Tak Ada Doyok Malah Ketemu Atlas di Pondok Tanggui, TN Tanjung Puting

Kami ingin menemui Doyok, raja Pondok Tanggui–salah satu camp rehabilitasi orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Tapi, pagi-pagi kami malah dihadang Atlas, orangutan Camp Leakey. 


Setelah Gundul tak juga muncul di tempat feeding di camp Tanjung Harapan saat kunjungan pada akhir Agustus 2015, kami balik kanan. Kami kembali ke klotok untuk menuju tempat penginapan.

Kami menuju Pondok Tanggui, camp rehabilitasi orangutan lain di Taman Nasional Tanjung Puting yang ada di Kalimantan Tengah ini. Rencananya kami bermalam di sana agar bisa menyaksikan sarapan gang orangutan Pondok Tanggui.

Penginapan kami sih fleksibel. Sebab, kami menginap di atas klotok. Rombongan kami ber-12, dibagi dalam dua klotok. Saya bersama Tia Anes, Lisa, Bu Herlina, Tante Marcia, dan Tante Agnes. Di klotok sebelah ada si koordinator lapangan Natalie, Mas Didi, dokter Ferry, Pak Teddy, Mbak Ivo dan suami, Mas Agung. Rombongan dilengkapi dua guide Yusuf Hadi dan Dodi serta awak kapal lain dan jurus masak.

Padahal kalau menurut cerita Yusuf dan Dodi, Pondok Tanggui sedikit horor buat penginapan. Cerita mistisnya bahkan melegenda. Saya akan ceritakan nanti.

Tapi faktanya di sini ada satu pondok ranger, Syamsudin yang tinggal bersama istrinya. Saat tidur sih lancar-lancar saja, malah ada yang ngorok.

Malah di pagi harinya kami dapat bonus besar. Seekor orangutan berbadan gempal menggoda saya dan rombongan. “Namanya Atlas. Dia orangutan dari Camp Lakey, entah siapa yang membawa kemari,” kata Yusuf yang juga menjabat sebagai ketua Himpunan Pariwisata Indonesia Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah.

Menurut Yusuf, Atlas memang gemar melancong ke camp tetangga. Seringnya ya ke Pondok Tanggui ini. Tidak masuk ke dalam hutan, dia cuma bermain-main di sekitar dermaga.

Dari malu-malu, Atlas lama-lama berani ngeledek para pelancong yang ada. Dia seolah sudah terbiasa diajak bercengkerama, diminta pose untuk diambil gambarnya, sampai mencoba-coba untuk mendekati traveler.

Yusuf mengingatkan lagi aturan tak tertulis di saat memasuki camp orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting ini. “Jangan memberi makan orang utan, ya,” kata dia.

Setelah puas menggoda pelancong, Atlas meninggalkan dermaga. Entah ke mana. Bisa jadi pulang ke camp Leakey. Kami juga segera bersiap untuk mendatangi tempat feeding di Pondok Tanggui. Jadwal sarapan gang orangutan di sini pukul 09.00 WITA.

Kami segera menyelesaikan sarapan. Mandi? Tidak perlulah, cukup sore hari saja. Tidak apa-apa, kan?

Seperti saat sebelum turun ke camp Tanjung Harapan, Yusuf dan Dodi mengingatkan agar kami tak membawa makanan. Juga tak perlu memakai kaca mata hitam. Terlalu berbahaya. Benda-benda itu akan menarik keisengan orangutan.

Dari dermaga ke pondok ranger, ada jalanan jembatan kayu yang jadi penghubung. Ya, sungai Sekonyer yang lokasinya ada hilir memang terpengaruh pasang surut. Airnya juga payau. Buaya? Katanya masih ada.

sampai di Pondo Tanggui, kami mengisi buku tamu. Di pondok ini juga tersedia oleh-oleh khas berupa kerajinan gelang anyaman. Cukup Rp 20 ribu per gelangnya. Bisa ditawar. Apalagi kalau beli dalam jumlah banyak.

IMG_7523

Setelah berfoto di depan papan nama camp itu, kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak menuju tempat feeding. Hutan hujan tropis memang menawarkan sejuta kejutan. Kami berjumpa aneka macam lumut, kantung semar, pakis dan paku-pakuan, serta pohon ulin.

Jalur menuju tempat feeding di Pondok Tanggui ini lebih variatif ketimbang menuju camp Tanjung Harapan. Dan kali ini perjalanan lebih mengasyikkan dengan berseling gerimis.

Serupa dengan tempat feeding di Tanjung Harapan, lokasi di sini juga memiliki panggung dengan jarak dan pengamanan plus ‘tribun’ penonton dari papan kayu. Amat sederhana. Uniknya ada satu kursi yang tersedia di dalam batas, berada di sisi kanan panggung.

“Kursi itu dipakai Ibu Birute Galdikas kalau beliau datang ke sini,” bisik Yusuf. Ya, Yusuf harus berbisik karena ada aturan yang mengikat kalau berada di area camp orangutan, para pengunjung dilarang berisik. “Respect Orangutan, please!” Begitu pesannya.

Saat kami tiba di lokasi camp, tribun penonton sudah nyaris penuh. Pelancong lain sudah lebih pagi tiba. Selain guide dan rombongan kami, tak ada pelancong lokal kali ini.

“Memang jarang ada pelancong lokal. Para wisatawan asing yang lebih sering datang kemari. wisatawan lokal biasanya anak sekolah,” kata Dodi.


Kali ini kami juga harus sabar menunggu. Setelah ranger meletakkan tebu dan pisang di atas panggung, tak juga ada orangutan yang datang. Ranger dan guide mencoba mendatangkan orangutan. Mereka membuat bunyi-bunyian untuk memanggil gang orangutan di sini.

Kami sempat berharap saat ada gaduh di atas pohon. Tapi ternyata setelah ditunggu beberapa lama, tak ada orangutan yang muncul.

Upaya demi upaya yang dilakukan para ranger tak juga membuahkan hasil meski waktu sudah berjalan satu jam sejak mereka meletakkan makanan di aatas panggung.

Para pelancong masih bersabar. Menunggu dengan penuh harap siapa tahu orangutan muncul di atas panggung.

Satu setengah jam berlalu. Ada kegaduhan di atas pohon. Semua mata menuju ke sana. Benar, ada orangutan datang.

Seekor orangutan betina dengan anaknya. Dia naik ke panggung mengambil pisang dan keju. Lantas pergi begitu saja.

Ada orangutan lain yang datang. Kali ini jantan. Dengan penuh percaya diri dia melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Mendekati panggung lantas mengambil pisang, memakannya tiga sampai lima batang sekaligus.

Kami juga sibuk. tentunya bukan makan. Tapi membidik orangutan yang sedang asyik makan itu. Sesekali selfie. Lain waktu foto berombongan.

Mungkin si orangutan sudah kenyang. Dia meninggalkan panggung. Orangutan-orangutan itu sebenarnya mempunyai nama masing-masing, tapi saya tak menghapal.

Kami menunggu lagi. Satu jam berlalu. Sebagian pelancing memutuskan untuk kembali ke klotok. saya dan rombongan tetap bertahan. Kami masih penasaran menunggu Doyok. Seperti apa raja Pondok Tanggui itu? Seberapa lebar cipet yang dimilikinya? Rasa penasaran kami berlipat ganda karena di camp pertama, Tanjung Harapan, asa kami bertemu Gundul–raja Tanjung Harapan–juga tak kesampaian.

Ya, cipet itu jadi tanda morfologi orangutan jantan dewasa. Biasanya punya raja lebih lebar dan tebal. Sudah begitu karena takhta didapatkan setelah dia mengalahkan raja sebelumnya, tak mengherankan wajah dan badan para raja mempunyai banyak luka. Lama-kelamaan wibawanya bakal muncul seiring pipinya yang melebar, cipet. Dia juga bebas memilih betina untuk disenggamai.

IMG_7649

Saya dan Tia Agnes memanfaatkan wkatu menunggu itu untuk berbincang dengan Syamsudin, ranger di Pondok Tanggui. Dia sudah tujuh tahun menjadi penjaga camp orangutan di sana. Dia tergabung dalam Orangutan Foundation International, yayasan nonpemerintahh yang berfokus dalam rehabilitasi orangutan.

Menurut dia, memang gampang-gampang susah berjumpa dengan Doyok. Baisanya, orangutan turun ke feeding area jika benar-benar lapar dan tak menemui makanan di hutan.

Bahkan sering mereka datang ke pondok ranger untuk minta makan. Doyok bahkan tahu di mana dia dan istrinya menyimpan piring dan ember untuk minumnya.

“Orangutan itu seperti bocah. Kalau saya sednag tidur, dia enggak akan rewel minta makan selapar papaun. Dia sabar menunggu sampai saya bangun tidur,” kata pria yang akrab disapa Udin itu.

“Sabar saja enunggu, tapi ini sudah terlalu siang untuk sarapan. Bisa jadi Doyok memang tak akan datang,” ucap dia.

Mendengar ucapan itu, kami tak bsai menutupi rasa kecewa. Tapi berpedoman pesan Pak Ali sebelum perjalanan ini dimulai, bahwa camp orangutan ini bukanlah sirkus, kami legawa.

Setelah ngobrol ini itu, ngalor ngidul, saya kembali mendekat ke rombongan yang masih ada di tribun. Kali ini benar-benar rombongan kami yang tersisa.

“Masih jam segini, kita sedikit sabar lagi ya. Siap atahu Doyok muncul,” kata Natalie.

Kami sih oke saja. Tidak masalah. Toh, jadwal berikutnya untuk berkunjung ke Camp Leakey masih cukup lama. Waktu makan siang juga belum tiba.

Karena tak ada orangutan yang datang lagi, kami memutuskan foto-foto sendiri di lokasi seraya berharap, semoga raja Camp Leakey bersedia turun menemui kami.

Baca juga: Bertamu ke markas Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s