Kucing-Kucingan dengan Sunrise di Danau Kelimutu

IMG_0626.JPG

Danau Kelimutu seperti perburuan yang belum tuntas buat saya. Dua kali singgah, dua kali pula sunrise gagal ditemui.

Perjalanan ke Danau Kelimutu kali ini lumayan panjang. Kami bermalam di Maumere, masih berjarak 88 kilometer atau 3-4 jam perjalanan dengan mobil pribadi.

Artinya untuk mengejar sunrise alias matahari terbit, kami harus sudah tancap gas sejak pukul 02.00 dari penginapan.

Saya menuju Danau Kelimutu kali ini bersama tiga teman seperjalanan: Nadia, Intan, dan Akihiro. Menuju Danau Kelimutu kali ini kami lakukan di sela-sela liputan Tour de Flores. Karena basecamp berpindah tiap hari, maka kami putuskan perjalanan dimulai start dari Maumere. Tekadnya: melihat sunrise di Danau Kelimutu.

Tak ada masalah berarti sepanjang perjalanan. Cuma karena ada kesalahpahaman sebelum start, kami berangkat dari hotel pukul 02.30. Sedikit terlambat sebenarnya.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (2)

Setelah masuk mobil kami pulas. Pak Yon Pereira, orang Flores yang jadi pengemudi sejak titik start balapan di Maumere, melek sendirian.

Saat kami bangun mobil sudah parkir di depan portal gerbang Taman Nasional Kelimutu. Hawa sangat dingin, tapi saya tak mengecek berapa suhu udara saat itu.

Jam menunjukkan pukul 04.30. Setelah numpang ke toilet dan membayar tikey masuk, kami segera menuju tempat parkir dan memulai treking.

Tidak sulit, sebab jalur pendakian sudah sangat jelas berupa undakan. Bonus jalur-jalur landai juga cukup sering.

Tapi karena itu pula kami teledor. Jadi kebanyakan berhenti untuk foto. Tiba-tiba saja rasanya matahari bergelincir lincah muncul dari timur. Semburat keemasan disusul bulatan kecil di satu titik berubah membesar sebelum kami benar-benar tiba di pucak Kelimutu. Duh, padahal tinggal beberapa anak tangga lagi.

Meski terlambat sampai di puncak dan bisa menikmati sunrise-nya lagi, saya tak kecewa. Justru kegaduhan pelancong lain yang sedikit mengganggu. ATau mungkin sebenarnya saya kecewa karena terlambat makanya sensitif sama pelancong yang berisik.

Ya, pag ini pengunujung tak terlalu banyak. Tapi cukup gaduh. Ngobrol dengan volume kencang dan menyalakan radio. Kata teman saya mereka rombongan dari Jakarta.

Bisa jadi saya memang kecewa. Sebab, ini adalah kesempatan kedua saya di Danau Kelimutu. Perjalanan pertama saya lakukan bersama Tia Agnes.

Edisi pertama ini saya lakukan sengaja untuk liburan. Perjalanan juga sama, menyusuri Pulau Flores, tapi dari arah sebaliknya, dari Labuan Bajo ke Ende. Sementara saat mengikuti Tour de Flores pada pertengahan Mei 2016 ini perjalanan dimulai dari Maumere, singgah di Larantuka, kembali ke Maumere dan menyusuri Flores dari Timur ke Barat hingga finis di Bajo.

Waktu itu, kami tak dapat menyaksikan sunrise karena mendung datang sejak dinihari. Waktu itu sedikit lirih saya sisipkan harapan untuk bisa kembali kemari. Tak apalah, saya anggap tengah main kucing-kucingan dengan sunrise di Danau Kelimutu.

Kini saya benar-benar menjejakkan kaki lagi di sini. Meski terlambat mengejar sunrise (lagi), saya melihat perjalanan kali ini lebih menyenangkan dari view yang saya dapatkan.

Setelah sampai di puncak, kabut masih tersisa. Pertemuannya dengan matahari pagi menjadikan hawa magis. Sinar yang terang menjadi begitu teduh.

Setelah melongok ke ketiga danau, nyata benar perbedaan airnya. Danau yang berada paling dekat dengan puncak berwarna biru terang. Nama danau ini Tiwu Ata Mbupu atau Danau Orang Tua.

Dari data yang terpampang di atas prasasti di area yang dibeton, disebutkan kalau luas danau itu satu hektare, kedalamannya 67 meter.

Danau yang tepat berada di sebelahnya, dan biasa didekati sebelum sampai puncak, bernama Tiwu Nua Muri Koo Fai atau Danau Pemuda dan Gadis. Warna air yang paling sering muncul pada danau ini adalah hijau lumut. Luasnya mencapai 5,5 hektare dan kedalamannya 127 meter. Danau ini paling dalam di antara ketiganya.

Adapun danau yang paling ujung bernama Tiwu Ata Polo alias Danau yang Memesona. Luas danau ini 4 hektare dan kedalamannya 64 meter.

Dari keterangan yang ada, Danau Kelimutu punya makna gunung dan (keli, dari bahasa Lio) dan mendidih (mutu).

Sembari menanti rombongan balap sepeda mendekati kawasan ini, kami masih bisa berlama-lama di sini. Ngobrol dengan petugas keamanan yang disiagakan selama balapan, juga pedagang kopi, kain tenun, guide, dan petugas konservasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s