Sunscreen, ‘Aksesori’ yang Perlu Dibawa Saat Nonton Tenis Australia Terbuka

Turnamen tenis grand slam Australia Terbuka tak cuma jadi panggung para petenis top dunia dan pesta musim panas. Ajang tersebut sekaligus menjadi tempat kampanye kesehatan.

“Ayo, ayo jangan lupa pakai sunscreen. Suhu udara akan meningkat, matahari akan terik.”

Kalimat itu diucapkan berulang-ulang oleh seorang pria di depan gate Melbourne Park yang jadi lokasi pelaksanaan Australia Terbuka 2015.

Sambil berpromosi, pria tersebut menawarkan sunscreen kemasan botol dengan tiga ukuran dan kadar SPF yang berbeda-beda. “Ah, paling memanfaatkan momen untuk jualan,” celetuk Retna Christa, teman dari Indonesia yang nonton Australia Terbuka bareng saya pertengahan Januari ini.

Anggapan itu diperkuat dengan adanya booth yang dinding bagian dalamnya didominasi tube-tube sunscreen beraneka warna. Tak mau terganggu dengan prasangka buruk, saya pun mendekati stan itu dan ngobrol dengan petugas yang berjaga.

Rupanya sangkaan saya salah besar. Pria yang mempromosikan penggunaan sunscreen itu bukan cuma jualan. Dia adalah salah satu petugas Council Cancer yang mendirikan booth di salah satu di Melbourne Park. Dia tak bekerja sendirian. Rekan-rekan setimnya “nongkrong” di di stan berlabel Council Cancer yang saya datangani ini.

Ruangan berukuran 2×3 meter itu didominasi warna kuning. Mereka yang mampir ke booth tersebut langsung disuguhi perkiraan cuaca hari ini plus kadar UV yang bakal sampai ke area Melbourne.

Seperti ini: hari Selasa (20/1/2015) suhu udara dari pukul 09.30 sampai 13.40 berkisar antara 12 derajat celcius sampai 28 derajat celcius, ditambah keterangan maksimum UV II (ekstrim).

Juga ada etalase penuh dengan tube-tube oranye, putih, dan biru tua. Beda warna, beda volume, dan menunjukkan perbedaan SPF (sun Protenction Factor).

Bukan cuma pameran, sunscreen itu memang dijual. Sebagai gambaran, kemasan paling kecil, berwarna oranye dan berlabel besar kadar SPF 30 dibanderol harga AUD 5 alias sekitar Rp 50.000. Kemasan biru, tube yang paling besar seharga AUD 15 atau setara dengan Rp 150 ribu untuk penggunaan sehari-hari dan bisa menahan ultra SPF 50 selama empat jam.

Tapi, penjualan tu tak semata-mata untuk tujuan komersil. Ada tujuan sosial.

“Kami salurkan untuk membantu pasien kanker dan keluarganya juga penelitian kanker,” kata Nhat Ngo, salah satu petugas yang berjaga.

Ya, kanker kulit memang menjadi masalah tersendiri di Negeri Kanguru itu. Pemerintah Australia sampai membuat gerakan Sunsmart saking tingginya kematian akibat kanker tersebut.

Fakta di lapangan memang menjadi lasan wajar kalau mereka paranoid terhadap matahari. Rupanya lapisan ozon di Australia dan Selandia Baru jauh lebih tipis dibandingkan negara-negara lain di dunia. Bahkan dengan negara-negara yang punya suhu udara lebih tinggi daripada dua negara itu.

Sunsmart merilis beberapa data yang bikin dahi berkerut. Di antaranya, dua dari tiga orang Australia akan didiagnosa menderita kanker kulit di usia 70 tahun. Sekitar 2.000 orang Australia meninggal karena kanker kulit setiap tahunnya. Australia adalah negara dengan penduduk terkena kanker kulit tertinggi di dunia.

Lebih dari 750 ribu orang Australia positif terkena kanker kulit atau lebih dari 2.000 orang terkena kanker kulit setiap minggunya. Tingginya jumlah penderita itu membuat pemerintah Australia mengalokasikan dana terbesar untuk perawatan kanker kulit ketimbang kanker jenis lain

“Akibatnya kulit bisa kepanasan dan kulit bisa terbakar, makanya kami menangani ini dengan sangat serius,” jelas Nhat Ngo.
Di Australia penggunaan sunscreen bahkan bukan sekadar kosmetik. Dalam regulasi yang dikeluarkan asosiasi dokter Australia sunscreen sudah masuk dalam penanganan masalah kulit.

Makanya, tak sembarang produsen bisa mengeluarkan sunscreen. Iklanpun tak bisa sembarangan dibuat, apalagi sampai membohongi konsumen. Selain itu, mereka mewajibkan kepada masyarakat untuk membeli sunscreen yang sudah tersertifikasi.

“Misalnya, SPF tertinggi yang boleh diiklankan adalah 50. Banyak yang tdiak paham kan, kalau penggunaan sunscreen dengan SPF 30 dan 50 itu hampir sama? Bukan berjarak 20 poin atau persen?,” jelas Ngo.

“Setiap tube ini akan membantu untuk melawan kanker. Dipakai sih kalau keluar ruangan, pas kena sinar matahari.

“Sesendok teh cukup untuk satu bagian yang mau dioles. Satu sendok teh untuk lengan kiri, satu sendok teh untuk lengan kanan, satu sendok teh untuk wajah. Setiap dua jam sebaiknya dioles lagi,” tutur pemuda berkaca mata itu.

Anjuran itu, lanjut Nhat Ngo, malah sudah diberikan kepada anak-anak usia sekolah dasar. Sebab jika tidak, ada kehawatiran mereka tak punya kesadaran betapa berbahayanya kanker kulit tersebut. Maklum, ada fakta yang menunjukkan kalau orang-orang Australia yang berkulit putih masih suka berjemur “seenaknya”.

“Saya sarankan kalau nonton tenis juga memakai pakaian yang menutup kulit, pakai kacamata, juga pakai sunscreen,” kata dia.

Bagaimana tanggapan anak muda dengan gerakan itu?Banyak yang sudah tahu sih tapi tetap cuek dengan bahaya kanker kulit.

“Saya kadang ya tidak pakai. Lihat saja punggung saya sudah merah-merah begini karena tak pakai sunscreen,” kata Rhomi yang memang mengenakan pakaian tanpa lengan dan celana pendek.

Senada, Erin juga tak selalu mengoles sunscreen ke bagian tubuh yang terpapar sinar matahari. “Kadang pakai, kadang tidak,” ucapnya.

Betapapun kesadaran itu memang tumbuh dari masing-masing individu, tapi kampanye kesehatan tetap harus dilakukan, bukan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s