Pilih Kopi Islam atau Kopi Kristen Saat Melawat ke Timur

rajampat3

Buku perjalanan yang saya pilih kali ini berupa laporan jurnalistik wartawan Jawa Pos, Kardono Setyorakhmadi alias Don berjudul Melawat ke Timur, Menyusuri Semenanjung Raja-raja. 

Satu bab yang saya anggap paling menarik–karena cukup ringan tapi sudah mewakili tentang toleransi beragama yang jadi tema besar buku ini–termuat pada Kebijaksanaan dalam Secangkir Kopi di halaman 44.

Ketika mampir ke warung kopi di Kota Tual, Ambon menjadi sebuah hal yang lazim jika ada tawaran: mau kopi Islam atau kopi Kristen. Tidak ada keharusan membeli kopi sesuai agama yang tertera di KTP–yang kolom agamanya kosong malah tak bisa beli dong ya–atau dalam daftar lain yang dimiliki.

Kopi itu juga tak dijual dalam warung yang berbeda. Jadi mereka yang muslim dan kristen nongkrong bersama-sama. Sebuah tanda kerukunan, bukan? Para pembeli juga tak sensi saat ditawari kopi Islam atau Kristen.

Sebutan kopi Islam atau kopi Kristen menjadi konvensi untuk pilihan menu kopi di Kota Tual. Kopi Kristen dibuat agak encer dengan gelas besar. Sementara kopi Islam disajikan dengan gelas kecil namun sangat kental.

Rupanya memang ada perbedaan kultur perihal aktivitas minum-minum di sana. Di Maluku, orang Kristen lebih suka minum teh sedangkan kaum muslim lebih suka kopi yang sangat kental dan kuat rasanya.

–Pengagamaan kopi ini hanya merujuk pada penyajian. “Sebelum konflik 1999-2005 itu soal agama hanya dibedakan di opi ini saja,” kata Ismit Kadir, seorang staf lepas Komnas HAM Maluku (hal 45).–

Tulisan itu–bisa jadi terpengaruh karena saya penyuka kopi–sudah mewakili keinginan untuk menegaskan semestinya tak perlu ada konflik Tolikara di Papua tahun 2015.

Pengalaman minum kopi itu baru sebagian kecil dari perjalanan Don di Kepulauan Maluku dan Papua selama satu bulan. Buku ini kian asyik karena disertai gambaran berapa jauh dia melakukan perjalanan dengan adanya peta yang amat sederhana di hal xx.

Tak hanya soal kopi Islam dan kopi Kristen yang membuat Don tertegun dengan toleransi beragama di kawasan Indonesia Timur itu. Pada bagian pertama Maluku dan Pulau-pulau Kecil di Sekitarnya, bab satu Masjid Tua dan Tingginya Toleransi Orang Maluku, Don dibuat GR saat dua guide-nya di Ambon, Pieter dan Steve Talahatu.

Don yang melakukan perjalanan saat Ramadan mengira Pieter dan Steve yang beragama Nasrani menghormati turut tak makan, minum, dan merokok. Don mengira mereka menghormati dia semata.

Tapi ternyata, saat mereka sampai ke Leihitu, kawasan berpenduduk muslim, Pieter dan Steve menunjukkan kalau mereka tak makan, minum, atau merokok untuk menghormati umat muslim yang tengah berpuasa.

–Kalau mereka melanggarnya maka mereka akan malu kepada manusia. Padahal tidak ada spanduk bertuliskan ‘hormati orang berpuasa’ atau seruan agarwarung makan ditutup–.

Bagian pertama itu ditutup dengan tulisan melancong Don yang tak terkait dengan toleransi beragama. Dia mencoba pengalaman bersnorkeling dan berjumpa hiu-hiu kecil di bibir pantai Pulau Haruku.

Secara tersurat dia juga curhat soal buruknya transpostrasi dan tata niaga ikan di Ambon. Samapi-sampai harga ikan bahkan di warung kaki lima di tepi pantai amat mahal.

Pada bagian dua Di Smenanjung Raja-raja, penulis menuturkan soal kerajaan-kerajaan yang sering muncul di buku IPS zaman dulu. Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Dua nama belakangan lebih tenar sebagai lokasi diving-nya dan batu.

Tak cuma menceritakan perpolikan dan kegiatan agama–di antaranya penentuan awal Ramadan, penentuan urutan saf solat, juga soal adat Matoto Agama serta azan empat muazin di hari-hari tertentu–saat tiba di Ternatetapi penulis juga menuturkan soal pengalaman lidahnya menjelajahi kuliner di di Pantai Falajawa dan Lelong. Tentunya karena perjalanan dilakukan saat Ramadan ada saja menu takjil khas yang muncul.

Soal Jailolo, penulis hanya menuturkan sedikit tentang daerah itu. Soal sejarah dan kondisinya di masa kini menjadi perhatian dia.  Barulah di halaman lain diketahui dokumentasi di kesultanan itu tak rapi.

Bagimana dengan Tidore? Kisah menarik justru ada pada susunan pemerintahan. Selain mengenal pemerintahan nasional mereka juga memberlakukan pemerintahan Sita-sita (syariat dan moral) serta pemerintahan dunia gelap atau Kornono (hal 99).

Juga ketika penulis menjumpai suku nomaden Suku Togutil ketika turut berburu di Taman Nasional Aketajawe di Tayawi, Halmahera. Bagaimana mereka menghormati alam dan masih hidup berburu.

Sampai di Bacan Don (lagi-lagi) dibuat terkesan dengan database sejarah Kesultanan Bacan yang rapi. Berbeda dengan tiga kesultanan lainnya.

Selain itu, Bacan sedang naik daun karena dalam jajaran gemstone nasional masuk level A. Paling sip.

Perjalanan berikutnya berlanjut ke Papua. Don menemukan di Papua bukan sekadar orang berkulit hitam dan beragama Nasrani. Orang-orang Fak-fak, Kaimana, dan Raja Ampat beragama Islam.

Perjalanan di Papua diakhiri dengan bersenang-senang di bawah laut Raja Ampat. Tak perlulah diceritakan panjang lebar dan sepertinya itu yang dilakukan Don soal kerajaan bawah laut Raja Ampat. Pokoknya tiada cela, indah bagus, dan rupawan. Eh tetap ada ding, yakni soal transportasi.

Sedikit catatan buku ini menyimpan beberapa typo yang mengganjal. Tapi tetap kok tak mengurangi hasrat untuk ikut menelusuri kultur, keragaman budaya, dan indahnya alam di Maluku, Ternate, Todire, Jailolo, Bacan, dan Papua.

Judul: Melawat ke Timur, Menyusuri Semenanjung Raja-raja
Penulis: Kardono Setyorakhmadi
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: 2015
Tebal: xxiv + 184
Harga:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s