Benang Untuk Tenun Ikat pun Dipintal oleh Kaum Hawa Sikka

img_0378

Sarung tenun ikat Sikka dibuat oleh perempuan-perempuannya. Sejak mengeluarkan kapas dari kelopaknya sampai menjalin di atas alat tenunnya.

Pohon kapas tumbuh bebas di area kampung Watublopi di Desa Kojowair, Kecamatan Hewokloang, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana pula muncul Sanggar Bliran Sina. Yang artinya tanah yang sejuk. Sanggar itu diketuai Yosef Gervaius, seorang pria 45 tahun.

Saya berjumpa dengan Yosef saat mengikuti Tour de Flores tahun lalu. Mereka menjadi salah satu kelompok usaha yang ikut pameran di alun-alun di depan Kantor Kabupaten Sikka yang juga dijadikan finis etape pertama Tour de Flores 2016.

Di artikel sebelumnya ‘Lewat Tenun Ikat, Perempuan-Perempuan Sikka di Flores Menjaga Tradisi‘ disebutkan kalau Yosef tidak datang sendirian dalam acara itu. Dia mengajak anggota sanggar yang dipimpinnya yang diisi mayoritas perempuan. Karena, memang merekalah yang bertugas menjaga tradisi dalam usaha utama sanggar ini: tenun ikat Sikka.

Mereka berperan dalam memilah kapas hingga menjadi benang, mewarnai, mengikat benang-benang dalam motif-motif tertentu, hingga menjadikannya sarung tenun yang apik.
img_0368
Ya, sejak membuat benang merekalah yang berperan. Biasanya kapas ini menghasilkan buah dalam satu musim, yakni pad amusim kemarau.

Kalau sudah habis-habisan menghasilkan buah, pohon ini akan mengering kemudian mati.

Baca Juga: Pewarnaan Alami Sarung Tenun Sikka dan Pantangan Perempuan yang Datang Bulan

Kapas yang diambil dari kulitnya baisanya masih bercampur dengan banyak biji. Kapas itu dijemur sampai kering. Setelah kering, barulah biji-bijinya dipisahkan. Untuk memisahkah kapas dari biji, penduduk setempat menggunakan ngeung atau keho.

Setelah bersih dari biji dan kotoran lainnya, kapas dihaluskan dengan alat serupa busur kecil, juga dipilin dengan telapak tangan.


Nah, kapas yang sudah dihaluskan itulah yang kemudian dipintal menjadi benang. Alat untuk memintal ini berupa lingkaran mirip kincir hanya ukurannya lebih kecil. Juga terbuat dari kayu.

Benang-benang panjang itulah yang akan jadi bahan utama untuk membuat tenun ikat nantinya.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (1)

Iklan

One thought on “Benang Untuk Tenun Ikat pun Dipintal oleh Kaum Hawa Sikka

  1. Ping-balik: Pertegas Identitas, Larantuka Ciptakan Festival Makan Ikan – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s