Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (3/habis)

Bebas make a wish meski bintang di Raja Ampat ini bukan bintang jatuh, tapi justru hanya bisa dilihat dari ketinggian.

“Mana bintangnya?”

“Lihat saja ke bawah, perhatikan tebing di depan itu.”

Percakapan itu terdengar beberapa kali dan dengan sabar dijawab dengan kalimat serupa oleh Inyong, guide grup lain. Kebetulan saat rombongan kami naik ke bukit Fainemo kedua pada Sabtu (13/10/2013), rombongan mereka bergegas turun.

Inyong kemudian menuding ke arah tebing berlekuk segi lima yang hanya berjarak sepelemparan batu. Kemudian dia meminta kami memilih lokasi yang lebih tinggi.

Tujuannya satu: agar bintang yang ada di bawah sana bisa lebih kentara.

Kami menuruti instruksi Inyong, seorang penduduk lokal yang memiliki homestay di Waisai dan terbiasa menemani pelancong ke Raja Ampat. Dialah yang menunjukkan keberadaan Tanjung Bintang, tempat kami berdiri saat ini, sebagai puncakan Fainemo kedua. Puncakan Fainemo pertama sudah kami singgahi sebelum ini.

Tebing itu membentuk kolam berbentuk segi lima. Kolam itu berisi air dengan warna senada dengan kolam-kolam renang bintang lima.

rj5-i

Kolam itu berair biru muda. Warna airnya kontras dengan jutaan kubik air di luar tebing yang berwarna biru tua. Kolam berbentuk bintang itu bukan buatan manusia. Kolam itu mengikuti kejadian bumi.

Tebing segi lima tak beraturan tingginya. Pepohonan yang tumbuh di sana juga tak tak perlu mengikuti undang-undang.

Lagi, lagi kami mengucap syukur dan kekaguman. Di sela-sela suka cita, aku selipkan doa dan permohonan. Ini bukan bintang jatuh, tapi tetap boleh kan untuk make a wish. Ini tempat yang luar biasa.

Kami mendapatkan ketegasan: tidak perlu kecewa Wayag ditutup. Tanjung Bintang menjadi pelipur lara.

Perjalanan ini mempunyai makna sampingan buat saya. Ini sebuah perjalanan dengan kenikmatan perseorangan.

Perjalanan dengan aktivitas menatap Tanjung Bintang adalah kenikmatan individu. Tak semua orang menyadari kolam bintang itu ada di bawah sana. Beruntung Inyong yang sudah akrab dengan lokasi seantero Fainemo memberikan petunjuk kepada rombongan kami.

rj2-i

Menatap Tanjung Bintang adalah kenikmatan perseorangan. Sebab, di bukit ini tak menyediakan dataran landai untuk berombongan. Demi keamanan, berpose dengan latar belakang bentuk bintang itu sebaiknya dilakuan satu persatu.

Sayang, tak semua anggota rombongan bisa turut serta menyaksikan keindahan ini. Beberapa teman menyerah saat melihat trek menuju puncak bukit kapur untuk melihat Tanjung Bintang ini. Bocoran dari rombongan tentang jalur menuju puncak kian bikin ngedrop.

“Pakai alas kaki yang baik, bebatuan lebih tajam dari Fainemo yang pertama. Sudah begitu jarak tumpuan kaki satu dengan yang lainnya cukup jauh,” begitulah informasi yang kami terima.

rj3-i

Ya, kami hanya mendapatkan informasi dari rimbongan lain. Bahkan awak kapal kami yang dari Sorong pun tak mengenal area ini.

Nathalie, pemimpin rombongan dari Photopackers, menawarkan kepada anggota untuk tetap naik atau tinggal di kapal.  Sebagian memutuskan untuk ke atas, sebagian memilih tinggal di kapal.

“Kami tinggal di sini saja. Medannya sulit. Lebih baik berenang di sini,” kata Erna, salah satu peserta.

“Sekalian pipis,” celetuk Riska. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitulah prinsip teman-teman, sekali nyemplung air, bisa basah sekalian pipis juga.

rj6-i

Kami yang penasaran dengan Tanjung Bintang memisahkan diri. Kendati memang benar, batu kapur tajam melahap sandal dan kulit-kulit jari luar, kami bersikukuh mencapai puncak tertinggi. Toh, dari informasi tadi, perjalanan lebih pendek dibandingkan saat kami ke puncak Fainemo pertama. Artinya perjalanan kurang dari 20 menit.

Benar, tak terlalu lama kami nyaris sampai di puncak. Seseorang dari tempat yang lebih tinggi memberi aba-aba untuk bersabar menunggu di tempat saat ini kami berdiri.

rj4-i

“Di atas sempit, bergantian ya!”

Baiklah, kami akan sabar menunggu untuk membelanjakan mata dan kamera di atas segi lima di Fainemo, Raja Ampat, Papua Barat itu. Bukankah sareh iku pikoleh, kalau diterjemahkan bebas yang sabarlah yang akan memperoleh apa yang diharapkannya’.

Perjalanan itu menutup petulangan kami di Raja Ampat setelah sempat kecewa karena Wayag tutup. Ternyata masih banyak keindahan lain di sudut-sudut Raja Ampat. (Selesai)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s