Raja Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting yang Bikin Penasaran

IMG_7376

Taman Nasional Tanjung Puting menjadi tempat pelepasan orangutan ke alam liar. Di masing-masing area ada raja yang jadi penguasa. Kami mencoba peruntungan pertama di Tanjung Harapan.


Akhir Agustus tahun ini, saya bersama 11 pelancong lain yang tergabung dengan Photopacker Photopackers menuju Pangkalan Bun. Kami akan bertamu ke Taman Nasional Tanjung Puting, tempat pelepasan orangutan ke alam liar.

Dari Pangkalan Bun kami ke Pelabuhan Kumai dan dengan kapal klotok menuju Sungai Sekonyer yang menjadi penghubung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Di jalur Sungai Sekonyer, ada satu area pelepasan orangutan, yakni di Tanjung Harapan.

Dengan perut kenyang setelah makan siang di atas klotok, kami siap berjumpa dengan penduduk Tanjung Harapan. Berjumpa dengan Gundul, raja orangutan di Tanjung Harapan, menjadi keinginan terbesar.


“Sebentar lagi kita sampai Tanjung Harapan. Siap-siap ya, pakai alas kaki dan lotion antinyamuk,” kaya Yusuf Hadi, guide kami selama perjalanan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Dari dalam klotok–kapal kayu yang bersuara klotok-klotok–kami melihat lima kapal sejenis bersandar di dermaga Tanjung Harapan. Tak satupun pelancong di klotok lain wisatawan lokal. Semua traveler asing.

“Bulan-bulan ini memang sedang ramai wisatawan. Mayoritas dari Spanyol,” ujar Yusuf.

Sebelum benar-benar turun ke dermaga, Yusuf mengingatkan kembali pesan-pesan do and don’t yang sudah dipaparkan Pak Ali sebelum naik kapal di Pelabuhan Kumai. Dilarang membawa makanan, bahkan di dalam tas. Air mineral masih dibolehkan. Memakai lotion antinyamuk dan disarankan mengenakan sepatu. Karena ada potensi hujan, payung atau jas hujan disarankan untuk dibawa.

Untuk menginjak dermaga kami melewati satu demi satu klotok lain. Kesempatan itu kami gunakan untuk say hello dengan para awak kapal lain.

Setelah sampai dermaga, Yusuf memberikan keterangan pohon ini dan pohon itu yang ada di area tersebut. Selain itu, durasi treking menuju tempat feeding orangutan.

Tiga bangunan rumah berdinding papan ada di area tersebut.

“Itu rumah-rumah untuk para ranger. Mereka tinggal di sini. Setiap hari mereka bertugas memberi makan kepada para orangutan yang ada. Kalau sedang ada pelepasan orangutan mereka juga harus mengawasi sampai para orangutan itu bisa beradaptasi dengan alam,” beber Yusuf.
IMG_7461
Setelah melewati jalan setapak, kami tiba di lokasi feeding. Kalau boleh diibaratkan, tempat ini bak coloseum. Ada panggung tempat makan si orangutan, dibatasi pagar tali dan ada tribun penonton dengan lempengan-lempengan kayu.

Mendekati daerah ini dan selama berada di area ini, para pelancong dilarang berisik. Obrolan hanya bisa dilakukan dengan berbisik-bisik.

“Please respeck the orangutan!” Begitu pesan yang tertulis di papan. Para guide dan ranger juga berulang kali mengingatkan.

Siang itu kami datang lebih dulu ketimbang ranger. Jadi ada waktu untuk sedikit berisik. Tapi setelah tiga ranger yang menggotong pisang dan tebu tiba, kamipun dilarang berisik.

Pisang dan tebu diletakkan di atas panggung orangutan. Suasana makin hening seolah semua kompak untuk menyambut si bintang tamu.

Semenit, dua menit, 10 menit, 15 menit, setengah jam. Orang utan tak juga datang. Ranger mulai memanggil dengan menirukan suara-suara si orangutan.

Seekor orang utan betina mulai mendekat. Berayun-ayun dari pohon satu ke pohon lainnya. “Wah ada anaknya,” celetuk salah satu pelancong.

Tribun mulai heboh. “Sstt…sstt….” Begitu para pelancong saling mengingatkan.

Si betina mulai mendekati panggung. Malu tapi berusaha cuek, dia merayap ke atas panggung dan mengambil sesisir pisang. Dia kemudian turun dari panggung. Tak berapa lama, dia kembali naik panggung. Mengambil pisang dan tebu. Kali ini, bisa jadi kepercayaan dirinya mulai muncul, si betina menurunkan anaknya drai gendongan. Mereka makan dengan cueknya.

Tapi pelancong belum puas. Kami menunggu raja yang tak juga muncul.

Ada orangutan lain yang datang. Kali ini si jantan. Dia datang, naik panggung, mengambil tebu dan pisang. Kemudian pergi begitu saja.

Panggung kembali kosong. Tapi, kami belum menyerah untuk menunggu kehadiran Gundul, raja orangutan di Tanjung Puting.

Tak juga muncul, sebagian pelancong memilih mundur. Kembali ke jalan setapak di tengah hutan. Sebagian lain, termasuk rombongan kami, tetap bertahan.

IMG_7358
Hujan tak menyurutkan niat kami. Kami masih optimistis Gundul bakal menampakkan batang hidungnya.

Tapi lama-kelamaan kami mulai menyerah. Lapar mulai terasa. Rombongan akhirnya memutuskan untuk kembali ke klotok. Masih ada tiga hari ke depan untuk melihat orangutan dengan cipet sebagai tanda dialah sang raja.

Iklan

3 thoughts on “Raja Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting yang Bikin Penasaran

  1. Ping-balik: Tak Ada Doyok, Malah Ketemu Atlas di Pondok Tanggui, TN Tanjung Puting |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s