Menelusuri Kedalaman Perut Bumi

gebyok6

Menelusuri goa berbeda dengan mendaki gunung atau memanjat tebing. Dalam kegelapan, medan di depan tak tertebak dan penuh tanda tanya.

Penelusuran goa atau lebih akrab disebut dengan caving memang berbeda dari kegiatan petulangan yang lain. Perbedaan signifikan yang membuat kegiatan itu menjadi lain adalah gelap, dari remang-remang sampai gelap gulita.

Situasi itu membuat penelusur goa mendapatkan menu perjalanan yang tak tertebak. Pandangan mata hanya sejauh senter atau sumber penerangan lain yang dibawa.

Maka, menjadi sebuah kebanggaan tersediri bagi penelusur goa jika sumber cahaya atau senternyalah yang pertama menerangi keindahan di depannya itu.

Ya, goa memang mempunyai keindahannya sendiri. Segala rupa ornamen, stalagtit dan stalagmit, chamber, dan masih banyak lagi. Belum lagi kejutan-kejutan di dalamnya. Bisa jadi sebuah jalan masuk yang lebar bakal menyuguhkan jalur-jalur sempit hingga memaksa penelusur goa menunduk, merangkak atau merayap. Seperti saat menjelajah Goa Gebyok di Wonosari, Daerah Istimewa Jogjakarta.

Atau sebaliknya, jalan masuk yang sempit smapai harus merayap tapi kemudian mempunyai chamber raksasa dengan bayangan harimau di dalamnya. Bahkan sungai yang begitu derasnya. Cobalah masuk ke dalam goa Macan di Gombong, Jawa Tengah.

Tantangan lain adalah ‘buta waktu’. Setelah memasuki goa, penelusur sudah tak bisa lagi bersentuhan dengan sinar matahari. Juga hujan dan bahkan banjir.

Situasi itu menjadi sebuah bahaya tersendiri. Selain itu, binatang seperti ular kadang kala menjadi ancaman lainnya.

Selain bergerak dengan tiga macam aktivitas dasar itu–menunduk, merangkak atau merayap–penelusur goa juga diimbau tak takut air dan bisa berenang. Sebab, banyak goa yang mempunyai sungai bawah tanah.

Kemampuan lain yang diperlukan dalam penelusuran goa adalah potholing. Ketrampilan itu dibutuhkan dalam penelusuran goa vertikal. Tentunya penguasaan ketrampilan tali-temali menjadi mutlak.

Tahapan lebih advance lagi, seorang penelusur goa harus mempunyai kemampuan cave diving. Yang ini saya sendiri belum pernah mencoba. Masih terlalu ngeri ya rasanya menyelam dalam kegelapan tanpa tahu di mana ujungnya.

Hal lain yang harus diingat dalam penelusuran goa, kegiatan ini tak mengenal istilah solo alias menelusuri goa sendirian. Terlalu berbahaya. Minimal ada seorang ‘petugas jaga pintu’ di mulut goa sebagai informan agar penelusur goa tak buta waktu.

Satu lagi, karena goa mempunyai karakteristik yang unik dengan terbentuk dari proses alam selama ribuan tahun para penulusur goa pun wajib ekstra hati-hati dalam berkegiatan. Kode etik pecinta alam yang take nothing but picture, leave nothing but foot print, dan kill nothing but time benar-benar harus dijalankan.

Bayangkan sebuah soda straw dibentuk dari tetesan air selama ribuan tahun. Kalau sampai mematahkan, duh bakal lama lagi untuk dia bertumbuh.

Sekarang banyak operator wisata goa. Setahu saya tak sedikit yang belum benar-benar peduli dengan keunikan dan keistimewaan goa. Ayo, selain menelusuri goa tak ada salahnya kan untuk ikut menjaganya! Siapa lagi kalau bukan kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s