Bertandang ke Markas Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

fb_img_1449140497771

Agustus menjadi waktu terbaik untuk berwisata ke Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan empat hari tiga malam kami habiskan untuk bertamu ke markas orangutan. 

Setelah penerbangan sekitar dua jam dari Bandara Soekarno Hatta, kami tiba di Pangkalan Udara Sultan Iskandar di Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah. Ingatan tentang jatuhnya pesawar Air Asia pada Desember 2014 masih melekat.

“Ada sisi bagusnya juga dari tragedi itu. Akhirnya ada Presiden yang datang kemari,” kata sopir taksi, Hermawan, yang membawa kami ke Pelabuhan Kumai.

Cerita kesibukan evakuasi pada siang dan malam pun mengalir dari pria asal Surabaya itu  seiring melajunya taksi meninggalkan bandara menuju Pelabuhan Kumai.

Ya, setelah dari bandara Iskandar kami bergegas menuju Pelabuhan Kumai. Saya bersama 11 teman seperjalanan yang tergabung dalam Photopacker Photopackers memang tidak berniat untuk menikmati kota Pangkalan Bun. Sejak awal kami merencanakan untuk bertandang ke rumah orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Usai menamatkan cerita soal kejadian-kejadian selama evakuasi dan pencarian korban Air Asia itu, Hermawan memberikan gambaran suasana kota. Soal jalanan yang baru diaspal, bangunan-bangunan kotak bertingkat yang ternyata sarang burung walet, illegal loging–yang bahkan mereka baru menyadari jika aksi itu merugikan negara dan lingkungan–serta perumahan-perumahan baru sepanjang jalan. Juga  kuliner khas Pangkalan Bun: makanan khas soto manggala, soto singkong ala Kota Waringin.

Obrolan itu terpaksa stop 20 menit kemudian. Itu setelah kami tiba di Pelabuhan Kumai. Hermawan menurunkan ransel-ransel kami sebagai tanda tugasnya selesai.

Di sana Pak Ali yang merancang perjalanan kami sudah menunggu. Setelah mengucapkan selamat datang, dia memberi rambu-rambu do and don’t selama perjalanan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Sembari berbincang dia menyiapkan air mineral ekstra pesanan sebagian anggota rombongan kami. Dari masukan yang sudah-sudah agar kami menambah air mineral  untuk gosok gigi dan cuci muka.  Sebab, air mandi payau, lumayan lengket kalau tak dibasuh dengan air mineral lagi. Untuk urusan air minum, Pak Ali sudah menyediakan air mnieral berbotol-botol dan sudah masuk paket perjalanan yang disiapkannya.

“Setelah semua beres, sebaiknya langsung naik ke kapal. Bisa istirahat dan ada minuman segar. Kalau kapal sudah jalan, panas matahari enggak terlalu terasa karena ada angin,” kata Pak Ali.

Memang benar, matahari rasanya ada empat di sini. Panasnya berkali lipat dari Jakarta. Sejak turun dari pesawat kami disambut panas yang menyengat.

Kami pun bergegas menuju tepi sungai. Baru melihat sungainya, kami sudah geleng-geleng kepala. “Ini sungai atau danau, luas bener,” celetuk salah satu rekan seperjalanan.

Airnya yang coklat tua dan arusnya yang tenang membuat kami sedikit jeri. Siapa tahu ada buaya di dalam sana.

“Buaya masih ada. Biasanya di daerah mangrove sana. Asal hati-hati dan waspada tak masalah kok,” ucap Dodi, salah satu guide perjalanan kami, seperti bisa membaca pertanyaan dalam hati.

Sebuah kapal kayu, disebut klotok karena bunyinya klotok klotok, berukuran besar sudah menunggu di tepi sungai. Kapal itu bertingkat dua. Di bagian bawah ada kamar awak kapal, dapur, dan dua kamar mandi. Wastafel plus cermin juag tersedia.

Bagian atas klotok lebih lega. Sepasang kursi malas, enam buah kasur busa, dan meja makan ada di sana. Satu ruangan untuk nakhoda ada di tengah-tengah. Di bagian belakang ruang kosong disambung ekor yang ada kursi santai. Mirip-mirip hotel bintang tigalah.

“Untuk rombongan ini kami siapkan dua kapal, tapi karena satu kapal belum tiba untuk sementara jadi satu dulu ya,” ucap Dodi.

Kami pun kaget. Sebab, dari perhitungan kami kapal besar itu bisa menampung 15 orang sekaligus. “Terlalu sempit kalau untuk 12 orang. Maksimal hanya enam orang,” ucap dia.

Dodi segera membagi-bagikan air mineral dan minuman bersoda. Saya melongok peti es, minuman buah dalam kemasan kotak dalam segala rasa juga tersedia.

“Siap-siap ya, kapal akan menuju ke Taman Nasional Tanjung Puting,” kata Dodi lagi.

Kapal bergerak pelan. Angin mereduksi panas matahari. Sungai dengan air kecokelatan menjadi pemandangan sampai jauh mata memandang. Setelah sekitar 10 menit, perkampungan makin kecil dan tak tampak. Pemandangan berganti dengan pohon-pohon nipah dan mangrove. Sesekali gerimis datang.

“Kita memasuki Sungai Sekonyer. Dari sini kita akan menuju Tanjung Harapan, rumah orangutan pertama. Esok harinya kita akan berlanjut ke camp berikutnya di Pondok Tanggui. Nah, berikutnya kita akan bertamu ke camp paling besar, di Camp Leakey,” kata Yusuf Hadi, guide lain yang mendampingi kami.

Camp-camp itu tempat pelepasan orangutan-orangutan yang sempat menjadi peliharaan. Mereka diajarkan (lagi) hidup di alam liar. Para ranger disiapkan untuk mengawasi perkembangan orangutan itu. Sebab, sebagian besar dari mereka sudah lupa dengan cara hidup di alam liar. Cara tidur, mencari makan, dan menjaga diri sendiri dari binatang pemangsa.

Di tiga area itu masing-masing memiliki rajanya sendiri-sendiri. Ada yang sampai melegenda seperti raja Camp Leakey si Tom dan ratunya, Siswi. Pondok Tanggui mempunyai raja bernama Gundul dan Doyok si penguasa Tanjung Harapan.

Raja-raja itu mudah dikenali. Mereka memiliki cipet alias pipi yang melebar sementara orangutan yang lain tak memilikinya. Gelar raja juga tak diperoleh begitu saja. Tapi merekalah yang memenangi pertarungan-pertarungan dengan pejantan lain.

Beberapa sumber menyebut Taman Nasional Tanjung Puting merupakan tempat konservasi terbesar di dunia. Areanya mempunyai luas mencapai 415.050 hektar dengan medan bervariasi, hutan dan sungai. Sudah sejak zaman Belanda tanah itu dijadikan taman margasatwa.

Sampai saat ini ada 40 ribu orangutan hidup bebas di hutan tersebut. Taman Nasional dan yayasan-yayasan lain masih mendukung kehidupan para orangutan itu. Termasuk feeding alias pemberian makan di satu titik pada musim-musim tertentu.

“Nah, saat pemberian makan itulah kita bisa melihat dari dekat orangutan-orangutan di Taman Nasional ini. Jangan salah ya, ini bukan berarti kami membuat sirkus orangutan, sama sekali bukan. Tapi, dengan cara ini ranger dan kami–para guide–bisa memantau keberadaan orangutan. Di sisi lain pelancong bisa melihat langsung mereka,” ucap Yusuf.

Tak sabar ya rasanya untuk bisa menatap mata mereka. Sungai Sekonyer masih panjang. Tanjung Harapan juga belum terlihat. Sabar…sabar….

Sebagai informasi, Juli dan Agustus merupakan waktu favorit untuk berkunjung ke Tanjung Puting. Kalau tak pesan jauh-jauh hari bisa-bisa tak kebagian kapal klotok yang jumlahnya terbatas.

Iklan

2 thoughts on “Bertandang ke Markas Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

  1. Ping-balik: Raja Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting yang Bikin Penasaran |

  2. Ping-balik: Tak Ada Doyok, Malah Ketemu Atlas di Pondok Tanggui, TN Tanjung Puting |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s