Melihat Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli vs Kemuraman Sirkuit Sentul

M FadliFoto: Grandyos Zafna/detikcom

Sirkuit Sentul yang berada di Bogor ini cukup mudah dijangkau dari Jakarta. Menyambangi  sirkuit itu, saya sekaligus berkesempatan ngobrol dengan M. Fadli yang kini jadi pebalap sepeda.

Kamis (16/2/2017) pagi, Jakarta masih menyisakan hujan semalam. Namun, saya bersikukuh rencana ke Sirkuit Sentul tak boleh batal.

Pertama, saya sudah kadung janjian dengan M. Fadli alias Muhammad Fadli Immamudin, juara nasional supersport 2015, untuk berbincang-bincang soal persiapan ke Kejuaraan Asia Balap Sepeda 2017. Kedua, rekan saya Grandyos juga telah bersedia menemani buat datang ke sana.

Mungkin karena hujan pula, pesanan taksi online menjadi tak mudah. Tiga operator berbeda saya coba, tapi hampir semua bilang sorry.

Barulah setelah sekitar 30 menit mencoba, ada juga Gocar bersedia menerima pesanan. Tapi rupanya dia masih cukup jauh dari lokasi saya di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Mobil masih berada di area Pasar Minggu, sekitar 10 menit perjalanan ke tempat saya memesan.

Barulah pukul 06.40 mobil tiba dan mengangkut saya. Grandy bilang dia menunggu di McDonald Cibubur.

Beruntung jalanan lancar. Sekitar 30 menit kami sampai di Sirkuit Sentul. Double beruntung karena matahari di kawasan Sentul tengah berani.

Soal ini saya sempat waswas karena teman-teman lain yang melongok Sentul sehari sebelumnya tak kebagian panas. “Hujan deras,” kata Aprelia Wulansari. Rombongan mereka pun hanya sempat mengamati M. faldi berlarih rolling di teras rumah dia di Sentul City.

IMG_2267.JPGTapi saya lupa menanyakan Fadli latihan di sirkuit mana? Sirkuit besar atau Sirkuit Karting? Untuk mengontaknya jelas tak bakal ada jawaban. Sebab, dia pasti telah memulai gowes sejak pagi seperti jadwal-jadwal sebelumnya.

Sementara, pelatih M. Fadli dalam persiapan ke Kejuaraan Asia 2017, Puspita Mustika Adya, tak mendampingi. Dia tengah melatih di tempat lain.

Satu-satunya jalan yakni bertanya kepada satpam di gerbang masuk Sirkuit Sentul. Satpam yang berjaga menjawab M. Fadli biasa latihan di Sirkuit Karting. Saya juga haqul yakin M. Fadli ada di sana. Sebab, sekolah balap 43 Racing School miliknya memang bermarkas di sana. Oke, kami menuju Sirkuit kecil itu.

Sampai di sana sirkuit masih sepi. Beberapa orang yang tengah utak-atik motor bilang kalau M. Fadli biasanya tiba pukul 08.30.

Kami pun berasumsi M. Fadli pasti latihan di sirkuit besar yang jaraknya sekitar 200 meter dari Sirkuit Karting ini.

kami pun balik badan. Kami kembali menuju Sirkuit besar. Di pintu masuk kami dicegar satpam. dia menanyakan tujuan sekaligus meminta bayaran tiket masuk Rp 10 ribu.

Kami masih meneruskan perjalanan ke arah paddock. Sesampainya di sana, dua petugas keamanan kembali mencegat kami dan menanyakan keperluan. Kali ini duo satpam lebih ramah.

Mereka segera mengarahkan kami ke pinggir lintasan. “Nanti Fadli lewat situ,” kata salah satunya.

Sampai di pinggir lintasan, benar, tak lama kemudian M. Fadli lewat. Dia melambaikan jemarinya.

Gayanya sudah mirip pebalap profesional. Berpakaian serba ketat plus helm dan sepatu sepeda, dia juga menaiki sepeda road race buatan Prancis Look dari Technobike.

Selain itu, satu hal sangat menarik juga terlihat antara M. Fadli dan Sirkuit Sentul ini. Ada sebuah fakta yang amat kontras antara keduanya. Memang pagi ini saya belum berbincang cukup banyak dengan dia. Namun, saya sudah mengawali ketika ngobrol via telepon beberapa hari lalu.

Lewat telepon itu, M. Fadli menunjukkan dirinya sebagai seorang yang pantas menjadi inspirasi. Semangatnya tak menurun meski dia kehilangan satu kaki.

IMG_2264.JPGYa, M. Fadli harus merelakan kaki kiri di baah lututnya diamputasi. Kaki itu remuk dalam kecelakaan saat melakukan selebrasi dalam kategori supersport 600cc pada Asia Road Racing Championship (ARRC) di Sirkuit Sentul ini pada 7 Juni 2015.

M. Fadli menurunkan kecepatan motornya saat itu. Kaki kiri Fadli tidak rapat ke body motor. Di saat bersamaan, pebalap Thailand Jakkrit Sawangswat melaju kencang dari belakang Fadli.

Beruntung obrolan pertama itu lewat telepon. Kalau tidak saya pasti menuai malu. Saya dibuat terharu, salut sekaligus  kekaguman kepada M. Fadli sepanjang obrolan.

Semangat pantang menyerah M. Fadli begitu berkebalikan 180 derajat dengan muramnya Sirkuit Sentul ini. Apalagi dengan kebaruan teknologi sepeda Look seharga (katanya) Rp 150 juta yang dipakai M. Fadli serta asesoris yang dikenakannya. Garmin (alat pengukur nadi dan detak jantung), arloji digital, dan telepon genggam dengan apps yang mampu merekam kecepatan kayuhannya.

Dengan satu kaki itu, M. Fadli tak meninggalkan adu balap. Bagi bapak satu anak itu, beraktivitas dengan bantuan prostetis juga hal yang lumrah. Tidak ada drama, penyesalan, ataupun kekecewaan mendalam.

Dia justru menganggap tragedi itu membukakannya ke pintu lain: balapan dengan cara yang berbeda. M. Fadli menekuni cabang paracycling alias balap sepeda untuk difabel.

“Sama-sama saja kok, cuma pindah cabang olahraga. Saya tidak lantas berhenti melakukan apapun setelah peristiwa itu,” kata M. Fadli.

Lagipula, M. Faldi masih bisa melepaskan kerinduan dengan motor besarnya. Dia masih menjadi instruktur di AHRS (Astra Honda Racing School)  dan menjadi owner sekaligus pengajar di sekolah balap miliknya, 43 Racing School.

IMG_2274.JPGBagaimana nasib Sirkuit Sentul? Sirkuit Sentul diam-diam saja, bingung mau jadi apa.

Sebuah angin segar sempat berembus kala muncul wacana Indonesia bakal jadi tuan rumah MotoGP 2018. Si pengelola Tinton Suprapto sempat optimistis balapan itu akan digelar di Sirkuit Sentul. Artinya, Sirkuit Sentul berpotensi bakal direnovasi, baik lintasan maupun fasilitas pendukungnya. Faktor kebaruan akan ada pada sirkuit yang digagas putra mantan Presiden Soeharto, Tommy Mandala Putra itu.

Padahal menilik usia, Sirkuit Sentul masih lebih muda ketimbang M. Fadli. Bulan Juli tahun ini M. Fadli akan genap berusia 32 tahun. Sementara Sirkuit Sentul semestinya tengah dalam masa puber yang ingin menarik perhatian lawan jenis.

Atau justru karena usia itu, M. Fadli menjadi lebih bijak dalam menentukan sikap. Sementara Sirkuit Sentul adalah ABG yang memilih untuk menyerah kepada uluran tangan orang ‘gila’ yang entah kapan menghampirinya.

 

Iklan

One thought on “Melihat Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli vs Kemuraman Sirkuit Sentul

  1. Ping-balik: Dua Wajah Kehidupan M. Fadli: Antara Balap Motor dan Balap Sepeda – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s