Menyaksikan Pentas Teater Koma ‘Opera Ikan Asin’ di Mal, Bukan di TIM

opera ikan asin .jpg

Arak-arakan awan dan tiga perahu layar yang bergoyang-goyang menjadi latar pentas Opera Ikan Asin oleh Teater Koma. Pertunjukan ini digelar di mal, bukan di Taman Ismail Marzuki seperti biasa.

Saat mendapatkan tawaran nonton Opera Ikan Asin oleh Teater Koma dari Tia Agnes, saya segera mengiyakan. Bukankah sebuah pertanyaan retorik ketika mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan pentas Teater Koma?

Apalagi kali pentas ini bukan pentas biasa. Opera Ikan Asin menjadi perayaan ulang tahun ke-40 Teater Koma.

Perbedaan mencolok lainnya, Teater Koma manggung di Ciputra Artpeneur Theater, Lotte Shopping Avenue, sebuah mal di kawasan Kuningan, Jakarta yang kalau petang jam pulang kantor macetnya tiada terkira. Teater Koma tidak manggung di tempat biasa: Taman Ismail Marzuki, Cikini.

“Lumayan lah lebih dekat dari kantor saya yang ada di area Warung Buncit,” batin saya waktu itu.

Namun di sisi lain, saya juga bertanya dalam hati apakah ini bukan faktayang makin sarkas: Teater Koma yang getol menggelar pementasan dengan muatan kritik terhadap fenomena sosial menggelar pentas Opera Ikan Asin di dalam sebuah mal megah.

Dari beberapa referensi yang saya baca sebelumnya, Opera Ikan Asin ini adaptasi dari The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht. Cerita serupa bukan gawe pertama Teater Koma. Mereka pernah memanggungkan dua kali Opera Ikan Asin ini, tahun 1983 dan 1999.  Dua kali gelaran itu dibuat di Teater Ismail Marzuki, Cikini.

Brecht ini orang Jerman yang menganut paham teater anti khayalan dan anti hipnotik alias tak mengajak penonton untuk sekadar mengharu biru dan menghibur pentonton. Sebaliknya, dia membujuk penonton untuk memandang kejadian-kejadian dengan sikap kritis dan tak terpengaruh.

IMG_2506.JPG
Oleh Nano Riantiarno, si penulis naskah, yang juga satu dari 12 founder Teater Koma, Opera Ikan Asin ini dibungkus dalam kisah muram dengan selingan tawa. Serupa sarkasme. Satir.

“Ikan asin begitu akrab dengan makanan rakyat dari seluruh lapisan. Dia bau tapi dibutuhkan. Dua kekuatan yang sering berbeda kepentingan, kuat jika dipersatukan tapi bisa pula seperti minyak dan api,” kata Nano menyebut alasan pemilihan judul pentas itu dalam pengantarnya.

***

Beberapa hari sebelum pagelaran, saya sudah minta izin kepada tetua desk olahraga tempat saya bekerja. Syukurlah dia mengangguk tanda setuju.

Ternyata di hari gelaran saat saya mau menyaksikan pentas itu bertepatan dengan kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud, Rabu (1/3/2017). Rencana untuk berangkat mepet dengan wkatu manggung, pukul 19.00 pun malah justru berantakan.

Akhirnya, saya dan Agnes berangkat dari Warung Buncit pukul 17.00 WIB. Sesuai prediksi, jalanan macet hanya saja masih bisa tidak untuk motor.

Masih ada waktu luang. Kami masih bisa makan malam dan menikmati kopi serta jajan pasar yang disediakan Teater Koma.

***
IMG_2509.JPG
Panggung dibuka. Kami disodori latar tiga kapal layar yang bergoyang-goyang dan arak-arakan awan. Sebuah cafe Bordelo di sisi kiri panggung. Perusahaan milk Natasasmita Picum di bagian lain.

“Opera miskin akan segera dimulai, inilah opera para pengemis. Brutal dan menyakitkan. Konyol dan menggelitik, hanya gelandangan yang sanggup menonton. Inilah cerita tentang Mekhit alias Mat Piso, si Raja Bandit dari Batavia,” ujar Sari Madjid yang berperan sebagai Tukang Celoteh, membuka pentas itu.

Aroma satir sudah ditunjukkan sejak awal dalam pentas ini. Natasasmita yang diperankan Budi Ros muncul dengan penampilan perlente. Dia keluar dari kantor mewah berundak-undak dengan gerbang ala Romawi.

Kemewahan itu bikin geleng-geleng kepala karena ternyata perusahaan yang dipimpinnya itu mengoordinir ratusan pengemis di lima cabang dan puluhan ranting se-Batavia.

Para ‘pegawai’ Natasasmita memiliki seragam dinas. Para pengemis itu mengenakan pakaian dari karung goni dan bermake-up coreng-moreng. Setiap pagi mereka apel di depan kantor mewah itu dan di malam harinya harus menyerahkan setoran kepada bos besar.

Kehidupan mapan Natasasmita terusik saat anak gadisnya Poli Picum (Sekar Dewantari) jatuh cinta kepada Mekhit alias Mat Piso (Rangga Riantiarno), raja bandit yang punya fans perempuan-perempuan cantik dan ditakuti publik Batavia.

Natasasmita gusar ketika anak gadisnya itu menghilang dan baru pulang untuk mengabarkan pernikahan dengan Mekhit. Natasasmita dan istrinya, Amalia Picum (Netta  Kusumah Dewi), yang selalu mabuk sampai sempoyongan gundah karena mereka paham benar sepak terjang Mekhit.

Juga tentang Mekhit yang ternyata berstatus suami orang. Lusi Kartamarma yang diperankan Naomi Lumban Gaol muncul sebagai sosok dengan fisik yang jauh dari dambaan laki-laki kebanyakan. Tapi, dia punya kekuatan sampai membuat Mekhit, si bandit itu tadi, bertekuk lutut kepadanya.

Buat penonton, Lusi berhasil membuat Opera Ikan Asin ini bergairah, kocak, tapi juga bikin geregetan.

Kemuraman ditunjukkan oleh Yeyen Rachmat (Cornelia Agatha), seorang pelacur yang sakit hati terhadap Mekhit. Amalia dan Natasasmita yang memegang masa lalu Mekhit dan Yeyen–dengan Yeyen yang ingin balas dendam terhadap Mekhit–memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan.

Akhir cerita bakal bikin kian senewen. Sebab, Mekhit si raja bandit itu lah pemenangnya.

***
IMG_2523.JPG
Di akhir pertunjukkan para pendiri dan para pemain berkumpul di panggung. Mereka memotong kue ukuran jumbo. Sebuah gelaran yang hangat, memikat, dan Nano puas dengan penampilan anak asuhnya.

Senang bisa menyaksikan pentas ini. Juga kepuasan Om Nano usai pagelaran. Soal musik yang diaransemen oleh Fero Aldiansyah Stefanus dan lirik yang digarap Nano.

“Apa-apa yang dulu tak bisa dilakukan, bisa digarap kali ini. Komposisi dan lagu sangat sulit. Dulu pada pentas pertama dan kedua belum bisa dilakukan, kini sudah bisa,” tutur Nano.

“Begitu pula kapal layar yang tingginya lebih dari 12 meter itu. Kalau di TIM tidak bisa, di sini bisa,” ungkap dia.

Masih ada sisa satu hari pertunjukan. Gelaran ini dimulai Kamis (2/3/2017) sampai Minggu (5/3/2017).

Selamat ulang tahun, Teater Koma. Panjang umur. Semoga Teater Koma panjang umur!

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s