Menjelajah Cirebon: Goa Sunyaragi, Batik Trusmi, & Telaga-Telaga Cantiknya


Goa Sunyaragi2
Hari kedua di Cirebon kami manfaatkan untuk singgah di Goa Sunyaragi, telaga-telaga di pinggiran kota, dan mengabadikan sunset serta menikmati seafood yang rasanya yahud.


Di hari kedua penjelajahan Cirebon kami memutuskan untuk menyewa mobil. Harganya lebih mahal ketimbang sewa di Jakarta atau kota-kota lain. Kami harus merogoh kocek sampai Rp 500 ribu selama 12 jam all in.

Karena belum tahu ada persewaan sepeda motor, pilihan menyewa mobil untuk mendapatkan destinasi yang lebih banyak kami rasa cukup pas. Upaya untuk menawar lebih murah lagi nyatanya tak berhasil. Soal informasi moda di Cirebon saya tuturkan terpisah saja ya…

Lumayan, ada bonus yang diberikan sopir. Pak Johan yang sekaligus jadi guide kami rupanya seorang gostbuster pada masa mudanya. Jadi ada penuturan kisah seram lengkap dengan siapa (apa) saja yang menghuninya di setiap tempat-tempat yang kami singgahi dan lewati.

Perjalanan kami kali ini tidak selancar rencana. Pagi usai sarapan, kami dipaksa tinggal di hotel. Hujan turun dengan ugal-ugalan. Lumayan resto tempat sarapan masih buka. Artinya makanan masih tersedia melebihi jadwal seharusnya.

Setelah hujan mereda, kami memutuskan untuk memulai perjalanan, dengan mengubah urutan destinasi. Rencana jam pertama untuk mengunjungi Goa Sunyaragi pun kami alihkan dengan melongok Pusat Grosir Batik Trusmi.

Pusat Grosir Batik Trusmi

Saya memanfaatkan untuk mencari celana-celana batik yang kekinian. Lumayan dua lembar celama seharga Rp 70 ribuan bisa saya dapatkan. Sementara Agnes membeli leih beragam. Ada kemeja, kaus, tas, dan buah tangan untuk handai taulannya di kampung, eh di Jakarta.

Saat masuk ke dalam toko, pusat grosir batik Trusmi ini saya nilai seperti pusat oleh-oleh yang ada di Jogjakarta dan Surabaya: Mirota. Hanya saja dengan varian pilihan barang yang lebih sedikit.

Di sini pembeli bisa memilih oleh-oleh dari kelas premium sampai dengan kelas ekonomi. Tak melulu pakaian tapi ada juga jajanan untuk oleh-oleh.

Pusat grosir batik Trusmi ini ada di Jl Trusmi Kulon No 148, Plered, Cirebon, buka dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB.

Empal Gentong H. Apud

empal gentong H Apud

Setelah lelah berbelanja, lelah pikiran karena isi dompet berkurang, kami mampir di restoran Empal Gentong H. Apud.

Tidak jauh dari Pusat Grosir Batik Trusmi, resto ini tepatnya beralamat di Jl. Raya Ir. H. Djuanda No.24 Battembat, Tengah Tani,  Cirebon.

Sejak buka pukul 09.00 sampai 21,00 warung makan ini senantiasa ramai. Pembeli tak hentinya keluar masuk.

Untungnya tak perlu menunggu lama, empal gentong dan empal asem yang kami pesan tiba. Saya pilih memakai lontong, Agnes dengan nasi. Empal gentong menggunakan santan sedangkan empal asem kuahnya bening dengan rasa asem dari tomat dan belimbing wuluh.

Harganya cukup terjangkau, Rp 22 ribu per porsi. Kalau cuma ingin nyemil ada tahu gejrot dan jananan khas Cirebon, misalnya emping dan combring.

Setelah kenyang dan menuntaskan bayaran, perjalanan kami lanjutkan ke tengah kota. Menuju Goa Sunyaragi.

Goa Sunyaragi

Goa Sunyaragi

Goa ini terletak di tengah kota. Tidak sulit mencari lokasinya karena ada plang besar-besar yang jadi tanda kalau ini adalah  destinasi yang belum ke Cireon kalau belum ke sini.

Tiket masuk cuma Rp 5 ribu. Tidak mahal. Parkir juga belum dibayar per jam. Cukup Rp 5 ribu rupiah dibauarkan kepada petugas saat akan meninggalkan lokasi.

Konon, Goa Sunyaragi ini dulunya tempat bersemedi sultan Cirebon dan keluarganya. Kini, jadi tempat bermain pelancong-pelancong lokal Cireon, luar kota ataupun luar negeri.

Goanya sih goa buatan. Berbentuk gunung-gunungan dengan terowongan bawah tanah dan saluran air. Ada beberapa goa yang diberi nama berbeda-beda. Goa Peteng, Goa Pande, Gua Pawon. Ada juga Goa Pengawal dan Goa Padang Ati.

Penjelahjahan dan foto-foto selesai, Berburu oleh-oleh kerajinan tangan di kios bagian depan kompleks Goa Sunyaragi jadi kegiatan berikutnya.

Setelah menuntaskan kegiatan di Goa Sunyaragi, kami melanjutkan perjalanan ke wilayah Kabupaten Kuningan.

Baca Juga: 2 Hari 1 Malam di Cirebon, ke Mana Saja?

Telaga Biru

image

Cukup merogoh kocek Rp 5.000 Telaga Biru di esa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kuningan bisa dinikamti. Tempatnya tidak sulit ditemukan. Pengunjung tak perlu berjalan jauh. Sebab, telaga yang bernama resmi Telaga Cicerem itu ada di tepi jalan.

Di ssatu sisi telaga ini sudah ditembok beton, tapi di sisi lainnya dibiarkan tetap alami. Pohon-pohon besar dengan lumut yang menempel cukup menjadikan kawasan ini eksotik untuk berfoto-foto.

Tapi disarankan tidak untuk renang di sini.

Telaga Nilem dan Telaga Remis

telaga nilem
Kalau ingin main air dan berendam saya sarankan untuk datang selain akhir pekan atau tanggal merah lainnya. Saking populernya telaga ini terlalu ramai di akhir pekan.

Sebagian besar kawasan telaga masih alami. Pohon-pohon besar masih menaungi telaga sehingga lokasi tetap teduh. Yang mengasyikkan airnya bening. Lagi-lagi dengan catatan kalau sedang sepi pengunjung.

Cukup bayar Rp 10 ribu pengunjung tak perlu lagi membayar parkir dan tiket masuk.

Telaga ini ada di Desa Kaduela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan. Tidak sampai sepuluh menit perjalanan dari Telaga Biru dengan hutan pinus di kanan kiri jalan yang sudah beraspal halus.

Untuk pantai dan sunset ada di bagian ketiga… (bersambung)

Iklan

One thought on “Menjelajah Cirebon: Goa Sunyaragi, Batik Trusmi, & Telaga-Telaga Cantiknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s