Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (2)

rajaampat1-i

Kami berdiri di atasnya. Bukit Fainemo satu menyimpan keelokan miniatur Wayag di balik jalur pendakian.

Kami memulai aktivitas pagi itu tanpa semangat. Kami kadung kecewa dengan kabar Wayag di Raja Ampat ditutup.

Ditambah kapal yang tak bisa bersandar tepat di pinggir homestay Hamueco, tempat kami menginap. Butuh tenaga ekstra kalau harus menuju kapal.

Namun, tak banyak opsi buat kami. Hanya dua pilihan yang bisa dimainkan. Tinggal di penginapan atau turut serta ke lokasi pengganti.

Pilihan pertama jelas bukan solusi. Tak ada televisi, minim sinyal telepon dan jauh dari warung.

Saya dan 17 rekan satu perjalanan manut dengan preferensi kedua. Tujuan kami hari ini, Sabtu (13/10/2013) menuju Fainemo.

Fainemo bukan pantai, guide menyebut Fainemo miniatur Wayag. Ada tiga bukit Fainemo yang menyembunyikan keelokan di balik jalur pendakian di tiga bukit itu.

SONY DSC

Dua jam perjalanan di atas kapal membawa kami ke bukit kapur dengan sedikit pepohonan. Tak ada deru ombak. Juga tak ada pasir putih. Matahari melindap termakan mendung.

“Perjalanan ke puncak sekitar 30 menit. Jalurnya mendaki,” kata Putra, salah satu awak kapal.

Informasi singkat itu kami artikan: sebaiknya membawa bekal secukupnya. Air minum, kamera, cengdem, dan cemilan wajib dibawa. Baju ganti, alat snorkeling dan barang yang tak benar-benar dibutuhkan ditinggal di kapal saja.

Melongok keluar jendela kapal, satu lagi yang tak boleh dilupakan: alas kaki. Ketajaman batu kapur tak permisif. Sandal swallow saja habis dimakannya.

Semua sepakat untuk ke puncak lebih dulu. Semua ingin melihat ada apa di balik bukit ini.

rajaampat4-i

Rombongan tak bisa jalan berbarengan. Perbedaan usia peserta trip bareng Photopacker ini justru menguntungkan. Puncak Fainemo 1 ini sempit.

Tak sampai 30 menit, puncak pun didapatkan. Kami spontan merapal syukur dan kekaguman. Salah kalau kami kecewa tak bisa melihat Wayag.

Fainemo tepat disebut miniature Wayag. Dari bukit ini kami bisa melihat gunung-gunung kapur dengan hijau pepohonan plus gradasi biru tua dan biru muda di permukaan airnya.

Pose di sini, pindah pose di sana. Mejeng di kamera sini kemudian nampang di kamera sana. Foto sendiri biar seolah-olah jadi penguasa pulau atau beramai-ramai heboh menjadi aktivitas wajib di sana.

Ini Raja Ampat Bung!

rajaampat5-i

Tidak salah Edo Kondologit menyebut Tuhan meletakkan surga di Papua. Trinity menyebut Raja Ampat sebagai surga kesembilan di blog miliknya.

Setelah satu jam, berasa baru beberapa menit, kami diminta turun. Waktu terbatas dan kami harus bergegas.

Ada satu bukit lagi yang tak kalah menawan. Kami bersiap menuju Tanjung Bintang. (bersambung)

Iklan

One thought on “Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (2)

  1. Ping-balik: Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (3/habis) | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s