Sepekan di Barcelona: Perjalanan 15 Jam Kemudian Dihantam Dingin di Markas Espanyol

d36cda0a-1bfe-4700-bede-601e4e870a92(1)

Dingin dan rintik hujan di RCDE Stadium

Setelah 15 jam penerbangan, markas Espanyol, stadion RCDE, menjadi jujugan. Cuaca dingin, hujan rintik, dan angan-angan; kapan klub terbaik di Indonesia memiliki stadion modern laiknya Cornella-el-Prat ini?

Kali ini, saya terbang ke Barcelona. mampir di Singapura untuk berganti pesawat, kemudian bablas ke Zurich selama kurang lebih 12 jam. Hanya jeda satu jam, penerbangan dilanjutkan ke Bandara El Prat di Barcelona.

Sejak dari Singapura, saya terbang bersama-sama rombongan lain dari Indonesia. Tiga dari Malang, satu lainnya dari Medan. Mereka pemenang kontes BeINSport dan La Liga Experience.

Sesampainya di Barcelona sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Cuaca dingin mennggigit, setara di Cibodas kala dini hari.

Kami diantar ke hotel Aire, tak jauh dari Arc de Triomf, salah satu bangunan ikonik di Barcelona.

Hanya sempat beristirahat sejenak sembari menunggu pemenang dari Thailand, Singapura, dan Malaysia, kami bergegas ke markas Espanyol. Kami mendatangi Stadion RCDE sehari sebelum sebuah momen bersejarah tercatat di sana. Espanyol mengalahkan Real Madrid 1-0.

Kejutan, sebab Espanyol bukan tim raksasa di La Liga. Tim berjuluk burung parkit itu bahkan belum pernah sekalipun menjadi juara La Liga. Prestasi paling mentereng diukir Espanyol sebagai juara Copa del Rey pada 1929, 1940, 2000, 2006.

Bukan cuma hasil pertandingan itu yang bikin saya terpesona. Klub yang kini berusia 117 tahun, memiliki stadion yang bisa bikin mereka menepuk dada.

LRG-DSC00024

Sisi depan RCDE Stadium, markas Espanyol di Barcelona

Dari situs resmi Espanyol, saya mednapatkan informasi kalau stadion itu merupakan stadion modern bintang empat berkonsep hijau yang dibangun di atas tanah seluas 36 ribu meter persegi. Lokasinya memang di pinggiran Barcelona, di CornellĂ  de Llobregat.

RCDE Stadiun itu modern yang didesain agar fungsi, estetika, dan aspek ekonominya berjalan beriringan. Dibangun selama tujuh tahun, mulai 2003 sampai 2009, oleh Mark Fenwick dan Esteve Gasulla stadion itu meniru gaya stadion di Inggris. Pembangunan menghabiskan dana 75 juta euro atau setara dengan Rp 1,26 triliun.

Menariknya, stadion itu ramah lingkungan. Atap stadion memiliki panel tenaga surya yang bisa menjadi sumber listrik. Stadion RCDE itu juga sudah ramah difabel, dengan kursi tribune dan akses yang memudahkan penonton difabel.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan dengan elf, kami pun sampai di depan stadion RCDE. Kami disambut oleh Peter Kuranda, international project manager Espanyol, dan seorang pemain tim putri Espanyol asal Jepang, Ayaki Shinada.

Mereka sangat ramah. Saya bahkan tak menyangka kalau Peter salah satu pejabat di klub tersebut. Awalnya, saya pikir dia seorang guide yang memang bertugas mendampingi rombongan kami layaknya wisatawan yang datang ke RCDE.

IMG-4019

Mejeng dulu di depan RCDE Stadium sebelum Espanyol menjamu Real Madrid

Dari keterangan Peter, selain hal-hal menarik tadi, RCDE Stadium juga memiliki boks VIP. tak hanya untuk petinggi klub, namun mereka sudah sangat peduli dengan rekanan klub dengan menyediakan dining hall dan 36 boks untuk corporate.

Kami dibawa berkeliling hingga ruang ganti pemain memiliki fasilitas yang komplet. Shower yang berderet dalam satu ruangan, toilet di ruangan lain, dua bathtub dan jacuzzi ada di ruang es, juga dilengkapi ruang sauna.

LRG-DSC00073(1)

Belinda Boh, dari BeINSport

Di antara area itu, lapangan rumput memang paling menarik perhatian. Bahkan, suhu sekitar 9 derajat celcius dan rintik hujan tak menghalangi peserta untuk berasyik-asyik menatap lapangan dengan ukuran 105×68 meter dan tribun biru yang mengelilinginya.

“Kapan ya Indonesia punya stadion seperti ini? Jangan satu klub pindah-pindah homebase bahkan saat musim masih berjalan,” celetuk Agung Siregar, pemenang La Liga Experience dari Indonesia kepada detikSport yang juga berada di Barcelona.

LRG-DSC00075

Ini dia pemenang dari Medan, Agung dan bapaknya, Pak Parlin. Pak Parlin keren lho fasih bahasa Spanyol

Mereka pun tak henti-hentinya berfoto dan merekam momen menggembirakan itu. Di sisi lain, Agung yang berasal dari Medan membanding-bandingkan dengan Stadion Teladan, sedangkan Erwin yang dari Malang mengingat detail Stadion Gajayana dan Kanjuruhan.

Padahal dengan memiliki stadion yang terawat, klub menjadi punya sumber penghasilan lain. Tak hanya Espanyol, klub-klub La Liga lumrah memiliki tur stadion.

“Sangat biasa kok di sini. Seluruh tim La Liga membuka tur untuk publik karena bisa menjadi pemasukan bagi mereka,” kata Marta, perwakilan La Liga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s