Berburu Tarian Lumba-Lumba Liar di Teluk Kiluan

kiluan1

“Tak usah mandi, lumba-lumba tak suka wangi sabun.”

Lelah dan penat yang masih tersisa dari perjalanan semalam sirna begitu saja saat pagi menjelang. Angan kami untuk segera berada di atas perahu dan menikmati segerombolan lumba-lumba di Teluk Kiluan, Lampung, pertengahan Desember tahun lalu mengembang tak terbendung.

Tapi, hujan yang turun sejak malam menghalangi niat kami berenam untuk segera turun ke laut dalam perjalanan Oktober 2012. Kami menunggu hujan dengan sedikit pilihan kegiatan. Sekadar bermain gaple, tebak-tebakan kocak, atau ngobrol ngalor ngidul disertai secangkir kopi di satu-satunya home stay yang ada di tengah-tengah Pulau Kelapa.

Mandi? Ah, selain karena cuaca dingin, pernyataan Khairil Anwar, 42 tahun, pemilik home stay, menguatkan kami untuk tidak bersentuhan dengan air.

“Tak usah mandi, lumba-lumba tak suka wangi sabun,” ujar Khairil. Entah candaan, sekadar mitos, atau benar, kalimat itu kami terima dengan sangat gembira.

Tentunya, sebelum main gaple, kami sudah menyantap sarapan yang disediakan pemilik rumah. Menunya serba ikan. Paling sering tongkol. Eh malah melulu tongkol.

Mendengarkan musik juga tak mungkin demi menghemat batu baterai telepon seluler. Maklum, home stay di Teluk Kiluan ini hanya punya sumber listrik dari genset.

Pak Khairil hanya menyalakan sumber listrik itu saat hari mulai gelap sampai pukul 24.00 WIB. Lagi pula ponsel tak berguna karena sinyal tak terlalu baik. Kalau mau berkomunikasi dengan peradaban alias dunia luar, kita harus menuju ke tepi pantai sambil angkat telepon tinggi-tinggi.

Ya, Teluk Kiluan memang tak jauh dari desa terakhir di Kiluan Negeri yang ada di Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung atau hanya enam jam dari Bandar Lampung. Tapi, di atas pulau kecil yang dikelilingi air payau ini listrik tak sampai.

Satu jam berselang, hujan mereda. Tak ingin buang-buang waktu lagi, kami pun berkemas. Pelampung dikenakan, kamera dikemas plastik bening, serta tak ketinggalan air mineral dan roti.

Bergegas kami naik ke jukung, perahu kecil yang bermuatan maksimal empat penumpang. Kami menyewa dua jukung, tiga orang di satu perahu, sisanya di perahu lainnya.

Gerimis dan angin dingin tak mengurangi antusiasme kami membelah perairan yang terbentang biru di hadapan.

Tak berapa lama, kami menemui batu karang yang menjulang di tengah perairan. Setelah itu, hanya biru langit dan biru air yang ada di hadapan.

Dwi Yunanto, tukang perahu, berbaik hati mengantar kami menyusuri tepi bukit karang itu. Kemudian perjalanan terus menuju ke arah perairan bebas.

Seperempat jam berlalu, Dwi menghentikan pergerakan di area yang mulai berombak lebih besar dibanding di tepi teluk. Kemudian dia memutar jukung berkeliling. Tak ada tanda-tanda lumba-lumba bermain di sana. Angin kian dingin dan rinai hujan masih setia mengiringi. Dwi membawa kami memutar ke sisi lain.

kiluan2

Tak dimungkiri bosan dan putus asa menyerang. Kami pun mencoba menirukan suara-suara untuk memancing lumba-lumba keluar. Jukung berputar lagi.

Kami meneriakaan suara-suara mirip cara berkomunikasi lumba-lumba, Benar atau tidak, kami tetap mengulang-ulangnya. Bikin suara sonar kan tidak mungkin.

Siapa pun akrab dengan istilah sistem sonar yang digunakan radar kapal selam. Sistem yang tak lain adalah cara berkomunikasi lumba-lumba untuk menghindari benda-benda di depannya. Maklum, di masa cerdas cermat masih menjadi salah satu acara TVRI, sistem sonar selalu menjadi salah satu pertanyaan IPA. Pertanyaan wajib satu lagi, lumba-lumba masuk kelas apa? Mamalia tentu saja. Lumba-lumba menyusui. Berarti bukan ikan atau pisces dia hidup di air.

Eh, tak lama kemudian, ada sesuatu berwarna abu-abu yang bergerak gesit di bawah perahu kami dan membuat kecipak air. Selusin lumba-lumba bergerombol meninggalkan perahu kami. Refleks kami menyalakan kamera. Ternyata postur gembul mereka begitu gesit. Sebentar di tepi kiri perahu, kemudian sudah menyilang ke kanan perahu. Kesabaran kembali diuji.

Dari sisi lain, segerombolan lumba-lumba dengan jumlah lebih banyak muncul. Dwi membawa kami berputar lagi. Mencari-cari wilayah yang mungkin ada lebih banyak gerombolan lumba-lumba. Dari berbagai arah serombongan lumba-lumba menampakkan sirip dan sesekali melompat solo atau berduet.

“Lumayan, kita bisa dapat foto lumba-lumba menari di perairan bebas,” celetuk teman saya.

Teluk Kiluan memang menjadi tempat ideal untuk berkembang biak lumba-lumba. Pertemuan air laut dan air tawar membuat kawasan itu kaya nutrisi.

Di sana tumbuh banyak ikan kecil dan plankton sebagai unsur utama rantai makanan. Airnya pun relatif hangat dengan salinitas alias kadar garam yang tak terlalu tinggi tapi juga bukan air tawar, cukup menyenangkan untuk anakan lumba-lumba.

Di sini dikenal dua jenis lumba-lumba: pemintal (Stenella longirostris) dan lebih banyak lagi hidung botol (Tursiops truncattus).

“Beruntung, Anda bisa menemui lumba-lumba dengan cepat. Tak sedikit rombongan yang harus menunggu lama,” kata Khairil.

Namun dia memberi garansi lumba-lumba selalu ada. Hanya, lokasi merekalah yang tak selalu bisa diprediksi. Maklum, lumba-lumba itu bukan ditangkar, melainkan hidup liar. Musim menjadi salah satu pertimbangan. Dia menyarankan kunjungan ke Kiluan tidak dilakukan pada musim hujan.

“Kalau air laut sedang pasang juga tak mungkin, kami tak berani membawa jukung sampai ke sini,” kata dia.

Selain risiko tak bersua lumba-lumba tipis, perjalanan menuju Kiluan tidaklah mudah. Perjalanan dari Bandar Lampung membutuhkan waktu enam jam. Itu pun dengan sopir yang harus luar biasa terampil karena dari Bawang menuju Kiluan jalanan rusak berat.

Saat sudah memasuki kawasan Kiluan, satu jembatan putus dan mengharuskan kendaraan melintasi sungai. Tak dalam, tapi keterampilan sopir diuji di sana. Dan kami beruntung, “pilot” kami bisa diandalkan. Jangan coba-coba bawa sedan!

Daerah itu memang sangat terisolasi. Baru tujuh tahun terakhir banyak wisatawan datang demi menikmati tarian lumba-lumba. Salah satu stasiun televisi menayangkan wisata di daerah itu.

“Saya berterima kasih dengan adanya Internet. Daerah ini menjadi terbuka,” kata Khairil.

Selain lumba-lumba, Kiluan memang menawarkan pantai yang banyak diidamkan mereka yang menginginkan tempat wisata tenang dan bersih. Pasir putihnya menggoda untuk rebahan dan berjemur. Langit sangat biru-ru-ru-ru selayak surga.

kiluan3

Snorkeling juga menjadi aktivitas yang menyenangkan setelah main mata dengan lumba-lumba. Telanjur basah, kami pun menuju tiga lokasi menarik yang ditawarkan. Yang paling menarik tapi paling ekstrem ada di laguna.

Area itu bak kolam bulat jika dilihat dari puncak tebing di satu sisinya. Jalan menuju ke laguna cukup menantang, karena harus naik-turun bebatuan. Kalau beruntung, yakni saat air surut, wisatawan dapat terjun tanpa takut terseret ombak. Karena berbatasan langsung dengan laut, laguna itu sangat dipengaruhi pasang-surut air laut.

Sayang, saat kami bertandang, air laut sedang kencang-kencangnya pasang sehingga ombak menjadi besar di dalam laguna.

Melipir lewat tepi pantai dengan jarak perjalanan 10 menit, satu tempat snorkeling bisa ditemukan. Airnya sudah cukup tenang. Tak perlu takut untuk mereka yang tak mahir berenang. Pelampung tetap menjadi bekal utama.

Bintang laut biru dan karang warna-warni bisa dinikmati di sana. Satu lokasi lagi menawarkan pemandangan yang lebih cantik karena areanya sangat bersih.

Pantai juga tak kalah bersih. Pasir putih nan lembut sayang ditinggalkan cepat-cepat. Mau berjemur atau berguling-guling juga aman karena tak ada ceceran minyak atau oli. Paling banter potongan-potongan kayu dan pecahan karang yang mengganggu telapak kaki saat nyeker.

“Saya selalu angkut ke darat potongan-potongan kayu itu,” kata Khairil. “Saya tak boleh ambil untung saja, tapi juga punya kewajiban menjaga kebersihan.”

Ada alasan untuk tak mencoba?

 

Iklan

2 thoughts on “Berburu Tarian Lumba-Lumba Liar di Teluk Kiluan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s