Memandang Secuil Keelokan Geopark Ciletuh dari Puncak Darma

FullSizeRender(6).jpg

Puncak Darma menjadi tribun penonton untuk memandang secuil kawasan Geopark Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat. Pas untuk cuci mata.

Jalanan berbatu membentang sejauh mata memandang. Memaksa kami menunduk dan melihat alas kaki yang kami pakai.

Dari tujuh orang yang ada dalam rombongan ini, cuma satu orang yang memakai sepatu. Dia Opik.

Sisanya sandal jepit berbagai varian. Dua orang, Ropesta dan Tia Agnes, menggunakan sandal gunung, dua orang memakai sandal jepit plastik yang napak licin–aku dan Yusmei–, dua lainnya sandal swalow, Mbak Retno dan Memet.

Segera menyadari kondisi, kami kompak berbisik. “Salah kostum nih kita tampaknya,” tutur Ropesta Sitorus.

“Katanya ke pantai, lha kok treking,” sahut Memet.

Kalau ditelisik sejak awal, perjalanan kami memang kurang persiapan sejak dari pikiran. Kami sepakat melakukan jalan-jalan sekitar pukul 17.00. Tujuannya ke kawasan Ciletuh di Sukabumi ini.

Padahal dari Taufik yang kami kenal sebagai salah satu pengurus PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi), tak menyarankan kami melancong ke Ciletuh dalam periode ini.

Dia cuma berpesan kalau memang mau ngotot datang ke Ciletuh, jangan lupa untuk membawa payung atau rain coat.

“Di sini sedang sering hujan. Malah tak ada hari enggak pakai hujan,” kata Taufik.

Namun saat ide jalan-jalan dibuat dalam grup WA Wiken Kemana yang mendadak dibuat karena ada long weekend Natal, tak satupun yang punya usul lain. Agnes yang sebelumnya pernah berkunjung ke Ciletuh bareng saya juga tak keberatan buat kembali lagi ke sana.

Dari beberapa referensi, didapatkan Geopark Ciletuh memang tengah bersolek. Lokasi ini sedang mengejar label Global Geopark atau Geopark Internasional ke UNESCO tahun 2017.

Dilihat begitu saja, Geopark Ciletuh ini mirip dengan lembah Harau di Payakumbuh, Sumatera Barat. Atau mirip Gunung Sewu di Yogyakarta.  Istimewanya, di beberapa dinding bukit di Ciletuh ini ada banyak air terjun.

Kalau secara geologi, batuan alam yang terdapat di geopark ini merupakan hasil sedimentasi berbagai fosil, patahan, dan lempengan bumi puluhan juta tahun silam. Nah, kelebihan itu yang lagi digenjot pemerintah setempat agar punya keuntungan ekonomi buat penduduk lokal.

Saya kurang tahu soal data angka kemiskinan di sini, namun saat pertama datang kemari dua tahun silam jalanan masih berlubang-lubang. Penduduk juga masih menganggap lumrah tak ada toilet di rumah mereka.

Keterangan dari Taufik terbukti. Hujan menjadi teman perjalanan kami sejak pagi. Bahkan, kami harus menunda perjalanan ke batas desa Puncak Darma di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi hingga menunggu hujan reda.

Tiba di Ciletuh pukul 04.00 WIB, kami menumpang di sebuah penginapan di area Pantai Palangpang. Dari rencana numpang sampai sekitar pukul 06.00, kami baru meninggalkan tempat ini pukul 08.00 karena menunggu hujan reda. Bahkan, kami sempat berencana untuk menyewa kamar saja karena tak ada jaminan hujan bakal reda.

DCIM100MEDIA
Beruntung matahari mulai galak. Saya, Agnes, dan Mbak Retno berjalan lebih dulu mendekati spot favorit Pantai Palangpang. Yakni, di area tepi pantai dengan susunan huruf besar-besar serupa di taman kota: GEOPARK CILETUH. Juga berderet-deret warung indomie dan nasi goreng.

Tapi kemudian gerimis datang lagi. Sembari mencari sarapan, kami berkumpul di salah satu warung makan yang ada di area ini.

Setelah makan, kami putuskan bagaimanapun situasinya kami harus mendekat ke Puncak Darma. Siapa tahu cuaca berbaik hati.

Setelah sampai di kaki bukit bukit Puncak Darma dan ternyata kami baru paham kalau salah kostum, kami tetap bersemangat untuk tetap treking. Sebelum meninggalkan mobil, kami menyiapkan bekal air dan payung.

Perjalanan ke Puncak Darma sebenarnya tidak terlalu berat. Kalau dihitung, kami hanya perlu melewati dua punggungan. Namun, kondisi hujan membuat bebatuan menjadi licin karena di beberapa area bercampur lumpur.

Buar para pejalan yang kondisinya kurang prima tapi ngotot ke puncak, bisa memilih ojek sebagai moda transportasi. Biayanya lumayan pulang pergi Rp 60 ribu.

Soal ini, teman seperjalanan saya Yusmei Sawitri merasakan langsung ngeri-ngeri sedap naik ojek ke Puncak Darma. Dia mencatatnya dengan: Drama di Puncak Darma.

Awalnya kami masih bertujuh kompak untuk berjalan kaki menuju Puncak Darma. Perjalanan memang langsung menanjak. Sedikit sekali bonus atau area landai buat narik napas.

Sebuah view Pantai Palangpang setelah sekitar 15 menit berjalan menjadi hiburan. Namun, di area itu pula Memet mulai merajuk. Dia bilang sudah cukup bahagia melihat pemandangan dari area tersebut. Rupanya itu kode buat tidak usah treking lagi.

Namun, kami berenam bersikukuh kalau view dari puncak bakal lebih wow. Lagipula, mumpung hujan tak lagi turun.

Meski pelan kami melanjutkan perjalanan. Di depan terlihat sebuah warung bambu, yang kami sebut pos tiga. Karena belum terlalu lama berjalan kaki, kami memutuskan untuk tak singgah. Namun baru beberapa langkah, hujan turun. Kami pun tergesa berlari kembali ke bawah menuju warung tadi.

Hujan malah makin deras. Sembari menanti hujan reda, kami memesan teh dan kopi.

Beberapa pelancong yang baru turun juga singgah. Bertukar pengalaman, sebagian bilang kalau puncak sudah dekat, sebagian lagi masih cukup jauh.

Karena keterangan itu, Memet dan Yusmei memutuskan untuk tinggal saja di gubuk. Mereka waswas tak sanggup berjalan lagi.

Namun kami tak memberi restu. Kami memaksa mereka untuk ke puncak apapun caranya. Akhirnya diputuskan Yusmei dan Memet naik ojek. Tarif tak berkurang, tetap Rp 60 ribu per kepala.

Setelah hujan reda, kami berenam memulai perjalanan. Memet dan Yusmei belakangan. Ojek mereka belum datang.

Sejak warung ketiga ini, tak ada warung lagi di tengah jalan. Barulah saat tiba di puncak warung kembali ditemukan.

Sepanjang perjalanan, jalur tetap berbatu. Kami cuma menemui satu persimpangan setelah menuruni bukit pertama. Katanya jalur ke arah kanan menuju puncak Bunga, areal tanah milik Gubernur Jawab, Aher. Untuk menuju Puncak Darma, pilihlah jalan ke kiri, cenderung berlumpur dan licin.

Hanya perlu naik satu punggungan, di sanalah Puncak Darma berada.

Puncak Darma ini ditandai dengan tulusan besar-besar berwarna hijau: PUNCAK DARMA. Juga sebuah toilet berwarna hijau dan papan petunjuk bertuliskan Puncak Darma. Bendera merah putih yang menambah lokasi ini menjadi instagramable jadi spot favorit untuk berfoto.

Abaikan segala asesoris tambahan di Puncak Darma. Longoklah ke bawah. Anggap Puncak Darma ini sebagai tribun penonton. Sebuah teluk berbentuk layaknya tapal kuda dibatasi pasir dan bergandengan dengan rumput koboi kuning-hijau jadi pemandangan di bawah sana.

Pantai berwarna kecoklatan saat dilihat dari atas. Mungkin karena terlalu banyak tumpahan air dari sungai Cimarinjung yang arusnya tengah sangat galak.

Menurut Ujang, salah satu penduduk setempat, sebelum bernama Puncak Darma, lokasi di ketinggian 230 Mdpl ini bernama Pasir Muncang atau Pasir Kemiri, juga dikenal bukit kuntilanak. Karena konon ada bayangan mbak-mbak yang suka muncul di sana menjelang petang.

Nah, kalau nama Puncak Darma itu berasal dari wasiat Direktur CV. Darma Guna, Almarhum Bapak Haji Opan Sopandi. CV itu adalah pemborong proyek jalan dari desa sampai ke Puncak Darma.

Hujan dan tak membawa bekal makanan membuat kami lapar di siang itu. Beruntung salah satu pemilik warung tempat kami berteduh punya simpanan beras. Mbak Retno berinisiatif minta nasi ditanak. Si bapak enggak keberatan.

“Enggak perlu bersih-bersih kok pak nyuci berasnya,” kata Mbak Retno yang sudah tak sabar untuk makan siang.

“Betuuullll,” sahut skuat tim dadakan jalan-jalan ini.


Tak berapa lama, nasi pun matang. Kami makan dengan lauk mi goreng dan kacang sukro plus kerupuk putih seribuan. Eh lumayan ada sosis yang bisa langsung makan.

Pas saat makan usai, hujan reda. Kami pun pamit turun. Perjalanan dengan jalur yang sama dengan saat naik kami lewati lagi.

Kami harus segera sampai ke kaki bukit untuk segera bisa mampir di Air Terjun Cimarinjung.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Memandang Secuil Keelokan Geopark Ciletuh dari Puncak Darma

  1. Ping-balik: Tips & Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Melancong ke Geopark Ciletuh – femidiah.com

  2. Ping-balik: Berwisata ke Geopark Ciletuh di Sukabumi, Ke Mana Saja? – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s