Belajar Bikin ‘Klepon’ di Singapura

IMG_7543

Ondeh-ondeh, jajanan khas peranakan yang pas dinikmati saat kumpul keluarga (Femi Diah)

Ini masih dalam rentetan Food Festival Singapore. Ikut The Heritage Food Trail di kawasan peranakan Joo Chiat Road, Katong. Ada bagian belajar membuat ondeh-ondeh yang ternyata mirip klepon. Seperti apa?

Usai makan besar ala peranakan dengan makan di tok panjang, kami diajak untuk membuat ondeh-ondeh. Peserta senang dan penasaran.

Kami berkumpul di dapur. Ondeh-ondeh ini jajan pasar. Yang ternyata di akhir acara kami kami berkesimpulan kalau jajanan ini mirip dengan klepon.

“Ini mirip klepon. Klepon banget,” kata Pudian Redi, rekan seperjalanan saya dari Jakarta.

Ya, betul. Ondeh-ondeh ini serupa klepon. Tapi dengan varian warna beragam, bukan hanya hijau seperti yang ditemui di Indonesia.

“Ondeh-ondeh ini biasa dinikmati saat kumpul keluarga. Dalam tradisinya dibuat warna-warni karena dipercaya bisa menumbuhkan kegembiraan,” kata Helen Lim, koki sekaligus ibunda Edmonds Wong yang mengembangkan bisnis kuliner di Joo Chiat Road itu, kepada peserta.

[Baca Juga: Singapore Food Festival: Mencicipi Kuliner Peranakan di Joo Chiat Road]

Yang membuat unik lainnya, Helen membuat ondeh-ondeh itu dengan pewarna alami. Warna hijau dari pandan, warna merahnya gula bit, sedangkan warna ungu diambil dari bunga lili ungu.

Bahan dasar yang dibutuhkan sama kok dengan bikin klepon, yakni tepung ketan. Yang tak sama lagi, Helen mencampurnya dengan ubi ungu. Ini menciptakan aroma yang sedikit berbeda dengan klepon saat matang.

Setelah bahan diuleni, kami diberi kesempatan untuk membuat bulatan-bulatan kecil. Bulatan itu kemudian diisi irisan gula merah.

“Gula merah ini impor dari Indonesia. Memang adanya dari Indonesia,” kata Helen. Diam-diam kalimat Helen itu bikin saya bangga.

Setelah selesai, bulatan itu dimasukkan ke dalam air yang sudah dididihkan bersama seikat daun pandan.

Cuma perlu menunggu sebentar, klepon, eh ondeh-ondeh pun matang. Ondeh-ondeh belum sepenuhnya jadi. Kami harus menaruhnya di atas parutan kelapa menggulingkannya sebentar kemudian dipindah ke atas piring. Setelah dingin ondeh-ondeh pun siap dinikmati.

Nyam…

Berkeliling Joo Chiat Road Sampai Rumah Kim Choo

Setelah dua jam berada di Artiste Residency, kami diajak berkeliling Joo Chiat Road. Langit di luar biru. Matahari cukup menyengat. Kami mengawali perjalanan sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

“Kawasan ini merupakan kawasan peranakan, dengan gedung-gedung kuno yang terawat. Pemerintah memang memiliki peraturan ketat agar gedung-gedung terawat,” kata guide yang mendampingi kami.

Dia menunjukkan beberapa tempat yang menjadi tempat-tempat monumental di sepanjang Joo Chiat Road. Termasuk sebuah klinik dan rumah bersalin.

“Klinik ini sangat monumental. Dulu kawasan ini kawasan gengters. banyak sekali korban tawuran dan mereka mendapatkan perawatan di klinik itu,” kata guide kami.

[Baca Juga: Sesaat Dekat-Dekat Antonio Conte]

Setelah berjalan 1,5 jam kami tiba di Rumah Kim Choo. Dari depan, rumah ini terlihat seperti toko jajan pasar dan oleh-oleh. Beragam barang khas peranakan bisa didapat. Mulai dari kebaya encim, sarung, selop, hingga aneka peralatan rumah tangga. Mangkuk porselen, rantang hingga alat masak.

Setelah masuk, kami mendapatkan suguhan kue lapis, otak-otak, dan bacang. Minumannya air biru dari bunga lili yang disajikan panas-panas.

“Kami, peranakan, memaknai setiap makanan yang kami lahap. Seperti bacang, otak-otak dan kue lapis ini,” kata Edmond.

Masing-masing jajanan memiliki filosofinya sendiri bagi warga peranakan (Femi Diah)

Sebagai contoh, kue lapis yang disuguhkan waktu itu. Mereka tidak sembarangan menyusun lapis hijau dan merah. Mereka menyusun kue itu dengan sembilan lapis.

Masing-masing lapisan butuh waktu sekitar lima menut untuk membuatnya menjadi kenyal baru bisa dituang lapis berikutnya.

“Dengan membuat sembilan lapis, maka akan dibutuhkan waktu yang lama sampai kue itu selesai dibuat. Tapi kue itu akan cepat dimakannya, paling hanya tiga suap sudah habis,” tutur Edmond.

“Lama pembuatan sampai jadi itu menyimbolkan kalau menuju kesenangan, kebahagiaan itu butuh waktu yang panjang. Sementara untuk menghabiskannya, waktu di masa senang itu akan terasa sebentar,” imbuh dia.

Otak-otak juga memiliki filosofinya sendiri. Begitu pula bacang. Bahkan kata ‘kueh’ pun tak sembarangan. Ada makna di baliknya.

Setelah itu kami mendapatkan informasi soal kue-kue yang lebih modern. Kue kering yang kerap kita temui saat lebaran, seperti nastar sampai kembang goyang.

Kue labaran juga berasal dari kuliner yang dikembangkan oleh peranakan (Femi Diah)

Setelah soal kuliner selesai, kami diajak ke lantai dua. Di lantai dua itu, beragam benda-benda khas peranakan ditata rapi. Seperti rumah keluarga peranakan. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur hingga beragam hiasan rumah bisa dilihat.

Perjalanan masih berlanjut. Kami mampir di hotel Katong. Hotel ini bernuansa sangat peranakan dan katanya menyuguhkan makanan peranakan yang dibuat secara tradisional. Tapi, kami datang saat tidak ada demo masak atau apapun yang bisa dicicipi.

Sedikit bonus diberikan dengan kudapan cake gula jawa dan cendol bandung.

Setelah itu perjalanan tuntas. Food trail peranakan di Katong usai.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s