Surabaya Kian Nyaman dengan Taman Kota, Kapan Terminal dan Transportasi Umumnya?

tugupalhawan3

Surabaya makin hijau. Surabaya makin rapi. Surabaya makin cantik. Saat tiba dengan jalan masuk terminal Bungurasih, rasanya semua kabar bagus itu sirna.
Sudah cukup lama saya tidak melewati Terminal Bungurasih untuk keluar-masuk kota Surabaya. Belakangan beberapa kali mampir Surabaya, saya lebih sering melalui Bandara Juanda sebagai pintu masuk.

Pengalaman kurang mengenakkan saya dapatkan saat mendapatkan tugas untuk meliput Munas PBSI pada akhir Oktober 2016 di Surabaya.  Berangkat dari Palur, Jawa Tengah, saya mempertimbangkan untuk menggunakan moda kereta api dari Stasiun Balapan. Tapi, ternyata tiket kereta habis.

Jalan terakhir adalah naik bus. PO Eka jadi pilihan. Sebab, dari pengalaman bertahun-tahun lalu, bus ini paling nyaman. Suara mesinnya tak mengganggu saat tidur, air conditioner (AC) nya adem bahkan sampai memaksa saya untuk mengeluarkan sarung, juga cukup aman dari copet dan riwayat kecelakaan.

Setelah menumpang di atasnya dengan start perjalanan pukul 05.00, ternyata bus Eka sudah tak seindah dulu lagi. Atau cuma kebetulan yang saya naiki. Busnya sudah tidak harum. Beti alias beda tipis dengan bus ekonomi cuma yang ini pakai AC.

Mungkin seperti mantan pacar ya. Indah di angan-angan tapi saat ketemu, “oh ya begitu saja”.

Yang tidak berubah, PO Eka ini masih menawarkan makan di tengah jalan. Dengan ongkos Rp 87 ribu, para penumpang mendapatkan ekstra makan di Rumah Makan Duta di Ngawi. Penumpang bisa memilih menu, soto, bakso, rawon, atau nasi campur.

tugupahlawan.jpg

Setelah itu, tak ada transit lagi. Bus bablas ke Terminal Bungurasih. Tiba di Surabaya sekitar pukul 13.00.

Nah, di sinilah pengalaman kurang menyenangkan bergulir. Saat turun, saya dan penumpang lain dirubung belasan (sebenarnya saya kurang tahu peran mereka) sopir, calo, atau yang lain.

Mereka kemudian langsung menanyakan tujuan kepada penumpang-penumpang yang baru saja turun

“Mau ke mana mbak?” tanya seorang calo.

Saya tak merespons. Saya berjalan begitu saja mengambil tas yang ada di bagasi bus.

“Mbak, mau ke mana,” tegur dia lagi.

Belum sempat saya menjawab, si abang ini malah mengomel.

Sebenarnya saya tidak terkejut dengan perlakuan abang-abang yang memberondong penumpang yang baru saja turun dari bus. Situasi itu sering saya alami saat masih sering bepergian lewat terminal atau bahkan di beberapa bandara di Indonesia.

Namun, karena pertanyaan si abang ini berlanjut dengan omelan terang saya tak terima. Adu mulut singkat terjadi, sampai kemudian ada pihak yang melerai.

Ternyata ini baru ‘godaan’ buat saya sebagai penumpang di terminal Bungurasih pada babak pertama. Muncul babak kedua. Tiba-tiba ada yang merubung, menyodori pertanyaan tujuan mau ke mana yang berulang-ulang dan terasa mengintimidasi. Kali ini diajukan oleh petugas bus Damri. Yang ini lebih jelas dia siapa karena seragam yang dikenakan biru muda-biru tua.

tugupahlawan2.jpg

Saya bahkan sudah menjawab pertanyaan dengan baik-baik. Tapi, petugas ini seolah belum puas dan mengajukan pertanyaan berulang-ulang.

Saya kemudian mengajaknya bicara, dari awalnya saya jawab baik-baik, tapi lama-lama kadarnya sudah mulai meninggi. Saya tanya ini dan itu.

Mungkin melihat rekannya keteteran, beberapa petugas bus Damri melerai kami. Ada pula yang menarik si pelaku menjauhi saya.

Hingga kemudian saya terbebas dari pelaku. Meski mendapatkan aksi kurang oke dari petugas Damri, saya tetap inin menjajal moda ini menuju tempat penginapan.

Beruntung, karena saat berkegiatan di Surabaya, saya dan teman-teman selalu menggunakan taxi online.

Soal pengalaman transportasi umum ini tetap bikin saya penasaran. Karena sesuai pengalaman soal transportasi umum di Surabaya ini memang masalah tersendiri sejak saya tinggal di kota ini. Bukan cuma sambutan di terminal, tapi juga angkutan umum yang minim dan jalurnya tidak praktis. (Tentunya ini subjektif karena menakar dengan kebutuhan saya).

Sebagai contoh untuk menuju kawasan Kertajaya atau Stadioan Tambaksari dari Ketintang, tempat saya tinggal, butuh dua kali ganti angkutan. Itupun dengan durasi ngetem di Terminal Joyoboyo yang tidak bisa diprediksi.

Saat saya menanyakan kepada teman-teman yang masih tinggal di Surabaya, mereka kompak menilai ransportasi umum di Kota Pahlawan ini memang belum ada perbaikan.

“Malah tambah kacau sekarang. Yo wes ngono iku (ya seperti itulah),” kata Ilham Butsiyanto, teman saya jurnalis di Surabaya.

Senada, Dina Anisa, berpendapat tak ada perubahan signifikan soal transportasi umum di Surabaya. Kalaupun ada perubahan adalah kian macetnya jalan utama di kota tersebut.

Pengalaman di terminal Bungurasi dan pernyataan teman-teman saya seperti menunjukkan kalau Surabaya punya dua wajah yang berbeda, seperti dua sisi mata uang.

Taman-taman kota yang sudah hijau membuat warga dan pelancong nyaman. Namun, di sisi lain terminal sebagai salah satu jalan masuk bikin pendatang keder. Juga soal transportasi umumnya. Semoga segera ada perbaikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s