Batik Putra Laweyan dan Wadelan Favorit Pemudik Solo

Laweyan

Kampung Batik Laweyan, Solo di Jawa Tengah juga menawarkan kemasalaluan

Belanja batik di Solo? Ke Kampung Batik Laweyan saja. Batik Putra Laweyan dan Wadelan bisa jadi jujugan untuk mendapatkan batik dengan mode dan motif terkini.

Kampung Batik Laweyan memang dikembangkan sebagai destinasi wisata belanja batik. Bukan dadakan, kampung ini memiliki sejarah sebagai kampung saudagar batik pada abad ke-20.

Di kawasan Laweyan itulah seorang tokoh pejuang kemerdekaan, Samanhudi, mendirikan asosiasi dagang pertama Syarekat Dagang Islam. Dia membangunnya tahun 1912.

Tercatat dalam periode 1900 sampai 1970 sebagai masa kejayaan para saudagar (pengusaha) batik pribumi Laweyan. Tapi setelah itu, industri batik di Laweyan malah sekarat.

Padahal di tahun 1070, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mencanangkan batik sebagai pakaian nasional. Rupanya gerakan itu juga direspons dengan masuknya teknologi ‘batik printing’ dari China. Selain itu, pabrikan luar negeri juga memproduksi kain tekstil bermotif batik berpengaruh signifikan.

Masa suram batik Laweyan cukup awet, mulai 1970 sampai awal 2000-an.

Hidupnya batik belakangan ini kembali membangunkan Laweyan dari tidur panjangnya. Laweyan tak hanya mampu bangkit dengan berhasil menggairahkan industri yang berimbas kepada ekonomi penduduknya, tapi sekaligus mampu menghadirkan kemegahan masa lalu mereka.


Menyadari betul kombinasi potensi kemasalaluan yang dimiliki dan ribuan pemudik ke Solo pada Hari Raya Idul Fitri 2017 ini, Kampung Batik Laweyan bersolek. Jika biasanya kampung lain berdandan menor untuk merayakan 17-an, Laweyan juga menata diri menyambut Hari Raya Idul Fitri yang jatuh 25-26 Juni.

“Kami bikin lomba mempercantik Laweyan antar-RT,” kata Pegawai Marketing Batik Putra Laweyan, Moh. Azis Fathoni.

Tiap-tiap RT bebas membuat kreasi untuk mempercantik kawasan mereka. Ada yang memilih lampion, membentangkan kain batik, ataupun memasang lampu warna-warni di antara gang rumah.

Selain itu, tawaran lain diberikan pedagang batik yang ada di keamatan Laweyan itu yang bisa bikin ibu-ibu tergiur. Kebanyakan sih menawarkan diskon sampai 20 persen. Batik Putra Laweyan sebagai salah satu pelopor batik di kawasan itu salah satu yang menerapkannya.

Batik Putra Laweyan menawarkan batik dengan warna-warna kalem

“Kami menawarkan batik tradisional cap dan tulis dengan warna-warna yang soft, kalem. Harganya mulai dari Rp 85.000,” kata Azis.

Selain itu, Azis menjamin motif dan desain pakaian di Batik Putra Laweyan sangat kekinian. Koleksi Batik Putra Laweyan ini bisa dilongok lewat situs dan instagram mereka.

Kalau memang belum bisa belanja offline dalam waktu berdekatan dengan rilis batik di toko online mereka, Azis menyarankan agar pembeli segera menghubungi nomor kontak mereka. Itu agar si calon pembeli tak kecewa karena kehabisan stok.

“Sebab, kalau menunggu nanti-nanti biasanya sudah keduluan orang lain. He he he. Soalnya cepat sekali respons dari pelanggan kalau ada barang baru,” canda Azis.

Namun Azis juga mengingatkan kalau belanja offline ke kios mereka pun tak kalah menarik. Batik Putra Laweyan menyiapkan kedai minuman dengan menu yang Solo banget. Misalnya, temulawak, saparela, dan kopi lik giman.

“Kami tidak menyediakan makanan. Silakan saja kalau mau membawa bekal. Kami tidak melarang pengunjung membawa bekal, baik makanan ataupun minuman,” tutur dia.

Bahkan, kalau berkunjung di pekan lain Hari Raya Idul Fitri pengunjung bisa menjajal membatik. Ada ‘suhu’ yang siap mendampingi.

Lain lagi dengan kios batik Wadelan. Tempatnya memang buakn pada gang utama di Laweyan, namun bersembunyi di balik rumah penduduk.

Kios Batik Wadelan

Kios Batik Wadelan menawarkan paket kait dan jahit

Pemiliknya, Ida Pratama, menyadarinya. Makanya, dia menyediakan guide untuk menyambut tamu dari jalan utama.

“Biasanya yang belum tahu khawatir kena tipu atau diajak ke tempat yang seram. Padahal kami memang menyediakan huide,” tutur Ida.

Kios batik Wadelan itu dibuka sejak 2009. Memasuki rumah Wadelan kita bakal dimanjakan dengan nuansa masa lalu dengan rumah serba kayu.

Asyiknya, di loaksi ini tersedia mushola dan toilet yang bersih.

“Kami hanya menyediakan belanja di tempat, tidak ada toko online. Selain model dan motif yang kekinian, kami juga mempertahankan yang lawasan,” ucap Ida.

Selain itu, kios batik Wadelan itu menyediakan paket kain dan menjahit. Ida menjamin harga menjahit sangat terjangkau.

“Kami juga menyediakan jasa konsultasi untuk menentukan mode dan kecocokan dengan motifnya,” kata perempuan berjilbab itu.

Ayo, belanja dan berwisata ke Laweyan!

 

Iklan

2 thoughts on “Batik Putra Laweyan dan Wadelan Favorit Pemudik Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s