Singgahi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

IMG_4542.JPG

Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Dua hari semalam singgah di Kota Ende di sela-sela Tour de Flores 2016. Kami menyempatkan diri ke berkeliling museum Bung Karno, leyeh-leyeh di bawah keteduhan pohon sukun di Taman Renungan Bung Karno, juga menikmati sunset di tepi pantai Ende.

Finis etape kedua Tour de Flores 2016 ini sangat menarik. Para pebalap menyelesaikan race tepat di depan Taman Renungan Bung Karno.

Lebih mengasyikkan lagi saat mengetahui pusat informasi wisata Ende tepat berada di sebelah media center. Setelah menyelesaikan laporan soal Tour de Flores, saya dan Intan dari Jakarta Post segera mendatangi pusat informasi itu.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (2)

Para petugas merespons positif keinginan kami untuk mendapatkan keterangan saat Bung Karno di Ende. Dari obrolan di kantor itu kami mendapatkan informasi kalau jejak Bung Karno di Ende masih bertebaran di banyak tempat.

Dari Taman Renungan Bung Karno, juga Situs Rumah Pengasingan Bung Karno yang kini menjadi museum, juga gedung pementasan tonil, dan tempat-tempat ikonik lainnya.

Cukup lumrah karena Bung Karno menjalani masa pengasingan di Ende yang lumayan lama, selama empat tahun, mulai 1934–1938.

Tempat-tempat itu memang masih meninggalkan aroma Bung Karno, sangat Bung Karno malah. Selama masa pengasingan Bung Karno dilarang pergi jauh-jauh dari rumah pengasingannya. Aktivitas dia dibatasi dalam radius delapan kilometer.

Dari cerita petugas dinas pariwisata itu, dulu Bung Karno harus melapor ke markas Belanda. Markas itu berada di sekitar 200 meter ke arah barat rumah pengasingan beliau.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (1)

Nah, kebiasaan singgah di Taman Renungan itu dibangun dari aktivitas tersebut. Setiap kali pulang dari wajib lapor itu dia singgah di taman lebih dahulu. Bung Karno selalu memilih duduk di bawah pohon sukun.

pohon sukun itu sudah mati. Yang ada di Taman Renungan kini adalah pohon baru yang ditanam lagi.

Selain itu, yang  berbeda pada area itu adalah beton yang memagari area taman, juga tempat duduk semen di bawah pohon sukuyn itu plus patung Bung Karno berpeci yang sedang duduk menyilangkan kaki.

Buah perenungan Bung Karno itu ditandai dengan kutipan yang dicetak di dinding semen.

“Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”

Taman Perenungan Bung Karno di Ende

“Untuk lebih lengkapnya soal keterangan Bung Karno ini bisa ditanya kepada petugas museum. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, tapi karena ini sudah sore saya khawatir museum tutup,” kata bapak dari dinas pariwisata itu.

Tak ingin membuang waktu kami berbegas menuju Rumah Pengasingan Bung Karno yang ada di Jalan Perwira, Ende itu.

Nampak jelas di dinding pagar beton bertulis huruf kapital: RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO. Di bawahnya diikuti lokasi: Jalan Perwira.

Jika dahulu disebut rumah pengasingan yang terbayang adalah rumah itu ada di area terpencil, jauh dari mana-mana. Tapi, kini rumah pengasingan itu malah jadi lokasi strategis yang mudah dijangkau.

Dari informasi yang saya dapatkan dan pengalaman singgah dua kali pada tahun yang berbeda, Rumah Pengasingan Bung Karno itu tidak sulit untuk dicapai dari Bandara Hasan Aroeboesman NTT. Hanya butuh waktu tempuh 15 dengan kendaraan bermotor.

Dari Taman Renungan menuju Rumah Pengasingan Bung Karno itu juga sudah menjadi salah satu jalan beraspal yang ramai lalu lalang kendaraan. Rumah-rumah penduduk juga berderet padat. Katanya ada transportasi ojek.

Saya sendiri pertama datang mengendarai mobil sewaan. Saat kali kedua bersama rombongan Tour de Flores mendapatkan kesempatan naik sepeda motor. Saya sarankan naik kendaraan. Bukan apa-apa, lumayan jauh kalau berjalan kaki.

Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Saat kami tiba, Situs Rumah Pengasingan Bung Karno masih buka dan masih menerima tamu. Rupanya akan ada tamu dari Jakarta, seorang menteri yang kemudian kami ketahui adalah rombongan dari Tour de Flores. Hayo siapa menteri itu? (Kunci jawaban ada pada foto di atas).

Sudah gampang dijangkau, Situs Rumah Pengasingan Bung Karno itu mengasyikkan, bukan seperti museum yang kebanyakan membosankan. Kondisinya sangat terawat dan sangat bersih.

Bangunannya mungil, tapi memiliki halaman yang luas. Katanya, Bung Karno gemar bercocok tanam. Rumah itu juga dipagar tembok berkeliling.

Rumah itu makin terlihat istimewa dengan cat putih bersih, pintu dan jendela kayu serta satu lagi yang bikin kesengsem adalah kanopi zaman dulu. Menengok foto lama yang ada di blog rosodaras, kanopi itu sudah ada sejak dulu. Bukan bikinan baru.

Saat masuk Rumah Pengasingan itu kami diminta mengisi buku tamu dan biasa masuk seikhlasnya. Kami ditemui oleh salah satu petugas bernama Syafrudin Pua Ita. Dia ahli waris rumah, turunan ketiga. sebelumnya, ayah dan kakeknya yang menjadi juru kunci.  Dari blog rosodaras dalam tulisan berjudul Rumah Ende, 20 Tahun Kemudian menyebut kalau rumah itu sudah diakusisi oleh pemerintah pada tahun 1954.

Waktu itu, Bung Karno kembali ke Ende setelah 20 tahun usai menjalani masa pengasingan. Bung Karno sendiri yang meminta agar rumah itu menjadi aset negara.

Rumah Pengasingan yang sederhana bukan rumah gedongan. itu menyimpan bermacam-macam perkakas yang digunakan Bung Karno. Di antaranya, surat nikah, surat cerai, salinan naskah tonil, dan biola kesayangan, serta dua tongkat dengan genggaman yang berbeda.

Tongkat pertama memiliki genggaman berbentuk monyet. Katanya, tingkat itu biasa dibawa Bung Karno saat menemui perwakilan pemerintah Belanda. Monyet menjadi kode untuk mengejek Belanda. Satu tongkat lainnya memiliki genggaman polos.

Masuk ke bagian dalam rumah tersebut, ada kamar untuk Bung Karno. Tapi, kami hanya bisa melihat dari luar. Para pelancong dilarang masuk.

Menuju sisi luar ada lemari besar berisi buku-buku koleksi museum. Sebagian besar tentang Bung Karno, juga soal Ende dan Flores.

Kamar mandi dan sumur terpisah di belakang. Sumur masih berfungsi dan menjadi sumber air untuk mengisi air kamar mandi serta berwudhu. Dipercayai kalau cuci muka dengan air sumur itu maka akan jadi awet muda.

***

Saat berada di Situs Rumah Pengasingan Bung Karno itu, kami mendapatkan informasi dari Syafrudin kalau Taman Renungan Bung Karno itu salah satunya sebagai tempat merumuskan cikal bakal Pancasila. Dalam pidato di Kongres Amerika Serikat Bung Karno menyatakan lima prinsip hidup bagi warga Indonesia. Yakni, kepercayan kepada Tuhan, nasionalisme, kemasyarakatan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Menurut Syafrudin lagi, Bung Karno diasingkan karena pemerintah Belanda menilai dia menolak untuk tunduk. Bung Karno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 dengan menggunakan kapal barang KM Van Riebeeck. Setelah berlayar delapan hari, dia bersama kerabatnya tinggal di rumah milik sahabatnya bernama Abdullah Ambuwaru.

Selama empat tahun, Bung Karno tinggal bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertua Amsih, dan dua anak angkat Amsih yang bernama Ratna Juami dan Kartika.

Soal pohon sukun di Taman Renungan, Syafruddin bilang kalau pohon sukun itu mati seiring dengan wafatnya Bung Karno. Kemudian para sahabat Bung Karno yang menanam pohon baru itu.

“Waktu itu sahabat-sahabat beliau mengambil Pohon Sukun di timur Ende yang dahulu lokasi pemandian beliau. Pohon yang ditanam pun diberi darah ayam. Seiring berjalan waktu pohon tersebut memiliki cabang yang sama (lima cabang) seperti yang ditanam beliau,” kata Syafruddin.

***

Setelah ngobrol di Rumah Pengasingan Bung Karno cukup, kami pun mencari penginapan. Setelah menaruh koper dan perbekalan yang bisa disimpan, kami segera menuju Pantai Ende.

IMG_0797(1).JPG

Mikirnya sih, mumpung sunset belum lewat. Matahari tenggelam makin terasa asyik dengan beberapa bocah yang tengah bermain sepakbola.

Selamat sore Ende!

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s