Khasiat Daun Jancuk di Balik Gatal-gatal yang Dibuatnya

Daun jancuk, eh jelatang kerap jadi gangguan kalau sedang mendaki gunung. Oleh orang Papua, daun itu dijadikan ramuan penghilang pegal.

Jalan setapak yang sempit saat naik gunung kerap punya jebakan. Salah satunya, daun-daun berbulu yang bikin gatal.

Cowok-cowok pendaki bisa lebih sial lagi. Karena asal petik daun untuk cebok, bukannya bersih tapi si burung malah jadi gatal-gatal.

Padahal dari morfologinya, daun yang bikin gatal-gatal itu mempunyai perbedaan mencolok dari daun-daun lain. Ada bulu-bulu halus sampai sedikit kasar di permukaan atasnya. Juga pada batangnya.

Daun itu daun jelatang. Di kalangan pendaki Jawa Timur, daun jelatang lebih dikenal sebagai daun jancuk. “Kalau kena kita langsung teriak jancuk! jadilah kamis sebut daun itu daun jancuk,” kata seorang kawan.

Menurut pengalaman saya, pohonnya mudah ditemui sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru dan Argopuro.  Gatal-gatal itu sih menurut teori diakibatkan karena si daun mengandung asam.

Di peradaban, begitu kami sering menyebut kawasan di luar hutan belantara, daun jelatang dikenal mempunyai segudang manfaat.

Dalam jurnal IPB yang dirilis online pada 2010 disebutkan dari pengujian hepatotoksisitas subkronis ekstrak daun jelatang (Urtica Dioica L.) disebutkan kalau daun itu bisa digunakan untuk pengobatan penyakit kelamin dan saluran kencing yang ringan (nocturia, dysuria, penghambatan saluran ginjal, iritasi kantung kemih, dan infeksi).

Selain itu juga bisa mengobati gangguan ginjal, alergi, diabetes, anemia, penyakit saluran pencernaan yang ringan (diare, disentri, dan keasaman lambung yang meningkat), eczema, hemorrhoid, inflamasi hati, rematik, dan kanker prostat.

Nah, perjalanan teman saya, Afif Farhan, ke Papua dalam Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015, mendapatkan keterangan yang ‘wow’. Dari segi manfaat dan ternyata belum tercantum dalam jurnal IPB itu.

Afif berkisah ketika berada di Desa Ugimba selama 4 hari, dari tanggal 17 sampai 20 Agustus 2015, tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 mendapat pengalaman tentang daun jancuk, eh jelatang itu.

jelatang2-i

Daun jelatang yang disebut oleh orang-orang papua sebagai obat gatal. Foto by Afif

“Daun ini kita pakai untuk menghilangkan lelah. Itu makanya, kita kuat jalan kaki jauh karena pegal-pegalnya hilang begitu. Hanya perlu didiamkan lima sampai sepuluh menit, pegal-pegal akan hilang,” tutur Malama, salah seorang warga Ugimba yang juga sebagai pemandu lokal untuk tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015.

Rupanya, zat asam tadi–yang bikin gatal-gatal–memaksa pori-pori kulit membuka. Pelebaran pori-pori itu membuat peredaran darah lebih lancar. Itulah sebabnya rasa pegal akan hilang.

Masih mau bilang kalau daun jelatang itu daun jancuk?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s