God Do You Speak English?

20160229_093720

Peraturan baru soal diet kantung plastik mengingatkan saya terhadap buku ini. Bangladesh, ternyata sudah lama mengukuhkan diri sebagai negara terlarang untuk kantung plastik.
Buku yang mengisahkan perjalanan tiga relawan ke tiga negara berbeda: Tajikistan, Bangladesh, dan Guyana. Bangladesh, telah lebih dulu melarang penggunaan kantung plastik karena pengalaman kurang mengenakkan bangsanya.

Pengalaman itu dituturkan Nina Silvia, cewek yang mejadi relawan selama 13 bulan sebagai management advisor untuk chief circle office Rangamati. Dia meretas asa ke Bangladesh sebagai relawan di VSO (Voluntary Service Overseas).

Nina memulai petulangan, eh kerja sebagai relawan sejak 5 Februari 2011. Nina membuka pengalamannya di Bangladesh dengan cuplikan ketika dia harus berhadapan dengan petugas imigrasi yang kurang sigap saat mengurus visa on arrival di Hazrat Shah Jalal International Airport Dhaka.

Kemudian berlanjut dengan perkenalan pertama versus relawan dari berbagai negara lain, Lantas keseharian mereka di satu flat yang mereka tinggali. Bagaimana susah senang dan keunikan personal relawan dari Bangladesh, Kenya, Uganda, dan Filipina.

Nina menyajikan pengelamannya selama di Bangladesh dalam 19 bab. Dan bab keempat tentang penggunaan plastik yang paling membetot perhatian saya. “Negara terlarang untuk plastik”.

Bagaimana bisa? Lha wong kita saja buang sampah wadahnya plastik. Belanja ke pasar atau toko-toko ritel plastik dibagikan cuma-cuma. Bukannya merendahkan, bukankah Bangladesh masih di bawah Indonesia dalam perkembangan pembangunanya? Tapi kenapa mereka sudah lebih dulu sadar lingkungan? Mungkin logika saya kurang tepat, tapi biasanya negara yang lebih maju yang lebih terbuka mengkampanyekan soal peduli lingkungan bukan?

Nina di halaman 139 menuturkan kalau plastik pernah menjadi bencana nasional di Bangladesh. Nah, itulah poinnya. Mereka tak ingin kena batunya lagi.

 “Tak terlalu banyak sampah plastik di sini karena Pemerintah Bangladesh sudah menerapkan pelarangan secara nasional penggunkaan kantong plastik sejak tahun 2002. Selain itu botol plastik didaur ulang.”

Ya 2002! Bangladesh sudah lebih maju 14 tahun lamanya. Mereka menyadari plastik bukanlah bahan remeh-temeh yang bsia diterima tanah begitu saja. Dia begitu awetnya tak bisa dihancurkan.

Katanya pada tahun 1988 dan 1998 terjadi banjir yang menggenangi dua per tiga daerah di negara ini. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata penyebabnya adalah saluran mampet akibat disumbati kantung plastik.

Tak eprcaya begitu saja, saya googling untuk membuktikannya. Maaf ya Nina. Saya penasaran. benar, sampah plastik menjadi penyebab utama banjir di Dhaka.

Nina sudah berandai-andai kalau saja Jakarta dan Indonesia menerapkan larangan serupa saat menulis buku itu. Menilik buku yang terbit di tahun 2013, harapan Nina terkabul tiga tahun kemudian. Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah pada 21 Februari 2016, pemerintah membuat kebijakan mengurangi sampah plastik. Diet plastik.

Tak cuma itu, Nina dibuat terheran-heran dengan budaya masyarakat yang mengolah kotoran sapi menjadi biogas skala rumah tangga. Di Indonesia juga mulai marak belakangan ini.

Sebuah pelajaran berharga didapatkan Nina selama tinggal di Dhaka dan mingle dengan penduduk lokal.

“Di sini orang-orang hidup secukupnya, berharap sedikit, bekerja banyak. Mereka biasa kerja keras dan berhemat untuk masa sulit..”

****

Dua bagian lain dalam buku setebal 331 halaman itu menuturkan pengalaman Jeff Kristianto Iskandarsjah dan Rini Hanifa. Jeff seornag pengusaha dan pekerja sosial dan bermukim di Jimbaran, Bali mendapatkan tugas menjadi relawan di Tajikistan. Sementara Rini terbang ke Guyana di Afrika Selatan.

Jeff membuka kisahnya di Dushanbe dengan pengalaman konyolnya dipalak petugas bandara. Gara-garanya dia ketahuan foto-foto di bandara. Sudah begitu dia langsung disambut hawa dingin dengan suhu 5 derajat celcius. lampu kamar dan pemanas ruangan mati.

Di bagian 4, Jeff menceritakan soal gedung yang dingin–sudah suhu udara cuma 5 derajat celcius, dinding bangunan juga dilapisi marmer. Eh, orang-orangnya juga dingin. Dari mimik wajah dan sikap duduk yang setegap-tegapnya.

Judul buku ini diambil dari salah satu artikel Jeff, yakni di bab 9. Iseng tak punya kegiatan, Jeff yang tengah libur jalan-jalan berkeliling Khujand. Eh, dia nyasar. Jadilah dia berkontemplasi dan mengajak ngobrol Tuhan. Terciptalah perbincangan antara dirinya dan Tuhannya.

Satu pelajaran berharga lainnya didapatkan Jeff dari perjalanannya di Tajikistan. Di bagian 6 ‘Lihatlah ke Samping’ Jeff yang baru saja berbincang dan berinteraksi dengan perajin lokal berkesimpulan: Lihatlah ke depan atau ke samping. Jalani apa yang bisa kita jalani, bekerja untuk tradisi, tanpa pernah menyalahkan orang lain, apalagi nasib.

Bagaimana dengan perjalanan Rini di Guyana? Dari curhatannya, Rini mencoba bergabung sebagai relawan karena patah hati. Dia kecewa LSM lokal Indonesia tempatnya bergabung mulai mengarah kepada bisnis.

Da pun coba-coba mendaftar ke VSO. Niat itu jebol. Dia dikirim ke Guyana. Kena banjir, digigit kabaura–lalat dengan ukuran lebih kecil–, bertemu anakonda, dan tentunya singgah di desa-desa di Guyana menjadi pengalaman dia.

Mengasyikkan membayangkan kisah dan pengalaman mereka. Di antara tiga negara itu, adakah yang jadi impian? Saya memilih Bangladesh dan Tajikistan. Guyana? Mau juga.

***

Judul: God Do You Speak English?
Penulis: Jeff Kristianto, Nina Silvia, Rini Hanifa
Cetakan I: Mei 2013
Penerbut: Renebook
Tebal: 348 halaman
Harga: Rp 50.000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s