Terpesona Ubur-Ubur Tanpa Sengat di Danau Kakaban

kakaban1

Warna air hijau biru di bawah sana menarik minat saya untuk segera mendekat. Iming-iming berenang dengan ubur-ubur bikin makin tak sabar buat nyemplung di Danau Kakaban.

“Subhanallah indah banget, bagaimana di bawah sana ya,” celetuk Ervira, salah satu rekan seperjalanan di Danau Kakaban.

Bayangan pesona Kakaban memang sudah kerap menari di angan-angan. Foto-foto para pelancong di majalah, facebook, twitter, instagram kompak mengabarkan kalau tempat ini: indah, cantik, menakjubkan, surga tersembunyi dan kderivatnya.

Baik pelancong profesional atau amatiran semua sama. Mereka bilang Kakaban yang ada di Kalimantan Timur ini indah.

Saya kemudian mencari tahu. Ada satu alasan lain yang membetot keinginan untuk harus ke Danau Kakaban dalam waktu dekat. Kalau bisa tahun ini.

Saya mendapatkan fakta kalau UNESCO memberi stempel Danau Kakaban sebagai kawasan warisan dunia (World Nature Heritage Area) sejak 2004. Tempat itu dinilai memiliki keragaman dan kekayaan spesies yang unik.

Saya yang belajar Biologi lebih dari satu pelita sampai menyesal dibuatnya. “Kenapa tidak dari dulu saya ke tempat ini?”

Kalimat-kalimat penyesalan silih berganti. Semestinya saya kemari untuk praktikum. Seharusnya saya bisa bikin penelitian di sini.  Semestinya… (banyak lagi penyesalan berkelindan).

Penyesalan itu tak lepas dari kedekatan fokus belajar saya dengan danau ini. Soal perairan payau dan habitatnya plus potensi pencemaran di area yang serupa itu.

Ah daripada berlama-lama menyesal, saya bergabung dengan sebuah trip senang-senang: Modus Trip. Pesan tiket penerbangan. Kemudian mengatur cuti.

Kini saya berdiri di sini. Di tangga teratas Danau Kakaban. Saat di pintu masuk tadi tertulis tiket masuk Rp 25 ribu. Saya sudah membayar kolektif, bersama paket penginapan, makan, dan kapal untuk transportasi lokal.

Tak mau menyesal dua kali, saya bergegas menuruni anak tangga. Saya menuju dermaga papan sebagai start terjun ke air di Danau Kakaban.

Untuk berenang disini, kami dilarang memakai fin dan mengoleskan sunblock. Hanya snorkeling atau kaca mata renang yang diperbolehkan sebagai alat tambahan. Dikhawatirkan fin bakal menabrak dan mengoyak tubuh ubur-ubur yang sangat lunak.  Jangan sampai juga memegang ubur-ubur itu, apalagi mengangkat ke permukaan air.

Penduduk lokal menyebut ubur-ubur itu dengan bung. Ubur-ubur tanpa sengat. jadi pelancong bisa berenang tanpa perlu waswas kena racunnya yang bikin gatal.

Petugas yang berjaga-jaga mengatakan ubur-ubur di Kakaban ini memang cukup lemah. Sebab, habitatnya yang sangat aman. Soal tidak punya alat untuk menyerang dibilangnya ya karena enggak punya musuh.

Dia bilang Kakaban ini terbentuk sejak dua juta tahun lalu. Awalnya, Kakaban merupakan pulau terumbu karang berbentuk lingkaran yang terendam air laut. Tarik-menarik antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi membuat posisi Kakaban terus naik. Air laut yang terperangkap tak bisa ke mana-mana.

Dalam prosesnya karang ditumbuhi pepohonan bakau. Air hujan menambah volume danau itu. Makanya air menjadi payau, tidak asin juga tidak tawar.

Pada bagian faunanya pun jadi unik. Ubur-ubur yang tinggal di sana tak punya penyengat sebagai alat pertahanan diri.

kakaban2
Dari beberapa referensi menyebutkan ada empat spesies ubur-ubur yang tinggal di sana. Yakni, Aurelia aurita, Mastigias papua, Cassiopeia ornata, dan Tripedalia cystophora.

Masing-masing jenis ubur-ubur itu memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Aurelia aurita berbentuk seperti piring transparan dengan ukuran 150-40 sentimeter.

Mastigias papua berbentuk seperti payung dengan ukuran 1-20 sentimeter. Cassiopeia ornata cuma ada di dasar danau. Bentuknya juga seperti payung.

Tripedalia cystophora berwarna transparan dan paling kecil di antara ubur-ubur lainnya.

Selain ubur-ubur di sana juga jadi tempat hidup alga, cacing tabung, anemon laut, udang, ikan kardinal, dan ikan gobi.

Tak ada batasan waktu untuk berenang di danau itu. Boleh satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan dari pagi sampai sore. Bosan sih tidak, tantangannya capek dan lapar.

Rombongan saya berada di danau itu sekitar empat jam. Berenang sepuasnya. Sesekali menyelam. Melihat langsung ubur-ubur di dalam air. Ambil foto. Mentas. Nyemplung lagi. Foto-foto lagi. Begitu saja berulang-ulang.

Setelah seluruh rombongan akhirnya kalah oleh capek dan lapar, kami menyudahinya. Kami kembali menaiki tangga, berhenti sejenak kemudian berfoto-foto dan bercengkerama.

Hingga keluar dari area dan makan di halaman depan Pulau Kakaban itu. Kami makan di atas dermaga. Di bawah kami sekawanan biawak mendesis-desis. Tidak menganggu, cuma cari perhatian.

Kami makan dulu ya…

Foto-foto: Bustamil Putra

Iklan

One thought on “Terpesona Ubur-Ubur Tanpa Sengat di Danau Kakaban

  1. Ping-balik: Mitos Pulau Kakaban, Maratua, Sangalaki, dan Samama – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s