Ke Banyuwangi Menuju Puncak Raung

WhatsApp Image 2019-08-14 at 11.40.15 PM

Destinasi liburan sudah kami tetapkan. Mendaki Gunung Raung lewat Kalibaru di Banyuwangi. Lama pendakian tiga hari. Alasannya, hemat.

Awalnya, kami bertiga, saya, Ale dan Ria Emon, bersepakat untuk mendaki gunung lagi setelah menuntaskan pendakian Gunung Pangrango di Jawa Barat pada Juni 2019.

Tiga gunung menjadi alternatif; Gunung Rinjani, Gunung Semeru, atau Gunung Raung.

Dua gunung pertama sudah dituntaskan beberapa waktu lalu. Tapi, bukan itu yang menjadi alasanku untuk kukuh memilih pergi ke Gunung Raung.

“Keburu tua,” aku bilang.

Bukan apa-apa, menilik beberapa sumber, pendakian Gunung Raung memiliki risiko tinggi. Selain harus melewati jalur yang cukup panjang, rute menuju Puncak Sejati di 3344 mdpl, sebagai puncak tertinggi, cukup ekstrem. Pendaki wajib mengenakan alat pengamanan seperti helm, harness, dan webing.

Ada yang bilang, kalau Semeru itu memiliki daya tarik karena merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, Argopuro memiliki jalur terpanjang maka Raung memiliki jalur paling ekstrim.

Menilik ketinggian, tinggi Gunung Raung masih kalah dari Gunung Semeru. Tapi ada sederet alasan laain kenapa kami harus menuju puncak gunung itu secepatnya. Gunung ini memiliki kaldera kering etrbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua setelah Gunung Tambora di NTB. Dasar kawah Gunung Raung kian istimewa dengan anakan yang kabarnya kerap mengeluarkan asap dan letusan kecil.

Gunung Raung itu berlokasi di kompleks Pegunungan Ijen. Nah, Gunungn Raung merupakan puncak tertinggi dari gugusan pegunungan tersebut.

Menurut beberapa sumber terdapat beberapa pilihan jalur untuk mendaki Gunung Raung. Yakni, jalur Kalibaru, Sumber Waringin, Glenmore, dan Jambewangi. Di antara empat jalur itu, cuma jalur Sumber Waringin yang ada di Kabupaten Bondowoso, lainnya dari Banyuwangi.

Nah, kami memilih jalur Kalibaru. Rute ini paling banyak muncul di mesin pencarian Google dan media sosial. 

“Rute ini populer baru-baru saja. Justru karena setelah ada pendaki yang tewas tahun lalu,” kata Jaya, salah satu guide profesional yang kami temui di basecamp Bu Suto setelah pendakian. 

Perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi diputuskan dengan menggunakan kereta. Sebelumnya, sempat membuka opsi naik pesawat, akhirnya kami memutuskan untuk menunjuk kereta sebagai pilihan moda. Alasannya, (lagi-lagi) hemat, meskipun kami menyadari konsekuensi pilihan ini. Risikonya, pantat panas duduk belasan jam.

WhatsApp Image 2019-07-22 at 2.33.04 PM

Selain itu, ada bonus untuk bisa menuntaskan rindu kepada Surabaya, tempat yang pernah kami (aku dan Emon) tinggali. Lumayan, melihat jarak kereta Kertajaya (Jakarta-Surabaya) seharga Rp 225.000, dan Probowangi 213 (Surabaya ke Banyuwangi) yang harga tiketnya Rp 56.000, kami memiliki cukup waktu untuk mencicipi kuliner dini hari di Kota Pahlawan. 

Menilik stasiun ketibaan di Surabaya dan keberangkatan ke Banyuwangi, kami harus pindah dari Stasiun Turi ke Stasiun Gubeng. Perjalanan dari Jakarta kami mulai dari Stasiun Pasar Senen pada Senin (22 Juli 2019) pukul 14.00 dan tiba di Stasiun Turi pukul 01.40 keesokan harinya.

Dari Gubeng itu kami memilih  turun di Stasiun Banyuwangi Baru. Kami menghabiskan waktu enam jam dengan kereta ekonomi (berangkat pukul 04.35 dan sampai di Banyuwangi pukul 10.24). Ini bukan stasiun terdekat dengan basecamp pendakian Gunung Raung, tapi kami memilihnya agar lebih dekat menuju taman Nasional Baluran.

Stasiun terdekat dengan basecamp pendakian Gunung Raung ada di Kalibaru dan menurut informasi bisa ditempuh dengan ojek Rp 30 ribu. Bahkan, travel dari Surabaya bersedia untuk mengantar hingga depan rumah basecamp yang dipilih.  

WhatsApp Image 2019-07-23 at 7.01.40 AM

Satu rekan perjalanan kami, Ale, yang berangkat dari Cilacap, Jawa Tengah, malah tak perlu transit untuk mencapai Banyuwangi. Harga tiket kereta ini Rp 300.000 dengan jam keberangkatan 14.10 dan akan tiba di Banyuwangi pukul 07.02 keesokan harinya.  

Detail-detail itu kami siapkan bersama rencana lain. Bagian ini, Emon yang paling banyak berkontribusi. Aku cuma menyampaikan usulan. Termasuk memilih naik kereta ketimbang pesawat, juga tentang destinasi lain saat di Banyuwangi.

Dengan berbagai pertimbangan, kami memilih menuju Banyuwangi, Jawa Timur yang memiliki tagline Sunrise of Java itu pada pekan ketiga Juli dengan singgah di Taman Nasional Baluran, Kawah ijen, dan D’Jawatan di Benculuk. Plus bonus kulineran saat transit di Surabaya.

Pemanasan di Gunung Ciremai

WhatsApp Image 2019-08-14 at 11.52.23 PM

Setelah destinasi ditentukan, kami ditunggu kewajiban berikutnya: mengasah fisik. Caranya, bebas.

Ale dan Emon bilang mereka memilih jogging di sekitar rumah. Saya, yang sulit bangun pagi, memutuskan untuk jalan kaki ke manapun sebisa mungkin.

La kok kebetulan di grup alumni sedang membahas pendakian Gunung Ciremai di Jawa Barat lewat jalur Apuy. Aku pikir, lumayan untuk pemanasan.

Tapi, justru naas, engkel kiri kecengklak. Beruntung, insiden itu terjadi mendekati Pos 1 saat turun. Sisa perjalanan tak begitu panjang.

Dengan tiga pekan waktu tersisa menuju pendakian Raung, kondisi itu menjadi tekanan tersendiri. Pertama, waktu untuk menyiapkan fisik terpangkas. Kedua, biaya ke Banyuwangi terpangkas untuk check up dan terapi. Apalagi, kaki kiri sempat bengkak lagi setelah hari ke-11 sejak jatuh.

Praktis selama dua pekan, persiapan cuka dilakukan dengan sekali berenang dan satu kali jalan kaki sejauh 4,5 km.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s