Lewat Tenun Ikat, Perempuan-Perempuan Sikka di Flores Menjaga Keluarga Sekaligus Tradisi

img_0368

Sarung tenun masuk daftar kebutuhan primer pendudukan di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Para perempuan di sana bertugas menjaga kelestarian tenun-tenun itu.

Sejatinya bukan cuma se-Kecamatan Maumere, sarung tenun penting buat kehidupan sehari-hari. Sarung tenun jadi barang primer buat orang-orang se-Kabupaten Sikka, di mana Maumere berada.

Sarung tenun itu harus hadir dalam semua proses kehidupan masyarakat Sikka. Dari kelahiran, pernikahan, sampai upacara kematian.

“Ini ada filosofinya, yakni sebagai bukti kalau pihak perempuan pandai menenun,” kata Yosef Gervasius, 45 tahun.

Gervasius adalah ketua sanggar Bliran Sina di Dusun Watublopi, Desa Kojowair, Kecamatan Hewokloang, Sikka, NTT. Kami menemui Yosef di sela-sela finis etape pertama Tour de Flores 2016 di alun-alun Kabupaten Sikka.

Baca Juga: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (1)

Dia tak datang sendiri. Yosef membawa ibu-ibu anggota sanggar untuk turut pameran. Ibu-ibu ini mengingatkan kepada nenek saya. Sebagian besar dari mereka masih nginang, tahu kan, mengunyah sirih dan tembakau, rambut digelung, mengenakan sarung tenun, dan nyeker alias tak beralas kaki.

Balik lagi ke soal sarung tenun ikat Sikka ini. Pada upacara pernikahan, sarung tenun menjadi salah satu benda penting dalam mahar yang disajikan oleh pengantin wanita kepada pengantin pria. Sarungnya  bermotif kikir kobar.

IMG-20160529-WA0008.jpg

“Di desa kami penduduknya 300 kk (kepala keluarga). Di setiap rumah itu ada yang menenun. Karena nantinya dalam pernikahan pihak perempuan ini harus membawa sarung tenun sebagai bukti bisa menjaga keluarga,” tutur Yosef.

Biasanya, anak-anak perempuan di Kojowair ataupun desa lain di Sikka, lanjut Yosef, mulai belajar menenun sejak usia 10 tahun tau ketika mereka kelas 4 Sekolah Dasar.

Mereka tidak langsung menenun. Tugas pertama anak-anak perempuan itu memilin kapas hingga menjadi benang.

Barulah setelah bertambah umurnya, naik kelas 5 atau 6 SD, mereka mulai berlatih mengikat motif dan ragam hias. Proses ini dilakukan sebelum pewarnaan.

Nah, dalam fase belajar ini biasanya mereka belajar ‘motif laki-laki’ karena motifnya sederhana. Barulah setelah mulai terbiasa dan hasilnya bisa lebih halus, pola ‘tenun perempuan’ mulai dipelajari.

img_0378
Seperti batik, motif pada sarung tenun Sikka ini juga memiliki filosofi tertentu. kain semacam ini biasanya turun-temurun dari beberapa generasi. Motif untuk jenis ini juga hanya tertentu saja, disebut motif tua.

Motif paling populer untuk sarung tenun Sikka adalah tokek. Mereka menganggap motif ini sebagai naga, sebagai simbol buat siapa saja yang melihatnya.

Menurut kabar terbaru bulan Januari 2017, Bupati Sikka Drs Yoseph Ansar Rera menyebut paten untuk 58 motif sarung tenun Sikka itu sudah didaftarkan kepada Kementerian Hukum dan HAM.

Kalau ingin mendapatkan sarung tenun ini, bisa langsung berkunjung ke kampung Watublopi. Asyik, kan bisa ngobrol sama penduduk dan menyaksikan langsung proses pembuatan tenun. Tapi, kalau memang tak sempat, mudah kok untuk menemukannya di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Sikka.

Iklan

2 thoughts on “Lewat Tenun Ikat, Perempuan-Perempuan Sikka di Flores Menjaga Keluarga Sekaligus Tradisi

  1. Ping-balik: Warna Alami Sarung Tenun Sikka & Pantangan Perempuan yang Datang Bulan – femidiah.com

  2. Ping-balik: Benang Untuk Tenun Ikat pun Dipintal oleh Kaum Hawa Sikka – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s