Pertegas Identitas, Larantuka Ciptakan Festival Makan Ikan

fullsizerender16

Larantuka. Bukan soal bahari yang melekat di ingatan, tapi Semana Santa, pekan suci paskah. Sebagai penghasil ikan terbesar di Nusa Tenggara Timur, Larantuka menghidupkan identitas dengan menciptakan festival makan ikan.

Tepat di tepi pantai yang berada di seberang kantor Bupati Larantuka di JL. Basuki Rahmat, Puken Tobi Wangi Bao, Larantuka, Flores Rabu, 18 Mei 2016, sore dipadati penduduk dan wisatawan. Mereka mengelilingi panggung.

Rencananya pembukaan Tour de Flores bakal digeber malam ini. Dalam buku acara disebutkan menabuh 13 gendang yang menyimbolkan 13 etnik berbeda di Kepulauan Flores. Selain itu disuguhkan atraksi budaya Lamaholot dan festival makan ikan sepanjang 2 kilometer. Kemudian dilanjutkan pesta kembang api.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (1)

Pada praktiknya pesta kembang api ditiadakan. Panitia bilang dana kurang. Untuk tabuhan 13 kendang tetap berjalan. Juga festival ikan meski jaraknya tak benar-benar 2 kilometer.

Setelah dibuka oleh Menteri Kemaritiman, Rizal Ramli, tamu undangan dan penonton disuguhi tari rakyat Dopeng Kawerok oleh masyarakat di Bukit Saburi Dua. Konon tarian itu menjadi simbol pembersihan kampung untuk tolak bala. Biasanya sih, tari itu dilakukan pada bulan Januari.

Di belakang panggung hiburan itu ada aktivitas yang tak kalah menarik. Di tengah jalan pada lintasan Rujab Bupati menuju Kapel Tuan Ma sudah berjejer 18 meja. Jumlah itu mewakili 18 kelurahan yang ada di Kecamatan Larantuka.

IMG_0309.JPG
“Larantuka itu penghasil ikan terbesar di NTT,” kata Imanuel Pulotukam, lurah Waibalun, daerah penghasil tuna dan cakalang terbesar di NTT.

Di atas meja itu disediakan jagung bose (jagung pritilan yang direbus dan diaru dengan parutan kelapa), jagung titi (jagung digoreng tanpa minyak lalu ditumbuk kemudian dicampur dengan kacang tanah). Juga ada rebusan ikan di atas tampah dan kuah kuning di dalam panci.

Para warga kelurahan yang hadir mengenakan kemeja biasa  dipadu sarung tenun. Siapa saja yang ngin makan, tinggal ambil. Cepat-cepatlah ketimbang kehabisan. Saat makan mereka duduk-duduk saja di tikar dan trotoar.

“Untuk mengikuti acara ini kami disuport pemerintah. Masing-masing kelurahan disubsidi Rp 3 juta. Sebuah cara yang bagus untuk mengenalkan Larantuka lewat potensi baharinya,” tutur Imanuel.

Baca Juga: Benang Untuk Tenun Ikat pun Dipintal oleh Kaum Hawa Sikka

Usai makan, mereka menari bersama-sama diiringi nyanyian yang juga dilantunkan bersama-sama. Dari lingkaran kecil, lama-lama menjadi lebih besar. Banyak yang kemudian turut bergabung. Satu orang berinisiatif menjadi dirigen.

“Kami biasa menari seperti ini. Ya, ini kegiatan sehari-hari kami. Saat kami di kebun, di rumah, kalau berkumpul biasa menari bersama-sama,” ucap salah satu mama-mama yang meramaikan acara itu.

Hingga malam larut, mereka masih menari dan bernyanyi.

Misi mereka malah ini tuntas: menciptakan festival ikan untuk mengukukan identitas sebagai nelayan. Serupa nenek moyang. Juga menyebarkan kegembiraan kepada kami yang baru mereka kenal.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s