Korban Iming-Iming Manis, Gombal Mukiyo Ala Imigrasi

“Hanya dua perkara yang tidak bisa dilanggar di Indonesia” – Haji Santo

Kejadian ini berlangsung tiga tahun lalu, di tahun 2012, saat saya memperpanjang paspor. Dari pengalaman teman-teman yang berurusan membuat paspor baru atau perpanjangan saat ini sudah lebih mudah.

Begini cerita kala itu.

Saya langsung geleng-geleng kepala saat memasuki lantai dua kantor Imigrasi kelas satu Jakarta Selatan. Mau protes kepada yang punya gedung tak akan ada gunanya.

Toh, tak hanya saya yang harus berdiri mengantri. Setidaknya 25 orang yang berniat membuat paspor, baru atau perpanjangan, mendapatkan nasib serupa.

Kursi tunggu hanya bisa menampung 150 orang, sedangkan pagi ini nomor antrian saya C170. Menengok arloji di tangan kanan, pukul 09.00 WIB.

Wow….! Nomor urut antrian sudah mendekati 200.

Mengantri ini langkah kedua dari rangkaian proses kedua. Mengantri untuk membayar biaya administrasi pembuatan paspor sebesar Rp 255.000. Sebelum antrian di sini, saya harus membeli formulir dan map seharga Rp 5.000 di koperasi yang pelayanannya tak menggambarkan kantor pelayanan pemerintah. Seperti kios-kios warung itu.

Kemudian ada sesi foto dan wawancara pada hari yang sama.

Untungnya tak lama kemudian ada bangku kosong dan saya bisa duduk manis. Lumayan karena baru nomor antrian C40 yang dipanggil.

Beruntung saya membawa majalah dari rumah. Sambil mendengarkan radio lewat ponsel, luamayan bisa membunuh waktu.

Lima menit, 10 menit, 30 menit, satu jam. Antrian masih sangat jauh. Yang dipanggil belum menyentuh angka C100. Ya, antrian di sini dibedakan menjadi A, B, C, fan D yang diikut angka satu sampai tak terhingga.

Majalah habis dibaca. Telinga lelah mendengarkan lewat earphone. Mati gaya.

Akhirnya nomor saya dipanggil. Proses di depan kasir singkat saja.

Antri lagi menunggu foto dan wawancara. Di sini saya mendapatkan pertanyaan yang membuat ternganga.

Petugas perempuan dengan rambut pendek rapi kira-kira berusia 34 tahun menanyakan kalimat “aneh” sebagai penutup.

“Saat memasukkan berkas, yang bawa siapa?”

Saya tak tahu pasti maksudnya, karena setelah saya jawab berkas ini saya masukkan lewat resepsionis di lantai 1, petugas langsung menjawab: “Paspor bisa diambil empat hari lagi. Sore hari ya,” begitu pesannya.

“Sudah pasti Jumat ya Mbak,” balas saya. Dia menjawab: “Insya Allah.” Wahm berarti ada peluang molor ya.

Sejatinya bukan cuma soal -dibawa siapa- yang membuat saya terhenyak. Dirunut ke belakang banyak sekali kejanggalan yang saya temui di dalam ruangan foto dan wawancara ini.

Setelah ngobrol dengan sesama pengantri yang duduk sebelah kanan-kiri atau sengaja saya datangi dan ajak ngoblol baik-baik, rupanya saya tak punya banyak sekutu antri pagi. Pengantri foto dan wawancara baru tiba di gedung ini pukul 13.00 atau 14.00 WIB. Selepas makan siang kisarannya.

Saya tanya saja. Risiko dia marah dipikir belakangan.

“Kena berapa Pak/Mas/Bu/Bang sama calonya?”

Lha lawan bicara saya ini juga polos menjawab, dari Rp 350.000 sampai Rp 600 ribu.

“Makanya bisa cepat ya, ndak pake ngantri,” tanya saya lagi.

“Iya Mbak daripada ngantri. Saya bawa anak kecil, bisa rewel.” Atau dijawab: “Iya lebih simpel.”

Oh, pantas saja dari tadi kok ada wajah-wajah baru yang menempati kursi antrian di area foto dan wawancara. Mereka masih segerrr dan wangiiii……pantas saja nama mereka yang dipanggil, bukan nomor antrian seperti saya.

Tiba-tiba saya merasa konyol dan dibodohi sekali mau-maunya antre lama. Karena kemudian teringat rekan kerja yang harus mengerjakan tugas saya. Kesal, dongkol, dan merasa bodoh campur aduk menjadi satu. Seharusnya saya bisa tetap ke kantor dengan bayar sedikit lebih mahal. Artinya mengupah orang lain. Konkritnya mempekerjakan calo.

Padahal antrian ini juga tak saya dapat tiba-tiba. Jadwal antri ini sudah diatur sejak dua hari lalu saat memasukkan berkas yang dibutuhkan untuk perpanjangan paspor. Sebut saja proses pertama.  Di tanda terima tercantum jadwal untuk datang kembali, Senin, pukul 08.00-12.00. Sebagai warga negara bijak (karena saya bayar pajak), patuh dunks saya.

Oh, ternyata saya termakan janji manis Imigrasi. Janji manis yang dimuat di website R-E-S-M-I mereka. Harusnya saya waspada, wong tagline saja nyontek di dari kantor polisi di level sektor: Kami siap melayani Anda!

Pilihan menjadi warga negara bijak ini bukan ujug-ujug begitu saja. Makbedunduk. Tidak. saya tergiur membuat paspor dengan langkah “normal” karena pengalaman.

Waktu  pertama kali membuat paspor prosesnya lancar jaya. Dua hari kelar. Harganya juga tak berbeda. Tapi kali ini tak bisa. Petugas menyatakan sudah ada langkah tertentu untuk membuat paspor. Bahasa keren mereka: juknis alias petunjuk teknis.  Dipasang di salah satu dinding kantor imigrasi lho! Siapa tak keder.

Kemudian saya berselancar ke dunia maya–pendeknya browsing–situs resmi mereka. Kali, kali saja ada prosedur detail pembuatan paspor online. Sebab, melihat banyaknya baliho yang dipasang di pagar kantor tampaknya sedang getol benar mempromosikan paspor online.

Tapi prakteknya oalaah. Antri lama. Proses lanjutannya juga sebentar. Setidaknya butuh waktu tujuh hari kerja untuk menunggu paspor kelar. tapi bukan berarti seekan rampung. kator imigrasi hanya mengenal lima hari kerja dan punya tradisi libur di tanggal merah. Jadi setidaknya dua pekan paspor itu ada di genggaman.

Kemudian, kemajuan yang ditawarkan itu rasanya masih abal-abal. Apa itu? Gembar-gembor paspor online itu kurang tepat. Sebab, pembuatan tak menjadi lebih cepat. Padahal dalam bayangan sudah terlanjur lekat online itu sama dengan lebih cepat. Tengok saja detik.com (aiiihhh narsis hehe)…. atau pelayanan bank dengan ATM.

Tapi ternyata ini online setengah hati. Buat gaya-gayaan saja. Online di sini hanya berarti bisa membuat paspor di mana saja. Tapi bayar tetap harus di tempat yang berarti antri panjaaaaaannggggg dan lamaaaaaaaaaa.

Satu lagi yang perlu digarisbawahi. Petugas sering menanyakan KK alias kartu keluarga asli. Padahal KK itu hanya satu lembar. Dan kepala rumah tangga yang biasanya memegangnya. Kalau diminta menunjukkan dokumen asli yaaaaa repot lagi….. Karena saya yakin, mereka yang butuh paspor lebih banyak untuk urusan pekerjaan dan biasanya mereka yang bekerja sudah ndak nginthil sama orang tua.

Eh, tapi jangan senewen dengan dokumen asli KK, sebab setelah saya cek di website resmi KK tak diminta. Selain itu, dokumen asli pun ternyata tak diwajibkan (kalau menurut situs resmi mereka).

“Bawa dokumen resmi kalau-kalau dibutuhkan.”

Santai dan bersahabat ya bahasa di website ini.

Ah, sebenarnya tak ada gunanya ngomel-ngomel di sini. Arena ruwetnya birokrasi bukan hal baru di sini. Tapi kalau memang tak bisa memberikan pelayanan manis tak perlulah mengumbar janji. Atau karena saya memang mudah digombali?

Sempruuul!!!! Pantas saja kalimat eks manajer Persija Jakarta alm. Haji Santo begitu melegenda. Dua hal saja yang tak bisa dilanggar di Indonesia………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s