Serba Kerbau dan Kuliner Enak Lainnya di Kudus

img_2684

Tak biasa menggunakan daging sapi, di Kudus masakan daging lebih familiar dengan kerbau. Kuliner enak lainnya juga banyak tersedia.

Tidak sulit mencari makanan enak di Kudus. Oleh pemerintah setempat makanan-makanan enak dilokalisir di Taman Bojana, tidak jauh dari pusat kota Kudus.

Di sana ada kios soto dan pindang kerbau yang legendaris yang legendaris, kios Mbak Mar atau bisa juga pilih tempat makan di warung Pak Sulichan.

Selain soto kudus, ada sate dan beraneka kuliner lainnya. Nah, untuk urusan makanan yang menggunakan daging, Kudus boleh dibilang tak familiar denga daging sapi. Tapi memakai daging kerbau.  Itulah yang bikin kuliner Kudus unik.

Banyak cerita yang berkembang di sana terkait asal muasalnya pilihan daging kerbau ketimbang sapi itu. Ada yang bilang masyarakat Kudus memang dilarang makan daging sapi. Kisah ini ada di bagian lain ya.

Baca Juga: Mengintip Dapur PB Djarum: Ada Menu Khusus untuk ‘Anak Kurus’

Dari obrolan dengan penduduk lokal, saya jadi tahu tempat-tempat makan enak di Kudus. Ini dia beberapa kedai makanan yang enak itu dan sempat saya kunjungi.

1. Pindang dan Soto Kerbau Mbak Mar

img_2679Kalau sedang di Kudus njujug saja ke Taman Bojana dan singgah di kedai Mbak Mar. Tidak sulit menemukan warung makan ini. Posisinya ada di dalam pasar. Baliho dengan tulisan besar-besar di salah satu dinding memudahkan untuk menemukan kios ini.

Selain menyediakan pindang dan soto kerbau, ada juga pilihan soto dan pindang ayam. Kalau tidak ingin makan berat atau malah nasi dengan pilihan itu masih kurang mengenyangkan, tersedia sajian lain, buat ngemil ataupun pilihan lauk juga ada: paru, sate telor puyuh, tempe dan tahu goreng, juga kerupuk.

Penyajian soto di warung Mbak Mar ini sama seperti soto pada umumnya. Soto kerbau juga disajikan dalam mangkuk dengan irisan daging kerbau, taoge, dan bawang merah goreng.

img_2682Kalau pindang kerbau disajikan dengan piring. Irisan daging kerbau dilengkapi dengan daun so alias daun melinjo, juga ditaburi bawang merah goreng. Sambal dan jeruk nipis bebas ditambahkan.

Warung Mbak Mar ramai setiap hari. Pengunjung lebih banyak lagi pada akhir pekan.

“Setiap hari ramai, kalau akhir pekan bisa lebih ramai. Setidaknya 3-4 kg daging kerbau yang dimasak pada hari Senin sampai Jumat, kalau Sabtu-Minggu bisa sampai 5 kg,” kata Dian, salah satu karyawan di kios itu.

Berapa harga per porsinya?

Seporsinya tidak mahal. Cuma Rp 12.000. Warung ini sudah dikelola oleh generasi kedua Mbak Mar.

2. Sate Kerbau Nusantara Pak Djastro Jasni

img_2471Berbeda dengan sate kambing, ayam, atau sapi yang diiris, sate kerbau ini diolah setelah daging ditumbuk. Dagingnya diiris dengan dipisahkan daging dan uratnya lebih dulu.

Untuk memisahkan minyak, daging tumbuk itu diinapkan satu malam lebih dulu baru dibakar dan siap disajikan. Ketumbar dan jinten juga membedakan rasa sate kerbau ini dengan sate-sate lainnya.

Sebagai teman makan sate kerbau, sambal satenya dibuat dari  olahan air cabe, air kentang yang kemudian dicampur tumbukan kacang dan srondeng (parutan kelapa yang telah disangrai). Selain itu disajikan acar cabai kalau kurang pedas.

Uniknya lagi harga sate dihitung per tusuk, bukan per porsi meski disajikan dalam satu piring. Per tusuk dihargai Rp 4.300. Katanya sih kalau hari-hari biasa, daging yang diolah sampai 10 kg, kalau akhir pekan bsia sampai 15 kg.

Baca Juga: Perjalanan PB Djarum: Dari Barak Rokok menjadi Hall 16 Lapangan

Lokasi warung sate kerbau Nusantara Pak Djastro Jasni ini terletak di Jl. KH Agus Salim Kudus. Sate kerbau ini juga sudah dikelola oleh generasi ketiga Pak Djastro Jasni, yakni pasangan Pak Totok dan Ibu Dewi.

Warung sate kerbau Nusantara itu buka dua kali sehari, pagi dan sore. Pagi mulai pukul 07.30-11.00 dan sore mulai 17.00 sampai 21.00.

3. Wedang Ronde Mak Moyong

img_2474Ronde Mak Moyong tepat bersebelahan dengan sate kerbau Nusantara Pak Djastro Jasni. Tiap hari Rabu pekan kedua dan keempat warung ini tutup.

Wedang ronde Mak Moyong ini sudah berjualan sejak 1962 dengan kios ada di Jl Betengan Baru. Karena ada pelebaran jalan di tahun 1967, warung ronde itu pindah ke Jl. Sidodadi.

Mak Moyong bertahan sampai tahun 1987 hingga beliau patah tulang. Usaha dilanjutkan Bu Kiat sampai saat ini. Beliau yang berbincang-bincang dengan saya malam ini.

“Setelah saya kelola saya kembangkan dengan banyak menu minuman. Selain ronde, ada sekoteng, kacang hijau, dan aneka gorengan. Kemudian ada menu Yang Hun–es sarang burung sintetis, bahannya pakai agar-agar,” kata Bu Kiat.

Makin ke sini, menu minuman makin bervariasi. Es roti, es dawet, es kelapa muda, es kombinasi, dan es hung–semacam bajigur.

Warung ini buka mulai pukul 17.00-22.00. Soal harga bervariatif. Sebagai gambaran wedang ronde bisa dinikmati dengan merogoh kocek Rp 8 ribu, kacang hijau Rp 7 ribu, wedang ronde Rp 5 ribu.

4. Lenthog Tanjung

img_2690Lentog artinya Lontong. Dahulu, penjualnya berasal dari Desa Tanjungkarang (Tanjung). Maka dinamai Lentog Tanjung. Namun kini telah menyebar ke seluruh pelosok kota Kudus. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa.

Biasanya lentog tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu. Lentog Tanjung terdiri dari 2 kata, lentog dan tanjung. Lentog atau yang biasanya disebut lontong adalah sebuah makanan yang yang terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang .

Sedangkan tanjung (Tanjungkarang) adalah sebuah desa yang berada tepatnya di kecamatan Jati Kab. Kudus, Jawa Tengah. Ya memang makanan khas pagi ini dahulu hanya berasal dari desa sana dan hanya dijual di sekitar daerah tersebut dan ramai pada saat hari Minggu atau libur. Sekarang pun masih ada, walaupun dibeberapa tempat di lain desa juga berdiri warung warung yang menawarkan lentog Tanjung.

5. Garang Asem Kudus

Jika Anda berkendara dari Semarang kemudian masuk ke Kota Kudus, sebelum pintu gerbang utama Kudus, Anda akan menemukan warung Garang Asem paling terkenal di Kota Keretek ini. Berhadap-hadapan dengan Gedung Persaudaraan Haji.

Tak jauh dari lokasi itu ada restoran Sari Rasa. Lokasinya ada di Jalan Agil Kusumadya No. 20, Kudus, Jati Kulon. Menu andalan resto ini adalah garang asem.

Garang asem adalah sejenis lauk yang dibungkus dengan daun pisang lalu dimasak dengan cara dikukus (digarang). Ada garang asem yang terbuat dari ayam yang disuwir kecil-kecil dan ada juga yang dibuat dari jeroan ayam, ikan, dan tahu.

Ada sedikit kuah yang rasanya pedas dan asem bikin seger. Cita rasa itu berasal dari irisan tomat hijau dan blimbing wuluh plus potongan cabe.

6. Nasi Opor Sunggingan

img_2843Opor ayam Sunggingan ini bisa ditemui di jalan Niti Semito no 9 Kudus. Jangan disangka opor ini sama dengan yangbiasa dijumpai di Jogjakarta dan Solo. Opor Sunggingan (karena ada di Kampung Sunggingan) ini kuahnya dua macam. Kuah santan areh bening warnanya putih dan santan kental kekuningan dengan potongan tahu. Daging ayamnya tidak ikut direbus bersama santan, tapi dipanggang.

Saat dihidangkan, ayam itu dipoting pakai gunting, bukan disuwir. Pas makan, kita juga tak disodori sendok dan garpu, tapi di atas piring disediakan suru alias daun pisang untuk pengganti sendok.

Saat pesan akan ditanya sama penjualnya: mau pesan singel atau dobel. Urusan ini sesuai selera tentunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s