2 Hari 1 Malam di Cirebon, ke Mana Saja?

IMG_2960

Cirebon menjadi jujugan akhir pekan yang tak sulit dijangkau dari Jakarta. Destinasi wisata  beragam: keraton, kulinernya yang lezat, menilik batik trusmi, sampai komplek telaga di pinggiran kota.

Tidak sulit menjangkau Cirebon yang ada di Jawa Barat dari Jakarta. Bisa dengan kendaraan pribadi, bus umum, atau kereta api. Penjelajahan di tengah kota untuk mendatangi tempat-tempat wisata juga tidak repot. Becak, sewa motor atau mobil bisa dijadikan pilihan.

Saya dan Tia Agnes menjelajah Kota Cireon dan Kabupaten Cirebon pada  Sabtu dan Minggu (9-10/4/2016). Kami memilih menumpang kereta api dengan jadwal paling pagi, Cirebon Ekspres. Dari Stasiun Gambir, Jakarta berangkat pukul 06.00. Dari jadwal tiga jam perjalanan, kereta molor sekitar 40 menit. Kami tiba di Stasiun Cirebon pukul 09.40.

Baca Juga: Menjelajah Cirebon: Goa Sunyaragi, Batik Trusmi, & Telaga-Telaga Cantiknya

Sesampainya di Stasiun Cirebon kami memutuskan untuk tak langsung ke hotel, tapi berencana mengisi perut lebih dulu. Entah sarapan atau makan siang namanya.

Balai Kota Cirebon

image

Kami memilih untuk keluar stasiun kemudian menyusuri jalan Siliwangi dan mampir ke Balai Kota lebih dulu. Rupanya, seperti balai kota milik Gubernur DKI Jakarta, Balai Kota Cirebon terbuka untuk umum saat akhir pekan. Tidak ada guide khusus, mereka yang bertugas mengantar pelancong ya penjaga yang kebetulan piket saat Sabtu Minggu.

“Tadi pagi siswa-siswa dua sekolah Taman Kanak-Kanak juga brekunjung kemari. Ramai,” kata salah satu petugas yang akrab disapa Danjen.

Setelah menyilakan kami berfoto-foto di halaman balai kota, dia menemami kami untuk menjelajah ‘kedalaman’ balai kota. Gedung utama yang merupakan bangunan tinggalan Belanda masih kokoh berdiri, tampak bersih dan terawat. Saat memasuki bangunan, hawa panas menyengat berubah dingin.

“Konstruksi bangunan dibuat sedemikian rupa agar di dalam ruangan tetap dingin tanpa perlu memakai air conditioner,” tutur Danjen.

Dari data yang disimpan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat disebutkan kalau gedung itu dibangun tahuh 1924. Pembangunannya diprakarsai oleh Jeskoot, kepala pekerjaan umum Stadsgemeente Cherebon dan dikerjakan oleh dua orang arsitek, yakni H.P Hamdl dan C.F.H. Koll.

Bangunannya berbentuk anjungan kapal yang puncaknya dihiasi dengan empat ekor udang, binatang air yang lazim digunakan untuk julukan kota ini. Langgam arsitektur bangunan ini bergaya art deco yang sedang popular pada sekitar tahun 1920-an. Gedung yang berdiri pada lahan seluas ± 15.770.

awalnya gedung itu menjadi Gedung Dewan Perwakilan Kota dan digunakan sebagai tempat pertemuan dan pesta pernikahan kalangan bangsa Eropa. Pada masa pemerintahan Jepang sampai masa kemerdekaan Indonesia menjadi Pusat Pemerintahan Kota Cirebon.

Dalam perkembangannya, gedung itu ditopang bangunan berbentuk U yang dengan dua lantai. Mulai Mei ini gedung itu direnovasi.

Yang menarik, di dalam gedung walikota itu disimpan dua lukisan kaca yang menjadi salah satu kesenian khas Cirebon.

Makan Siang Nasi Jamblang Mang Dul

Awalnya kami berencana untuk kembali berjalan kaki ke alun-alun yang juga terdapat masjid At Taqwa. Tapi kami menyerah oleh panas. Untuk menghemat tenaga kami memilih naik becak menuju nasi jamblang Mang Dul yang ada di seberang Grage Mal.

Saat sampai di lokasi, warung cukup ramai. kebetulan pas bubaran anak sekolah dan jam makan siang. Nasi jamblang yang punya ciri khas wadah daun jati bisa diambil sendiri oleh para pembeli. Mau lauk apa, para pembeli juga tinggal tunjuk dan para pelayan yang ada di belakang rombong sigap meladeni.

Beragam pilihan lauk membuat kami lumayan kalap. Cumi, empal, telor dadar, gorengan, cumi, udang, dll. Kali ini cumi dan telur dadar jadi pilihan.

Saat duduk dan mencicipinya, wow nasinya pulen. Yang mengasyikkan meski wadah nasinya daun jati, nasi tidak belepotan berwarna merah. nasi tetap putih.

Minumnya cukup teh tawar. Saking panasnya, saya kalap minum. Juga pesan es durian dari penjual kaki lima yang ngetem di depan warung.

Puas? Belum. Kami penasaran dengan empal gentong di warung sebelah. Tapi, soal rasa kurang ciamik. Besok-besok kalau kemari lagi fokus saja ke nasi jamblangnya.

Ngopi Sore di Metland Hotel

image

Setelah kenyang kami memutuskan untuk singgah ke hotel lebih dulu. Lumayan perjalanan kali ini tidak perlu mengeluarkan uang untuk penginapan. Agnes menang lomba lucu-lucuan berhadiah voucher hotel Metland.

Rencana disusun rapi. Setiba di hotel kami akan menuju dua tempat yang jadi ikon wisata sejarah di Cirebon: Keraton Kasepuhan, Masjid Merah, dan Keraton Kanoman.

Tapi sesampainya di hotel, penerima tamu mengatakan kalau ada ngopi sore plus ada jajan pasar mulai pukul 15.00. Lokasinya di taman hotel. Cukup menggiurkan bukan?

Sesampai di kamar kami pun memilih untuk bersantai sambil menunggu waktu ngopi sore dan menikmati jajan pasar di taman hotel. Eh, kamar yang adem malah bikin kami terkantuk-kantuk. Bangun-bangun pas waktu ngopi sore.

Menyempatkan mandi kami kemudian turun ke taman. Saat tiba di taman, matahari sudah tak terlalu menyengat. Kopi dipadu pisang goreng dan kacang godok sungguh nikmat.

Setelah merasa cukup kami pun bergegas memenuhi rencana awal: Keraton Kasepuhan.

Mampir di Keraton Kasepuhan

image

Kami menuju Keraton Kasepuhan menggunakan becak. Setelah tawar-menawar yang cukup alot, kami sepakat biayanya Rp 10.000.

Harga itu sesuai dengan informasi yang kami dapatkan dari penerima  tamu hotel. Mereka wanti-wanti agar tak menerima begitu saja tawaran tukang becak yang ngetem di depan hotel. Sebab mereka menawarkan harga yang cukup tinggi, sampai Rp 30 ribu.

Tapi rupanay perjalanan memang cukup jauh. Dengan mengendarai becak kami membutuhkan wkatus ekitar 30 menit untuk sampai di depan Keraton Kasepuhan. Saya dan Agnes sepakat untuk menambah biaya becak menjadi Rp 15 rbu.

Sudah sekitar pukul !7.00 saat kami sampai di depan Keraton Kasepuhan. Satu jam lagi keraton tutup. Tapi, rupanya kami mendapatkan keuntungan. Katanya, masih ada rombongan satu bus yang baru datang, jadi kami berpeluang singgah lebih lama di dalam keraton.

Setelah membayar tiket Rp 20 ribu per kepala kami masuk ditemani guide yang bayarannya seikhlasnya.

Bangunan keraton menghadap ke utara. Di seberang keraton agak ke barat terdapat masjid Masjid Agung Sang Cipta Rasa. atau yang akrab disebut masjid merah, pokoknya dindingnya serba merah.

Setelah melewati gapura tanda masuk kita disambut taman dan sebuah penjagaan. Konon, dulu tiap ada tamu yang bakal menghadap raja, wajib lapor di situ.

Yang mengasyikkan, Keraton Kasepuhan ini cukup bersih dan terawat. Setelah melewati beberapa area, kam itiba di Taman Dewandaru. Taman ini dikelilingi bangunan-bangunan lain, di antaranya bangunan induk keraton, museum kereta, museum benda kuno, lunjuk, dan tugu manunggal.

Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi

image

Karena waktu tak bisa ditawar kami harus menyudahi kunjungan di Keraton Kasepuhan. rencana berikutnya mampir ke Keraton Kanoman. Kebetulan malam ini ada pertunjukan tari topeng lima wanda, tarian khas Cirebon.

Tapi Pertunjukan mulau pukul 19.00. Jarak dua keraton itu tak jauh, cuma sekitar 10 menit berjalan kaki.

Nah, karena masih ada sisa waktu, kami menyempatkan makan malam lebih dulu. Kebetulan pas di seberang gang menuju Keraton Kanoman yang via tengah pasar, ada warung makan seperti angkringan tapi dengan jajanan yang leih beragam. Nasi dibungkus kecil-kecil persis nasi kucing di angkringan, ada gorengan, sayur yang dibungkus per satu porsi, bahkan orek tempe juga per porsi.

Hanya saja tidak ada dingklik dan tikar untuk lesehan. Yang ada malah kursi plastik ceper macam warung kaki lima di Vietnam.

Kata mas-mas yang jaga sih warungnya sudah buka dari pukul 17.00–tepat setelah pasar tutup–dan tutup sebelum subuh. Atau bisa lebih cepat asalkan makanan sudah habis.

Keraton Kanoman

image

Nah, gong perjalanan kali ini ada di Keraton Kanoman. Kebetulan Keraton ini tengah menggelar pagelaran seni tari Lima Wanda Panuluh Caruban. Lokasinya di Siti Inggil Keraton Kanoman Cirebon.

Lima wanda itu perpaduan dari topeng panji, samba, rumiang, tumenggung, dan kelana. “Lima karakter dalam tari wanda itu merupakan gambaran watak manusia. Tujuannya untuk mendapatkan kerukunan,” tutur Pangeran Patih Muhammad Qodiran yang penggagas pagelaran seni tersebut.

Tapi acara sempet tertunda karena hujan deras. Pagelaran yang rencananya dihelat beratap langit pun ditunda. Penonton minggir, penari juga belum bisa beraksi.

Sekitar pukul 20.00 pagelaran tari baru bisa dimulai lagi. Oh ya, yang mengasyikkan tamu yang hadir bisa menikmati suguhan wedang jahe, pisang dan kacang rebus yang disediakan panitia lho.

Kongkow di Alun-alun

Setelah pagelaran seni tari lima wanda itu bubar, kami memutuskan untuk kongkow sejenak. Pilihannya nongkrong di alun-alun.

Sekali lagi kami menawar harga becak. Oke kami sepakat Rp 10 ribu. Ternyata di luar perkiraan lokasi tak dekat-dekat amat, kami menambah Rp 5 ribu lagi.

Di alun-alun kami mampir ke Masjid At Taqwa sejenak barulah mencari kudapan di area alun-alun. Setelah menikmati wedang angsle kami memutuskan kembali ke hotel. Kali ini dengan berjalan kaki. (Bersambung)

Iklan

One thought on “2 Hari 1 Malam di Cirebon, ke Mana Saja?

  1. Ping-balik: Menjelajah Cirebon: Goa Sunyaragi, Batik Trusmi, & Telaga-Telaga Cantiknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s