Merayakan Tahun Baru Bersama Anak-Anak Bantargebang

tahunbaru

Malam Tahun Baru berama Sahabat ARA di Sekolah Alam Tunas Mulia Bantargebang, Bekasi.

Kami menyambut malam pertama 2017 di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantargebang, Bekasi. Di malam tahun baru ini, kami menyalakan kembang api dan bersama-sama merawat mimpi.

Perjalanan kami telah melewati durasi satu jam. Berangkat dari Stasiun Bekasi, tanpa macet, kini memasuki area Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Kami yakin lokasi Sekolah Alam Tunas Mulia tak jauh dari sini. Gunungan sampah ada di sisi kami. Apalagi GPS menunjukkan perjalanan ke sekolah alam itu tinggal enam menit lagi.

Tapi tampaknya kami termakan tipuan GPS. Jalur di depan kami tertutup oleh gundukan sampah. Buntu.

Mumpung ada seorang bapak dengan sepedanya di pinggir jalan, saya membuka jendela. Bertanya di mana lokasi sekolah itu.

Belum mengajukan pertanyaan, aroma kurang sedap lebih dulu menyambar-nyambar. Dua teman saya langsung sibuk mencari parfum dan menyemprotkan ke udara.

img_1173

Saya bersikukuh tak menutup jendela. Kemudian mengajukan tanya.

“Pak numpang tanya, Sekolah Alam Tunas Mulia di sebelah mana ya?” tanya saya.

“Wah sekolah apa ya, saya kurang tahu,” ujar si bapak.

“Apakah jalur di depan ini bisa dilewati mobil, Pak?”

“Semestinya bisa, tapi sekarang ada urukan sampah. Sebaiknya putar balik,” imbau si bapak.

Berhitung waktu yang merangkak mendekati tengah malam dan aroma kurang sedap, saya segera menutup jendela.

Driver Uber yang menemani kami, Joni, segera memutar kemudi. Kami balik badan. Tekadnya cuma satu: pokoknya keluar dari gunungan sampah ini lebih dulu.

Berpegangan petunjuk GPS, lokasi tak segera ketemu. Kami salah masuk gang sekali lagi. Barulah setelah mendapatkan bantuan dari Ade yang sudah lebih dahulu tiba, lokasi kami temukan.

Kami tiba di aula Sekolah Alam Tunas Mulia pukul 22.20. Sudah cukup larut. Kardus-kardus makanan sudah tak lagi rapi. Beberapa sisir pisang sudah tak lagi utuh. Gelas-gelas kopi tak lagi mengelurkan uapnya. Volumenya juga tinggal separo.

img_1149
Namun saya tak ketinggalan semua acara. Masih tersisa ramah tamah, doa bersama, dan menunggu detik-detik tahun baru.

Kali ini saya bermalam tahun baruan dengan Akar Rumput Adventure (ARA). Sahabat ARA–begitulah ARA menyebut rombongan yang mengikuti kegiatan mereka–menghabiskan tahun baru dengan siswa Sekolah Alam Tunas Mulia. Selain para murid, pendiri sekolah Nadam Dwi Subekti hadir dalam acara itu.

Anak-anak ini tak semuanya turut menjadi pemulung.  Murid-murid di sekolah ini, baik SD, SMP, dan SMA, adalah anak-anak para pemulung di TPA Bantargebang. Mereka tinggal di bedeng-bedeng di area TPA.

img_1172
Sahabat ARA lain sudah tiba sejak siang. Mereka telah menyiapkan ini itu untuk berbagi dengan anak-anak di sini. Mereka juga melaksanakan sederet kegiatan sosial. Ada yang mengecat pagar sekolah, juga bebersih rumput dalam areal seluas 5 ribu meter persegi itu.

Aktivitas tak melulu bersih-bersih dan berbenah. Acara berlanjut dengan main bola dan main basket. Malah, beberapa teman sempat berjalan-jalan ke gunungan sampah di TPA itu. Saya teringat aroma kurang sedap saat membuka jendela tadi. Bagaimana mereka mengatasinya?

“Ya, ditahan-tahanin,” kata Xaveria Yunita soal aroma menyengat di sana.

Nah, yang rentetan acara itu saya sudah ketinggalan. Saya juga tak ikut dalam acara khas dalam tiap tahun baruan bersama ARA.

Saya sebut acara itu sesi curhat dan merawat mimpi. Pemandunya Budi Riawan, owner ARA. Buat saya dia senior di kampus, juga panitan soal karier.

Seperti yang sudah-sudah, acara itu sudah digelar usai sholat maghrib. Acara dibuat dengan duduk bersama untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak di sana. Juga Sahabat Ara yang ada.

Katanya Bayu dari Jawa Pos sampai bercerita panjang lebar soal pengalaman sebagai jurnalis. Dia berpesan agar anak-anak rajin membaca.


Dari bagian murid, salah satu dari mereka bilang merindukan tempat yang lebih nyaman dan tak beraroma kurang sedap.

“Nama saya Rina. Saya ingin menjadi penyanyi biar biasa orang tua pergi haji dan membeli rumah yang jauuuuh dari Bantargebang,” tutur Rina.

Keinginannya disambut tepuk tangan oleh teman-temannya. Kemudian dia pamer kemampuan bernyanyi dangdut. Suaranya oke juga.

IMG_1151.JPG
Bergiliran satu demi satu anak-anak usia SMP dan SMA itu mengungkapkan keinginan, mimpi dan cita-cita mereka.

Mas Boed–sapaan karib Budi Riawan–merespons dengan menyuntikkan motivasi buat anak-anak sekolah itu. Saya anggap itu sebagai sebuah langkah awal agar anak-anak mampu merawat mimpi mereka, cita-cita mereka.

“Begitu kamu dapat kesempatan… Kesempatan itu kayak kilat, kilat itu terus-terusan atau atau enggak? Enggak kan. Kalau kamu ada yang sponsori sekolah ambil dan dan jadi yang terbaik. Jangan pernah sia-siakan itu karena begitu pintu tertutup kamu enggak ada harapan lagi. Jadi tangkap benar-benar dan manfaatkan,” ucap Budi.

“Kalau ingin dapatkan sesuatu kamu harus berani menebusnya. Jangan berpikir kita yang paling menderita,” imbuh dia.

IMG_1171.JPG

Rangkaian sesi curhat ini saya simak lewat rekaman video yang dibuat Niko.

Acara ditutup dengan menyalakan kembang api di sekitar pukul 12.00. Tahun pun berganti dari 2016 menjadi 2017.

Bersalaman, cipika-cipiki. Kemudian berfoto bersama. Sedikit doa dan harapan untuk mereka juga diri sendiri.

Selamat tahun baru….

Foto-foto: Xaveria & Niko Wazir


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s