Singapore Food Festival: Mencicipi Kuliner Peranakan di Joo Chiat Road

IMG_7507.JPG

Mencicipi tiga menu khas peranakan di atas meja tok panjang

International Champions Cup (ICC) dihelat bersamaan dengan Singapore Food Festival. Saya turut dalam the heritage food trail di Joo Chiat Road, Katong untuk mencicipi makanan khas peranakan.

ICC Singapura sudah ditutup pada Sabtu (29/7/2017). Inter Milan menjadi tim tersukses dengan dua kali kemenangan di National Stadium. Nerazzurri menang atas Bayern Munich kemudian berhasil mengalahkan Chelsea.

Setelah menikmati pertandingan-pertandingan atau sembari menunggu jeda satu pertandingan ke pertandingan lainnya dalam turnamen segitiga itu, pelancong bisa menjajal sensasi makanan peranakan di China Town.

Istimewanya jajanan ditawarkan dengan harga serba 50 sen atau setara dengan Rp 5 ribu. Saya bersama rombongan melewatkan momen ini.

Kami memilih menuju Katong.

Kami napak tilas kawasan peranakan Joo Chiat Road. Peranakan itu dimaknai keturunan percampuran China dengan bangsa lain. Dari perkawinan itu muncullah asimilasi budaya di antara keduanya. Termasuk kulinernya.

Joo Chiat Road ini bukan di area China Town, tapi di Katong. Lokasinya dekat dengan Kampung Gelam yang didominasi warga muslim Singapura.

Sepanjang jalan Joo Chiat, kami disuguhi kuliner, baik makan besar atau pun jajanan, juga penampakan gedung-gedung kuno yang masih terawat sangat baik. Untuk urusan makanan dan jajanan peranakan tak terlalu berbeda dengan yang dijumpai di Jakarta.

***

patungnyonyah

Patung Sultan Abubakar

Saya dan Pudian Redi, rekan satu perjalanan dari Jakarta, dan guide Augusto, memasuki sebuah rumah mewah satu rumah 106 Artiste Residency di Jalan Joo Chiat. Pagar besi terbuka.

Kami disambut patung berwarna emas yang merupakan sosok salah satu Sultan Pahang, Sultan Abubakar. Ada tumbuhan bunga perdu dan pandan. Dan patung bangau kecil.

Si pemilik rumah menyambut kami.

“Dari rombongan dari STB (Singapore Tourism Board) ya?” tanya pria yang kemudian mengenalkan namanya dengan Edmond Wong, direktur CSR Kim Choo Holdings.

Kami mengiyakan.

Kemudian, kami disilakan masuk dengan lebih dulu diminta untuk melepaskan alas kaki. Boleh duduk di kursi yang berada di sisi tok panjang, sebuah meja panjang yang tempat makan khas peranakan. Meja itu bisa digunakan untuk makan bersama 24 orang.

Di dalam rumah sudah ada beberapa peserta food trail lainnya. Ada yang datang dari Italia, Malaysia, dan wisatawan lokal.

Mencicipi kuliner peranakan (Femi Diah)

“Ini pengalaman pertama saya. Penasaran sih. Kami melihat pengumuman di situs kalau ada acara ini, kebetulan saya juga peranakan, jadi ingin merasakan seperti apa kuliner khasnya,” kata Angel, 32 tahun, warga lokal Katong.

Saya langsung menuju dapur. Seorang perempuan berusia 50-an yang mengenakan baju hijau sedang sibuk di dapur. Namanya, Helen Lim, pewaris Ng Eng Teng, pendiri restoran yang kini disebut Artiste Residency itu. Dia ibunda Edmond.

Dia memasak tiga menu sebagai santapan siang itu. Ikan asam manis, ayam pongteh, dan chap chye.

Setelah menengok sebentar saya memilih balik kanan. Duduk sembari menungggu masakan matang.

Tak lama kemudian, masakan matang. Tiga hidangan itu disajikan bersama nasi putih dan sambal.

Ikan asam manis, ayam pongteh, dan chap chye disajikan dia tas tok panjang (Femi Diah)

Citarasa ikan asam manis itu mirip dengan gulai. Berkuah merah oranye dan pekat. Rasa kecutnya berasal dari asam Jawa. Potongan ikan tenggirinya terasa gurih kenyal.

Adapun ayam pongteh mirip dengan ayam semur dengan potongan kentang. Yang membedakan pemakaian tauco dalam bumbunya. Warna cokelatnya didapat dari gula Melaka atau gula Jawa bukan dari kecap manis seperti semur.

Tapi, untuk chap cye justru berbeda dengan cap cay Indonesia. Meskipun sama-sama memakai sayuran. Aneka jamur, kembang tahu, dan suun serta ebi dalam bumbunya membuat sajian ini terasa lebih gurih.

Kami makan diiringi tembang lawas. Acara makan komunal ini benar-benar asyik!

Acara dilanjutkan dengan belajar membuat kueh nyonya atau ondeh-ondeh. kemudian berkeliling sebagian katong dan berakhir di Rumah Kim Choo.

Untuk mengikuti food trail ini peserta membayar USS 55 alias Rp 550 ribu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s