendekati puncak, hanya sekitar 3 meter.

“Ini dia Puncak Sejati. Ada prasasti di sini,” kata Dean.

Aku melihat arloji, puncak kami capai sekitar 1 jam perjalanan dari lembah tadi.

“Alhamdulillah,” aku mengucap syukur.

Emon sudah lebih dulu memeluk prasasti berbentuk kotak dengan tulisan mencolok Kalibaru dan Pataga dan bersujud.

Ale yang juga sudah lebih dulu sampai sudah duduk selonjor tak jauh dari prasasti berbentuk kotak dengan tulisan mencolok Kalibaru dan Pataga itu.

Ya, tanda puncak yang dibuat Pataga Surabaya, Mapala Universitas 17 Agustus Surabaya. Dari beberapa guide dan Ibu Sunarya menyebut merekalah yang membuka jalur pendakian hingga ke Puncak Sejati ini.

Selayaknya anak kecil mendapatkan mainan, kalau sekarang diebri HP mungkin ya, kami bungah. Segera kami merayakan dengan teh manis yang sudah kami siapkan. Pas jam makan siang, kami pun langsung membuka bekal sekaligus.

“Saatnya cupcake…,” kata Emon.

Emon langsung sibuk membuka bekal dan menyiapkan 12 cupcake untuk dihias. Aku, Ale, dan Dean memilih untuk mengambil foto di titik favorit pendaki lain.

Kami berpose di bibir kaldera dengan latar belakang gunung api kecil di tengahnya. Juga segera menyantap cupcake dan kembali meneguk teh hangat.

Kami menarik napas panjang-panjang, dalam-dalam di ketinggian ini. Berharap ada energi ekstra bersama O2 yang jauh dari polusi kendaraan bermotor yang jadi perseteruan saling mentololkan kubu satu dan lawannya.

Senang dan puas sudah tentu setelah menjejakkan kaki di sini. Tapi, jalur sempit, kerikil dan batu, naik dan turun, mau tidak mau memberikan satu lubang kecil dalam selebrasi kali ini.

“Jalur kembali sama dengan menuju ke sini. PP (pulang pergi) 10 jam),” kalimat Dean semalam terngiang di telinga.

Satu jam berada di puncak, kami mengemas perbekalan dan mengumpulkan tenaga lagi. Kami harus segera kembali ke Pos 7.

Baca Juga: Ritual Menandai Daerah Kekuasaan

Selain itu, kami masih memiliki satu puncak lagi untuk disinggahi: Puncak Tusuk Gigi. Puncak ini tak jauh dari Puncak Sejati. Tapi, tak seperti Puncak Sejati yang ini seperti stonehenge atau mengingatkan kepada barisan batu raksasa Gigi Hiu di Tanggamus, Lampung.

Berfoto sejenak, kami bergegas menapaki jalan batu ke lembah dan berpindah ke punggungan lain menuju Puncak 17 dan Puncak Bendera. Jalur-jalur menggunakan tali dan webing kembali kami lalui. Kami sih lagi-lagi terima beres, Dean telah menyiapkan ini itunya.

Kendati jalur yang dilalui sama, langkah kami lebih ringan ringan kini. Cupcake dalam gendongan sudah berkurang, juga karena keinginan kami mencapai Puncak Sejati sudah terpenuhi. Tuntas.

Sampai di Puncak Bendera, kami membuka bekal lagi, makan lagi, minum lagi sembari merenungkan separuh jalan yang baru saja kami rampungkan. Mencapai puncak. Pendakian ini akan disebut berhasil jika kami bisa mencapai basecamp lagi. Artinya, masih ada setengah jalan lagi yang harus kami tempuh. Ya, ini juga tentang jalan pulang.

Iklan

Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung

WhatsApp Image 2019-08-14 at 11.40.15 PM

Destinasi liburan sudah kami tetapkan. Mendaki Gunung Raung lewat Kalibaru di Banyuwangi. Lama pendakian tiga hari. Alasannya, hemat.

Awalnya, kami bertiga, saya, Ale dan Ria Emon, bersepakat untuk mendaki gunung lagi setelah menuntaskan pendakian Gunung Pangrango di Jawa Barat pada Juni 2019.

Tiga gunung menjadi alternatif; Gunung Rinjani, Gunung Semeru, atau Gunung Raung.

Dua gunung pertama sudah dituntaskan beberapa waktu lalu. Tapi, bukan itu yang menjadi alasanku untuk kukuh memilih pergi ke Gunung Raung.

Lanjutkan membaca “Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung”

Sepekan di Barcelona: Perjalanan 15 Jam Kemudian Dihantam Dingin di Markas Espanyol

d36cda0a-1bfe-4700-bede-601e4e870a92(1)
Dingin dan rintik hujan di RCDE Stadium

Setelah 15 jam penerbangan, markas Espanyol, stadion RCDE, menjadi jujugan. Cuaca dingin, hujan rintik, dan angan-angan; kapan klub terbaik di Indonesia memiliki stadion modern laiknya Cornella-el-Prat ini?

Lanjutkan membaca “Sepekan di Barcelona: Perjalanan 15 Jam Kemudian Dihantam Dingin di Markas Espanyol”

Sepekan di Barcelona: Terpesona Mahakarya Antoni Gaudi

sagrada familia(1)
Sagrada Familia, salah satu mahakarya Antoni Gaudi

Bagi penggemar sepakbola, Camp Nou dan nonton aksi Lionel Messi menjadi destinasi mandatori saat melancong ke Barcelona. Tapi, saya juga terpikat bangunan artistik mahakarya Antonio Gaudi.

Lanjutkan membaca “Sepekan di Barcelona: Terpesona Mahakarya Antoni Gaudi”

Melongok Renovasi Stadion Utama GBK di Senayan Usai Hujan

GBK hasan 899
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sehabis hujan pada September 2017 (Foto: hasan Al Habsyi)

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bakal bernuansa Merah Putih setelah direnovasi. Wajah asli stadion yang diresmikan 1962 itu tak akan berubah.

Saya berkesempatan untuk melihat proses renovasi Stadion Utama GBK, Kami (29/9/2017). Diperlukan izin ke Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) untuk bisa masuk ke area GBK. Selama renovasi untuk Asian Games 2018, area GBK memang ditutup untuk umum.

Lanjutkan membaca “Melongok Renovasi Stadion Utama GBK di Senayan Usai Hujan”

Belajar Bikin ‘Klepon’ di Singapura

IMG_7543
Ondeh-ondeh, jajanan khas peranakan yang pas dinikmati saat kumpul keluarga (Femi Diah)
Ini masih dalam rentetan Food Festival Singapore. Ikut The Heritage Food Trail di kawasan peranakan Joo Chiat Road, Katong. Ada bagian belajar membuat ondeh-ondeh yang ternyata mirip klepon. Seperti apa?

Usai makan besar ala peranakan dengan makan di tok panjang, kami diajak untuk membuat ondeh-ondeh. Peserta senang dan penasaran.

Kami berkumpul di dapur. Ondeh-ondeh ini jajan pasar. Yang ternyata di akhir acara kami kami berkesimpulan kalau jajanan ini mirip dengan klepon.

Lanjutkan membaca “Belajar Bikin ‘Klepon’ di Singapura”

Singapore Food Festival: Mencicipi Kuliner Peranakan di Joo Chiat Road

IMG_7507.JPG
Mencicipi tiga menu khas peranakan di atas meja tok panjang
International Champions Cup (ICC) dihelat bersamaan dengan Singapore Food Festival. Saya turut dalam the heritage food trail di Joo Chiat Road, Katong untuk mencicipi makanan khas peranakan.

ICC Singapura sudah ditutup pada Sabtu (29/7/2017). Inter Milan menjadi tim tersukses dengan dua kali kemenangan di National Stadium. Nerazzurri menang atas Bayern Munich kemudian berhasil mengalahkan Chelsea.

Setelah menikmati pertandingan-pertandingan atau sembari menunggu jeda satu pertandingan ke pertandingan lainnya dalam turnamen segitiga itu, pelancong bisa menjajal sensasi makanan peranakan di China Town.

Lanjutkan membaca “Singapore Food Festival: Mencicipi Kuliner Peranakan di Joo Chiat Road”

Singgah di Kuil Relik Gigi Buddha dan Lonceng Harapan di Singapura

IMG_7306
Kuil Relik Gigi Buddha di Singapura

Laga antara Chelsea dengan Inter Milan pada International Champions Club (ICC) bergulir Sabtu malam (29/7/2017). Sambil menunggu pertandingan bergulir, mampir kuil Buddha Tooth Relic dan sebuah kuil yang memiliki lonceng harapan.

Kuil Relik Gigi Buddha mencolok di antara bangunan yang ada di China Town. Bangunannya berukuran besar sampai tiga lantai dengan jalinan kayu yang didominasi warna merah.

Bangunan tetap mentereng meski bersaing dengan apartemen sebagai tempat tinggal penduduk Singapura. Apalagi, langit sangat biru waktu itu.

Lanjutkan membaca “Singgah di Kuil Relik Gigi Buddha dan Lonceng Harapan di Singapura”