Menjejak Puncak Gunung Gede

gede11

Kami terlambat untuk menyambut sunrise di puncak. Tapi, kegembiraan tak berkurang sedikitpun.

Hawa dingin, kantuk dan lelah sudah terbayar lunas kendati kami belum mencapai puncak. Matahari menunjukkan batang hidunganya saat kami masih di tengah jalan.

Kami merayakan kegembiraan itu dengan foto bersama di pinggir tebing. Kemudian bergantian, foto satu per satu. Juga mengabadikan sinar yang menerobos dedaunan pohon-pohon yang dililit lumut dan pohon paku.

“Istirahat dulu saja. Puncak sudah dekat,” kata Erick, salah satu pendaki lain dalam grup ini.

Kalimat yang sekaligus mengandung penghiburan untuk seluruh anggota tim. Jelas saja, pendakian ini telat dari jadwal yang sudah dibuat. Kami masih berada di punggungan saat sunrise.

Tak tak mengapa, toh rombongan tak ada yang mengeluh atau menggerutu. Semua senang.

gede1

Terlebih saya. Sebelumnya saya sempat waswas dengkul tak lagi kuat menghadapi tanjakan ekstrim. Semuanya terkait faktor U. Itu alasan pertama.

Eh, ternyata puncak Gede dari Cibodas cukup mengasyikkan. Kendati sedikit membosankan di awal perjalanan karena trek didominasi jalur bebatuan, tapi selepas Telaga Biru jalur bervariatif. Selepas bebatuan, jalur diseling tanah dan kayu, juga semen. Batu-batuan lagi sampai pos Panyangcangan yang ada air terjun Sungai Cibeureum.

Kemudian trek didominasi jalur tanah. Setelah dua jam perjalanan sungai air panas akan ditemui. Hati-hati dengan sol sepatu, kalau cuma modal lem dijamin nyoplok.

Padahal, para pendaki mau tak mau harus melewati ini. Usai sungai air panas itu ada Kandang Batu. Naik dikit, ada air terjun yang jelita. Setidaknya jadi hiburan karena jalur mulai terjal untuk sampai Kandang Badak.

Nah, betapa menyenangkan bukan akhirnya bisa bersua sunrise saat nyaris di puncak. Usai foto-foto dengan latar belakang sunrise di lereng gunung berketinggian 2.220 meter di atas permukaan laut itu kami melangkah ke puncak.

Pemandangan kian cantik dan menarik. Jalur yang berpadu antara batu dan pasir sedikit terlupakan dengan keelokan puncak Pangrango yang hijau di seberang. Puncak tetangga kian manis dengan awan yang memeluk erat bak pacar yang baru bersua dengan masing-masing berbekal rindu berat.

“Kok bisa ada balapan lari dari kaki gunung ke puncak. Bukannya hanya akan ngos-ngosan tanpa bsai menikmati indahnya jalur ini?” begitu saya bertanya-tanya.

Dari tempat kami berdiri pada ketinggian nyaris puncak, Surya Kencana, tempat kemping paling tersohor di Gede, pun terlihat rancak dengan tenda warna-warni. Lapangan luas dengan bunga edelweiss itu menarik benar untuk digagahi berbekal bola. Rasanya sungguh ingin turun ke sana.

Katanya, dua pekan lalu ada salju. Itu informasi dari guide yang disewa sesama anggota rombongan saya, Emon. Perjalanan kali ini memang memilih naik-turun lewat Cibodas. Tak bisa ngeyel karena turut trip komunitas mendaki gunung.

gede3

Mencapai puncak ini saja saya sudah gembira ria. Maka tak salah kalau kami berpuas-puas mengabadikan negri di atas awan ini. Kalau diperhatikan norak sungguh.

Apalagi jika dikalkulasi. Setiap lima langkah bisa saja kami berhenti dan berpose. Ya, sendirian. Ya, ramai-ramai meski dengan intro berteriak-teriak memanggil sekutu lebih dahulu.

Alasan kedua pendakian ini sudah dua kali direncakan tapi akhirnya gagal total. Teman yang mengurus simaksi alias surat ijin masuk kawasan konservasi tak bisa mendapatkannya.

Ingat ya, ini kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango alias TNGP! jadi wajib mendaki berbekal simaksi. Mengurus surat itu butuh waktu minimal 6 hari menjelang pendakian. Soal harga sih murmer alias murah meriah cuma Rp 7.000 dengan minimal tiga orang dalam satu kelompok.

Maka, saat perjalanan mulai, mampir ke balai besar TNGP berjarak 2 menit dari gerbang TNGP menjadi fardhu ain. Lantaran rangkaian kegagalan maka terbitlah penasaran yang luar biasa untuk bisa menggapai puncak Gede. Jaraknya yang tak seberapa dari Jakarta tapi kenapa susah sekali.

Nah, dari situ saya ngobral sedikit. Asalkan ada yang ajak tanpa pikir panjang saya iyakan saja. Pengumuman tersurat dan tersirat juga saya lakukan dengan sengaja hehehe. Sale banget pokoknya. Eh, usaha itu membuahkan hasil lho!.
Tradaaaaaa……..hasilnya manis gula-gula. Kami lolos dengan mudah plus dapat kaos hijau yang kemudian menjadi seragam selama perjalanan dan di basecamp. Sudah begitu malah mendapatkan bonus bisa naik gunung beramai-ramai, sekitar 27 teman dalam satu tim yang tergabung di fans page Mendaki Gunung.

Maklum selama mendaki gunung paling banter diramaikan enam teman. Itupun lebih sering menghindari pickseason, seperti tujuh belasan atau tahun baruan. Rasanya males ya harus antri dan berebut oksigen yang bercampur debu.

“Ini pekan terakhir menjelang Ramadhan, jadi semuanya ingin menikmati,” kata Lazuardi, pimpinan rombongan. Dia sendiri tak mengira jika pendakian pada 14-15 Juli ini bakal padat.

Sepanjang perjalanan kami juga tak menemui problem berarti. Rencana ngecamp sehari dan trekking dua hari dilakoni semulus jalan tol. Tak pakai acara kekurangan air ataupun logistik. ini asyiknya mendaki ramai-ramai ada tambal sulam logistik dari teman seperjalanan.

Asyiknya lagi, seindah kenikmatan puncak perjalanan turun pun lancar jaya. Bahkan tiga teman (baru) yang belum berpengalaman naik gunung juga asyik-asyik saja. Tak mengeluh meski harus tertatih menuju base camp Yayasan Survival Indonesia, tempat finish kami. Mereka juga tak merengek-rengek keberatan beban bawaan.

Jadi yakin saja masih ada kekuatan untuk mendaki gunung-gunung tinggi. Tinggal poles fisik dan menambah koleksi perkap alias peralatan dan perlengkapan…..

Ada yang mau bergabung?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s