Pendakian Raung: Setengah Perjalanan Lagi Menuju Pulang

Ngecamp. Kami menginap dua malam di POS 7 atau Samudra Awan

Puncak Sejati, Tusuk Gigi, 17, dan Puncak Bendera sudah tercapai, Kini saatnya kami berjalan pulang. Rute yang sama, separuh jalan.

Matahari masih menyengat sungguh saat kami tiba di Puncak Bendera. Padahal, jarum jam bilang petang mulai datang. Perut juga terasa lapar. Haus, tak perlu ditanya. Andai tak berhitung kebutuhan tim, ingin ku teguk sebanyak-banyaknya air termos dan botol minum ini.

Tapi, perjalanan pulang masih cukup jauh. Kami harus mencapai Pos 9 lebih dulu, kemudian menuju Pos 8. Mengingat tanjakan tadi pagi menuju dua pos itu, artinya kami akan meneguk banyak bonus, jalur turunan, menuju Pondok Rasta alias Pos 7.

Jadi, mau tidak mau harus hemat air minum. Satu bekal lain yang kami bawa turun, sebuah janji,”Sunset di Pos 7 sangat bagus dengan samudra awannya,” kata Dean.

Setelah waktu istirahat habis, kami memutuskan untuk melepas harnes dan helm. Juga menyimpan figure of eight dan prusik.

Agar tak telat sampai di Pos 7, untuk menyaksikan sunset, kami berusaha untuk berjalan lebih cepat. Sempat berencana beristirahat di Pos 9, namun akhirnya kami batalkan. Ngaso di Pos 8 juga tak berlama-lama. Kami betul-betul berkejaran dengan waktu. Kami harus sampai di Pondok Rasta sebelum pukul 17.00.

Kendati sudah tak banyak tanjakan, rupanya jalur kembali ke Pos 7 bukanlah pekerjaan ringan. Selain berlomba dengan waktu, kami juga harus menepikan rasa bosan, meskipun sejak awal sudah diinformasikan perjalanan dari Pos 7 hingga ke puncak dan kembali lagi ke Pondok Rasta biasanya membutuhkan waktu 10 jam.

Barisan para porter. Berjumpa porter, mereka naik, kami turun

Perasaan bungah muncul saat dari satu titik kami bisa melihat tenda kuning milik kami di Pos 7. Kami juga bisa menyaksikan iring-iringan awan tepat di depan tenda kami. Matahari masih menyala meski tak lagi galak seperti saat di puncak tadi, namun kami menyadari dia tak akan berlama-lama memamerkan kuningnya.

Tak buang waktu, setelah memeluk tenda, kami mengambil tripod dan selonjor menatap ke barat. Semeru tampak jauh di sana seolah menjadi sarang matahari setelah tenggelam nanti. Dengan gulungan awan putih di depan mata kami, rasanya mudah saja menyeberang ke Semeru di sana.

Baru duduk sebentar, dingin merambati tangan, telinga, dan kepala. Lama-lama kian menjerat badan. Tapi, gulungan awan dan matahari terbenam di seberang sana tak menggoyahkan kami untuk berpindah.

“Kapan lagi bisa menikmati yang semacam ini,” ujar Emon.

Dean yang sudah lebih dulu masuk tenda, berinisiatif membuat minuman hangat. Dia menawarkan teh dan kopi. Tawaran yang tak bisa ditolak.

Kami pun bergegas masuk tenda. Kami harus bersegera memasak, karena lapar sungguh. Kami sudah tak sabar untuk menyantap sop ayam yang ada dalam menu malam kedua di Pos 7 ini. Sebelum menu siap, kami menyantap cemilan yang ada. Kerupuk ikan, keripik suku, kacang cukro, dan lain-lain.

Setelah tuntas makan malam dan berbincang, kami memilih tidur. Aku dan Ale yang tumbang duluan. Emon dan Dean melanjutkan entah ngobrol soal apaan.

Memotret Bintang

Masih di Pos 71

Pukul 03.00, Emon udah berisik. Dia kebelet pipis. Dia minta ditemani. Tapi, juga mengajak kami untuk memotret bintang dan tenda saat malam hari.

Sempat malas, tapi aku bangun juga. Setelah menyelesaikan urusan di toilet, kami mengambil kamera. Mencoba-coba mengabadikan jutaan bintang, pondok rasta setua tenda sendiri dan tetangga.

Kami mencoba berbagai angle dengan latar belakang bintang. Setelah 1,5 jam, kantuk menyerang. Dingin juga kembali menggigit.

Menilik hasil fotonya, sepertinya aku perlu ikut kelas khusus untuk memotret bintang.

Menuju Pos 1, Pos Sunarya

Tahu-tahu langit sudah terang saat kubuka mata. Emon dan Ale juga telah mengaduk-aduk kantung snack dan meneguk teh dan susu hangat.

Emon malah sudah mulai untuk membuat bekal makan siang. Sushi. Juga, menu untuk sarapan, farfalle jamur.

Aku pun bangun, ikut meneguk teh hangat dan menghabiskan kerupuk ikan. Sepotong sushi kuambil, kumasukkan ke dalam mulut.

Untuk menghemat waktu, aku segera berkemas, berganti pakaian lapangan, menggulung pakaian tidur, dan melipat sleeping bag.

Ale juga mulai berkemas. Rencananya, kami start jalan pukul 09.00. Berkaca waktu tempuh saat dari Pos 1 menuju Pos 7 kemarin lusa, kami menghabiskan waktu 11 jam.

Dean bangun paling akhir. Dia telat lagi.

Dengan jalur menurun sejak Pos 7 hingga Pos 4 dilanjutkan landai hingga Pos 1, kami memperkirakan bisa memotong waktu tempuh sekitar 4 jam alias bisa mencapai basecamp Bu Soeta sekitar pukul 16.00.

Pondok Rasta di Pos 7

Setelah sarapan, kami mulai packing. Soal yang satu ini bukan perkara mudah saat kondisi badan disergap lelah. Tenda kami bagi dua, frame bersamaku dan pasangannya ada di Ale. Ale juga membopong sampah milik tim.

Ku tengok arloji, sekitar pukul 09.00 kami beres berkemas. AKu membayangkan sudah selonjor di rumah Bu Soeto sembari mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen nanti malam.

Tapi ternyata aku kena tipu arlojiku sendiri. Jarumnya tak berdetak alias mati. Rupanya, kami beres berkemas dan siap jalan pukul 11.00 alias molor dua jam dari rencana.

Sekali lagi, kami harus berburu dengan waktu. Kami tak boleh kemalaman, untuk mencapai Pos 1.

“Kalau sampai kemalaman, nanti ada tambahan biaya ojek,” kata Dean.

Kami berupaya sekuat tenaga untuk mencapai Pos 1. Tapi, ternyata kaki tak bisa dipaksa. Jalur dari Pos 7 sampai pos 4 sebagian besar turunan curam. Rute ini sudah kami lewati, namun sebagian tak cukup jelas saat berangkat karena sempat berjalan malam.

Lumayan, kami masih memiliki ransum spesial. Empat buah mangga dan sushi.

Sedikit masalah juga menghambat perjalanan kami, tepatnya dari Pos 7 hingga cemara kembar. Kantong sampah yang dibopong Ale mengganggu perjalanan. Sampai-sampai kami membongkar tas Ale dan mengambil sebagian kecil packingannya. Kami memutsukan agar sampah masuk dalam carrier.

Setelah beres, angan-angan kami sudah bermain-main di Pos 4. Kami rindu jalur landai.

Sampai di Pos 4, kami rayakan dengan memotong mangga. Tapi ternyata jalur landai nan panjang itu juga menguji mental kami. Kami harus melawan rasa bosan. Juga petak-petak semen yang menghantam telapak kaki kami yang mulai malas diajak berjalan. Alas sepatupun rasanya mengeras dan tak nyaman.

Sementara itu, matahari mulai merangkak ke barat. Sedikit kelegaan saat kami mencapai padang ilalang yang artinya Pondok Seng, satu perhentian sebelum Pos 1 tak terlalu jauh.

Dean juga telah mengontak ojek untuk mwmberikan ancar-ancar waktu penjemputan. Kami senang, Ada harapan POS 1 sudah dekat.

Tapi ternyata, dengan sisa tenaga Dan telapak kaki yang sudah Kian panas, perjalanan landai Dan seharusnya tak panjang-panjang amat itu menjadi unjian. Berat Ferguson.

Sekitar 45 menit sejak berjalan dari Pondok Seng, akhirnya tercapai juga POS 1. Malam sudah menyapa. Lima ojek sudah menanti rombongan kami.

Kami menyapa pemilik rumah lagi. Kali ini, kami bisa berjumpa dengan Pak Sunarya. Kami juga ngobrol sebentar dengan Bu Sunarya. Meneguk kopi setempat, juga nglarisi T-shirt Dan kopi bubuk. Lumayan malah dikasih bonus dua batang kayu manis.

Pak Sunarya pemilik rumah Pos 1

Setelah cukup berbincang-bincang dengan pak dan bu Sunarya, kami pamit. Wusssss, menuju Basecamp Bu Soeto.

Kali ini, kami sudah siap mental melewati off-road di atas boncengan motor. Tapi justru kami dibuat terkejut dengan kisah, di antaranya cerita mistis, dari pak ojek.

Iklan

Batal Jajan Roast Duck, Diganti Ice Cream Matcha-Jasmine di Wangfujing

Sedap… ice cream milik Wuyutai Tea Shop

Rencana menutup sore di Beijing dengan menyantap roast duck di kawasan belanja Wangfujiang pupus. Gantinya, ice cream matcha di Wuyutai Tea Shop.

Quanjude Roas Duck. Itu tujuan kami pada Kamis (12/9/2019), tepat setelah menjelajah Forbidden Palace. Dua tempat itu masih berada di satu lokasi, sama-sama Dongcheng. Jaraknya, paling 1,5 km dengan jalur landai.

Beberapa restiran roast duck kami lewati begitu saja. Pokoknya kami harus menjajal Quanjude Roas Duck.

Sampai di lokasi, ngeper juga saat melihat restoran terlihat fancy. Pengunjung juga berpakaian rapi, bukan celana pendek dan kaus oblong seperti kami.

Melihat situasi itu, Yus Mei Sawitri, rekan seperjalanan saya, berinisiatif mengecek harga makanan di restoran tersebut. Khususnya, bebek panggangnya.

Eng ing eng harga seporsi Rp 600 ribu. Pupus sudah harapan mengingat kantong tipis. ⁣

Bodohnya, kami menentukan rencana tanpa mengecek harga lebih dulu lewat sejuta blog dan situs referensi yang melayang-layang di safari, google dan kompetitornya. Tepat di depan resto…

Tak berpikir lama, kami balik kanan.

Mahal. Tak sedikit traveler mengulas harga makanan di Quajude Roast Duck terlalu mahal.

“Kita cari roast duck yang harganya lebih masuk akal saja,” kata saya. Yus Mei sepakat.

“Tapi, kita membutuhkan minuman segar lebih dulu. Kopi atau teh,” kata saya. Sekali lagi, Yus Mei ikut.

Hanya berjarak 200 meter, kami menemukan kedai teh Wuyutai. Kedai teh ini juga banyak dibahas di situs traveling, blog, dan Instagram. Kami juga telah mencatat sebagai salah satu jujugan, namun di hari itu kami tak menyadarinya.

“Kita mampir saja di sini. Beli teh yang ada lemon-lemonnya,” ujar saya. Yus Mei bilang oke.

Saya memilih jasmine tea lemon, Yus Mei rose tea fruit. Di-take away.

Usai membayar, kami mendapatkan segelas jumbo es teh dengan harga 18 yuan, tinggal dikali 2.000 untuk harga rupiahnya.

Kemudian kami duduk-duduk di bangku yang membelah jalanan berpaving block sepanjanga rea belanja Wangfujiang ini. Kami baru menyadari, ada antrean panjang di salah satu sisi Wuyutai Tea Shop itu.

Setelah mencari tahu, ternyata mereka mengantre ice cream. Tanpa pikir panjang kami turut menambah barisan antrean itu.

Sekitar 10 menit, kami sampai di depan loket pembelian.

“Jasmine or matcha?”

“Jasmine one, matcha one.”

⁣Aku memilih matcha, Yus Mei melati.

“Matcha terlalu pahit di lidah,” kata Yus Mei.

Dari serpuputan pertama, kami langsung memahami alasan antrean panjang tadi. Sempurna!

“Ini kunyahan terbaik selama di Beijing,” kata saya. Yus Mei memiliki pendapat senada.

Harganya juga bersahabat. Satu ice cream dibanderol 9 yuan alias Rp 18.000.

“Andai dekat penginapan, kita beli tiap hari,” ujar Yus Mei. Kali ini saya setuju dan mengangguk.

Wuyutai Tea Shop, kedai teh di kawasan belanja Wangfujiang

Kami tertawa bersama. Mengejek kegagalan merasakan Quanjude Roast Duck dan kantong kami, tapi sekaligus senang menemukan ice cream terbaik di dalam kolam kekecewaan.

Wuyutai Tea Shop
Alamat: 186 Wangfujing St, Dong Dan, Dongcheng Qu, Beijing Shi, China

Menjejak Titik Tertinggi Gunung Raung: Puncak Sejati 3344 Mdpl

Puncak Sejati Gunung Raung di Banyuwangi, Jawa Timur

Sesuai rencana, kami bertiga, Ale, Ria Emon, dan aku, bangun pukul 03.00 WIB. Kami berniat menuju titik tertinggi Gunung Raung di Puncak Sejati 3344 mdpl hari ini.

Setelah bangun tidur, kami menyiapkan perbekalan menuju puncak. Air minum, cemilan, dan yang spesial, cupcake, kami bungkus. Juga helm, harnes, dan webing yang bakal digunakan untuk harness nantinya, serta figure of eight, dan prusik juga P3K.

Sarapan kali ini, bubur kacang hijau. Bonusnya, bubur disiapkan oleh guide kami, Dean. Apesnya, bubur gagal matang. Sebab, dia terlambat bangun sehingga enggak punya banyak waktu buat memasak.

Aktivitas camp ini itu baru usai pukul 05.30 WIB. Persiapan ini itu juga membutuhkan tambahan waktu. Kami pun start menuju puncak pukul 05.45 WIB.

Ini bukan keterlambatan pertama. Start dari base camp Bu Soeto di Desa terakhir kemarin pun terlambat. Dean telat bangun.

Baca Juga: Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung

Target pertama hari ini, hari kedua pendakian, Kamis (25/7/2019), dari Pos 7 alias Pondok Rasta, tempat kami bermalam, melakukan aktivitas camp, dan sarapan pagi ini menuju Pos 9 dalam tempo dua jam. Pos 9 menjadi titik start untuk menjejak empat puncak; Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati.

Jalur dari Pos 7 hingga Pos 9 masih berupa jalur tanah dengan hutan lebat, mirip perjalanan kemarin dari Pos 2 hingga Pos 7.

Kendati tinggal membawa bekal secukupnya, perjalanan kali ini cukup melelahkan. Sebab, jalur didominasi tanjakan. Bahkan, tanjakan itu sudah dimulai tepat di atas tenda kami.

Sekitar dua jam, kami tiba juga di Pos 9. Selain ngemil dan ngeteh, Dean meminta kami memasang harness, prusik, dan figure of eight, serta mengenakan helm. Jalur di depan mulai ekstrem kata dia.

Kami, yang pendaki amatir ini, lupa memakai harnes dari webing. So, Dean membuka kursus singkat di Pos 9 buat kami. Ya, kami mendapatkan harnes dari webing. Bukan harnes yang betul-betul harnes bermerk Petzl. Soal keamanan dan kenyamanan tak ada beddanya sih, hanya saja jika menggunakan harnes webing usahakan ikatan tak kendur di paha, karena harnes dipakai terus sampai puncak dan kembali ke Pos 9 atau Puncak Bendera saat turun nanti.

Dari Pos 9 ini, Puncak Bendera tak begitu jauh. Senang karena kami bisa mencapainya sesuai waktu yang ditargetkan.

Dari sinilah perjalanan ekstrem itu dimulai. Jalur pendakian berubah menjadi jalur setapak dan bebatuan, sudah tak ada lagi pohon yang menaungi.

Panas? Ya. Sebab, kami kesiangan.

Perlahan kami menyusuri jalur yang disebut sirathal mustaqim menuju puncak 17. Tidak seperti maknanya, sebagai jalan yang lebar, sirathal mustaqim itu justru jalur setapak berupa pasir dan kerikil, kiri kanan jurang. Jadi, justru paling aman berjalan satu demi satu saking sempitnya. Tapi, jika mengambil makna jalan yang mengantar kepada kebahagiaan (dunia dan akhirat) ke Puncak Sejati, itu lebih pas. Tapi, mendengar namanya saja sudah ngeri, bukan?

Sampai di hadapan Puncak 17, kami tak menapak titik tertingginya, namun melipir. Setelah melewati tepian Puncak 17, kami kembali berjalan di atas sirathal mustaqim. Kali ini, untuk menuju Puncak Sejati.

Jalur kali ini lurus, kemudian menurun untuk pindah punggungan. Kami membutuhkan bantuan webing di beberapa titik di sini, juga tali dan peralatan keamanan lainnya untuk menuruni jalur.

Setelah berada di dasar punggungan, kami beristirahat sejenak. Tak ada jalur setapak lagi di depan, namun berupa batuan besar. Sebagian rapuh, lainnya cukup kukuh untuk diinjak. Jalur berupa tanjakan, yang tampaknya tidak ada bonus sedikitpun.

Di area kami bersitirahat, tumbuh bunga edelweis. Belum banyak. Kami mengangankan suatu hari nanti, di lembah ini menjadi seperti Surka Kencana di Gunung Gede, tumbuh banyak edelweis.

Melihat arloji, sekitar pukul 10.30, kami sepakat untuk segera berjalan lagi.

“Ada enam atau tujuh bendera di depan sana yang bsia dijadikan patokan. Bisa lewat mana saja. Saat melangkah, pilih batu yang kukuh,” kata Dean.

Ale berjalan paling depan. Emon mengikuti. Aku paling belakang. Dean awalnya mengambil langkah paling belakang, namun kemudian bisa menyusul kami dan segera berada di deretan paling depan.

Perlahan kami mengejar bendera yang terpancang di antara batu-batu itu. Kami cuma bisa meringis kala batu ambrol saat dipijak. Artinya, kami kembali merosot.

Sebuah pemandangan menjanjikan sempat menggoda saat tiba di bendera ketiga.

“Tampaknya ada jalur landai di depan, bendera keempat dan kelima seperti berada pada ketinggian yang tak jauh berbeda,” aku bilang.

Emon yang berjalan tak jauh dari saya menyahut,”Tidak, itu hanya seolah-olah saja.”

Dan, Emon benar kali ini. Tanjakan jalur batu ini sama sekali tak berbonus, hingga mendekati puncak, hanya sekitar 3 meter.

“Ini dia Puncak Sejati. Ada prasasti di sini,” kata Dean.

Aku melihat arloji, puncak kami capai sekitar 1 jam perjalanan dari lembah tadi.

“Alhamdulillah,” aku mengucap syukur.

Emon sudah lebih dulu memeluk prasasti berbentuk kotak dengan tulisan mencolok Kalibaru dan Pataga dan bersujud.

Ale yang juga sudah lebih dulu sampai sudah duduk selonjor tak jauh dari prasasti berbentuk kotak dengan tulisan mencolok Kalibaru dan Pataga itu.

Ya, tanda puncak yang dibuat Pataga Surabaya, Mapala Universitas 17 Agustus Surabaya. Dari beberapa guide dan Ibu Sunarya menyebut merekalah yang membuka jalur pendakian hingga ke Puncak Sejati ini.

Selayaknya anak kecil mendapatkan mainan, kalau sekarang diebri HP mungkin ya, kami bungah. Segera kami merayakan dengan teh manis yang sudah kami siapkan. Pas jam makan siang, kami pun langsung membuka bekal sekaligus.

“Saatnya cupcake…,” kata Emon.

Emon langsung sibuk membuka bekal dan menyiapkan 12 cupcake untuk dihias. Aku, Ale, dan Dean memilih untuk mengambil foto di titik favorit pendaki lain.

Kami berpose di bibir kaldera dengan latar belakang gunung api kecil di tengahnya. Juga segera menyantap cupcake dan kembali meneguk teh hangat.

Kami menarik napas panjang-panjang, dalam-dalam di ketinggian ini. Berharap ada energi ekstra bersama O2 yang jauh dari polusi kendaraan bermotor yang jadi perseteruan saling mentololkan kubu satu dan lawannya.

Senang dan puas sudah tentu setelah menjejakkan kaki di sini. Tapi, jalur sempit, kerikil dan batu, naik dan turun, mau tidak mau memberikan satu lubang kecil dalam selebrasi kali ini.

“Jalur kembali sama dengan menuju ke sini. PP (pulang pergi) 10 jam),” kalimat Dean semalam terngiang di telinga.

Satu jam berada di puncak, kami mengemas perbekalan dan mengumpulkan tenaga lagi. Kami harus segera kembali ke Pos 7.

Baca Juga: Ritual Menandai Daerah Kekuasaan

Selain itu, kami masih memiliki satu puncak lagi untuk disinggahi: Puncak Tusuk Gigi. Puncak ini tak jauh dari Puncak Sejati. Tapi, tak seperti Puncak Sejati yang ini seperti stonehenge atau mengingatkan kepada barisan batu raksasa Gigi Hiu di Tanggamus, Lampung.

Berfoto sejenak, kami bergegas menapaki jalan batu ke lembah dan berpindah ke punggungan lain menuju Puncak 17 dan Puncak Bendera. Jalur-jalur menggunakan tali dan webing kembali kami lalui. Kami sih lagi-lagi terima beres, Dean telah menyiapkan ini itunya.

Kendati jalur yang dilalui sama, langkah kami lebih ringan ringan kini. Cupcake dalam gendongan sudah berkurang, juga karena keinginan kami mencapai Puncak Sejati sudah terpenuhi. Tuntas.

Sampai di Puncak Bendera, kami membuka bekal lagi, makan lagi, minum lagi sembari merenungkan separuh jalan yang baru saja kami rampungkan. Mencapai puncak. Pendakian ini akan disebut berhasil jika kami bisa mencapai basecamp lagi. Artinya, masih ada setengah jalan lagi yang harus kami tempuh. Ya, ini juga tentang jalan pulang.

Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung

WhatsApp Image 2019-08-14 at 11.40.15 PM

Destinasi liburan sudah kami tetapkan. Mendaki Gunung Raung lewat Kalibaru di Banyuwangi. Lama pendakian tiga hari. Alasannya, hemat.

Awalnya, kami bertiga, saya, Ale dan Ria Emon, bersepakat untuk mendaki gunung lagi setelah menuntaskan pendakian Gunung Pangrango di Jawa Barat pada Juni 2019.

Tiga gunung menjadi alternatif; Gunung Rinjani, Gunung Semeru, atau Gunung Raung.

Dua gunung pertama sudah dituntaskan beberapa waktu lalu. Tapi, bukan itu yang menjadi alasanku untuk kukuh memilih pergi ke Gunung Raung.

Lanjutkan membaca “Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung”

Sepekan di Barcelona: Perjalanan 15 Jam Kemudian Dihantam Dingin di Markas Espanyol

d36cda0a-1bfe-4700-bede-601e4e870a92(1)
Dingin dan rintik hujan di RCDE Stadium

Setelah 15 jam penerbangan, markas Espanyol, stadion RCDE, menjadi jujugan. Cuaca dingin, hujan rintik, dan angan-angan; kapan klub terbaik di Indonesia memiliki stadion modern laiknya Cornella-el-Prat ini?

Lanjutkan membaca “Sepekan di Barcelona: Perjalanan 15 Jam Kemudian Dihantam Dingin di Markas Espanyol”

Sepekan di Barcelona: Terpesona Mahakarya Antoni Gaudi

sagrada familia(1)
Sagrada Familia, salah satu mahakarya Antoni Gaudi

Bagi penggemar sepakbola, Camp Nou dan nonton aksi Lionel Messi menjadi destinasi mandatori saat melancong ke Barcelona. Tapi, saya juga terpikat bangunan artistik mahakarya Antonio Gaudi.

Lanjutkan membaca “Sepekan di Barcelona: Terpesona Mahakarya Antoni Gaudi”

Melongok Renovasi Stadion Utama GBK di Senayan Usai Hujan

GBK hasan 899
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sehabis hujan pada September 2017 (Foto: hasan Al Habsyi)

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bakal bernuansa Merah Putih setelah direnovasi. Wajah asli stadion yang diresmikan 1962 itu tak akan berubah.

Saya berkesempatan untuk melihat proses renovasi Stadion Utama GBK, Kami (29/9/2017). Diperlukan izin ke Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) untuk bisa masuk ke area GBK. Selama renovasi untuk Asian Games 2018, area GBK memang ditutup untuk umum.

Lanjutkan membaca “Melongok Renovasi Stadion Utama GBK di Senayan Usai Hujan”

Belajar Bikin ‘Klepon’ di Singapura

IMG_7543
Ondeh-ondeh, jajanan khas peranakan yang pas dinikmati saat kumpul keluarga (Femi Diah)
Ini masih dalam rentetan Food Festival Singapore. Ikut The Heritage Food Trail di kawasan peranakan Joo Chiat Road, Katong. Ada bagian belajar membuat ondeh-ondeh yang ternyata mirip klepon. Seperti apa?

Usai makan besar ala peranakan dengan makan di tok panjang, kami diajak untuk membuat ondeh-ondeh. Peserta senang dan penasaran.

Kami berkumpul di dapur. Ondeh-ondeh ini jajan pasar. Yang ternyata di akhir acara kami kami berkesimpulan kalau jajanan ini mirip dengan klepon.

Lanjutkan membaca “Belajar Bikin ‘Klepon’ di Singapura”