Batik Printing Itu Apa?

Batik

Batik yang makin populer belakangan ini direspons dengan munculnya batik printing

Batik, amba dan tik. Melukis titik. mBatik dari mba dan titik. Membuat titik. Batik juga diartikan sebagai teknik untuk merintang atau menahan warna di atas kain dengan menggunakan lilin/malam. Jadi apakah batik printing itu masuk kategori batik?

Batik itu melukis titik. Membuat titik.

Tapi kenapa di atas kain atau pakaian batik bisa ada motif dan bukan hanya titik? Motif itu dibangun dari rangkaian titik-titik dengan canting.

Nah, canting itulah yang digunakan untuk mengalirkan lilin panas sebagai perintang kain. Nah, canting dan malam itulah yang membuat teknik merintang atau menahan warna menjadi spesial.

Dari keterangan itu maka batik adalah teknik untuk merintang atau menahan warna di atas kain dengan menggunakan lilin/malam.

Baca Juga: Batik Putra Laweyan dan Wadelan Favorit Pemudik Solo

Ya, medium merintang warna di atas kain berbeda-beda di setiap negara. Ada yang menggunakan bubur kanji atau bahkan nasi.

Dalam ‘Cerita Batik’ yang ditulis Iwet Ramadhan proses membatik itu melewati beberapa tahap, tidak ujug-ujug membuat titik dengan malam dan canting itu.

Batik Printing Itu Apa?

Cerita batik karya Iwet Ramadhan

Tahapan pertama menyorek. Yakni, menggambar motif di atas kertas kemudian dipindahkan ke atas kain mori.

Setelah itu, kain mori direbus. proses itu disebut pengkethelan. Barulah kain bisa dicanting atau diklowong. Yang ini memakai canting dengan ujung yang kecil. Sementara itu, bagian yang harus tetap berwarna putih ditutup malam dengan canting yang berujung besar (nembok).

Kalau proses nembok selesai, maka kain dibalik dan proses yang sama dilakukan lagi. Jadi proses nyanting dilakukan pada dua sisi kain yang berbeda.

IMG_6636.JPG

Canting sebagai alat pembeda untuk batik Indonesia dibandingkan teknik merintang kain di negara lain.

Setelah nyanting selesai, proses berikutnya masuk ke tahap pewarnaan. Caranya dengan dicelupkan ke dalam warna sesuai keinginan. Kemudian kain dijemur. Jika masih ada bagian lain kain yang ingin diwarnai maka lilin dikerok sedangkan bagian kain yang tak ingin ditambah warna ditutup lahi dengan lilin. Begitu seterusnya tergantung jumlah warna yang digunakan.

Proses berikutnya nglorot. Yakni, lilin diluluhkan dengan merebus kain. Setelah itu kain dijemur hingga kering.

Batik pun jadi dan sudah siap pakai.

Baca Juga: Kampung Palbatu, Tebet yang Terobsesi Meniru Kauman, Solo

Dengan proses membatik seperti itu maka banyak kalangan tak memasukkan batik printing sebagai kategori batik. Sebab, batik printing atau sablon itu dianggap menyalahi proses membatik.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi pernah menegaskannya. Bayu menyebut kalau batik bukan sekadar motif.

Dari kanan ke kiri: contoh batik tulis, batik cap, dan batik printing

“Kalau printing itu bukan batik apalagi terutama yang diimpor,” tegas Bayu saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (22/04/2014), seperti dikutip detik.com.

“Batik kita banyak ditiru di luar negeri. Batik itu harus pakai malam, canting, lilin dan celup,” imbuh dia.

Makanya, kita cuma mengenal batik tulis dan batik cap. Untuk pembuatan batik tulis proses pembuatannya seperti tadi, dari nyorek, nyanting, dan seterusnya sampai menjemur. Kalau batik cap, malam dibubuhkan dengan lempengan besi panas.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s