Raja Ampat Tidak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (1)

raja1

Entah kapan keindahan rangkaian gunung kapur yang mencuat dari dalam air di Wayag, Raja Ampat, Papua Barat bisa dinikmati lagi. Konflik kepentingan disebut-sebut jadi faktor utama ditutupnya kawasan wisata “paling Raja Ampat” itu. 

“Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Biar nanti langit terbelah aku Papua

Oooh, Oooh,

Tanah Papua tanah yang kaya

Surga kecil jatuh ke bumi

Seluas tanah sebanyak madu

Adalah harta harapan.”

Lagu yang dikenal publik lewat film garapan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, Di Timur Matahari, itu terus dinyanyikan bocah-bocah kampung wisata Arborek, Distrik Meosmansar, Raja Ampat, Papua Barat. Lima perempuan separuh baya memberi aba-aba.

Saya dan 17 teman seperjalanan ikut bertepuk tangan sambil bernyanyi. Kebersamaan itu berlanjut dengan berkenalan. Obrolan pun bergulir. Dari berdiskusi tayangan televisi saat ini, juga membicarakan kehidupan sehari-hari mereka.

Dari mana air tawar, pasokan listrik, gedung sekolah hingga jumlah penginapan di pulau ini. Juga siapa yang memunculkan ide Arborek menjadi desa wisata sampai nominal keuntungan penjualan kerajinan anyaman.

Lama-kelamaan kami terusik juga untuk menanyakan alasan ditutupnya Wayag untuk umum.

“Orang halang karena kita punya uang dimakan satu orang saja.”

raja2-i

Begitulah jawaban mama, seolah sekaligus menumpahkan kekesalan kepada satu sosok yang dianggap berperan besar terhadap  ditutupnya Wayag sejak April 2013. Yang makin mengesalkan, kabar penutupan itu hanya dari mulut ke mulut.

Ya, kabar ditutupnya Wayag seperti mitos yang berhembus di ibukota. Tidak ada satupun media yang menuliskannya. Tidak ada keterangan resmi dari pemerintah setempat.

Informasi sebatas dari pelancong lain yang sudah lebih dahulu plesiran ke Raja Ampat untuk mencicipi langsung keelokan Wayag. Namun, mereka pun tak benar-benar mempunyai bukti. Mereka manut mengikuti instruksi guide untuk mengalihkan perjalanan ke Fainemo.

Begitu pula kami. Informasi itu pertama kali kami dapatkan dari pelancong Jakarta yang sudah sepekan berleha-leha di Waisai. Dia sekaligus berusaha untuk menenangkan rombongan kami agar tak perlu risau dengan ditutupnya Wayag.

“Tenang di sini asal jepret bagus. Kalau mau snorkeling asal nyebur juga oke,” kata pemuda yang kemudian mengenalkan namanya Sugi.

Beberapa pemilik homestay dan guide lokal juga cuma bisa mengira-ira.

“Dari kabar yang saya terima, Wayag ditutup karena ada konflik antara pemerintah dengan penduduk kampung setempat,” kata Hasna Afifah, pemilik homestay Hamueco.

“Pemerintah tidak menyepakati nominal kompensasi yang diminta penduduk. Nilainya Rp 5 miliar,” ujar dia.

Namun sumber lain mengatakan warga diprovokasi agar menuntut sejumlah uang kepada pemerintah. Jika pemerintah tidak sanggup, ada seorang anak pejabat pusat yang siap membayar lebih besar. Tentu saja dengan imbalan kawasan itu menjadi hak milik.

****

Begitu banyak kabar simpang siur sejak kami menjejakkan kaki di Waisai, ibukota Raja Ampat, Jumat (12/10/2013) siang. Penasaran dan rasa ingin tahu kalah begitu saja setelah mendengar harga sewa perahu untuk mengecek langsung ke TKP.

raja3

Hari ini saya dan 17 teman yang berangkat berang di trip Photopacker pasrah. Kami memilih menelan kekecewaan bulat-bulat seperti yang dirasakan pelancong lain yang lebih dulu tiba.

Kami berprinsip biaya masuk seharga Rp 250 ribu tidak boleh hanya setara sebagai penukar pin bertulis Raja Ampat, Papua Barat. Alternatif harus disusun.

Rancangan skenario berfoto dengan latar belakang bukit-bukit kapur dengan tumbuhan hijau dan air laut bergradasi biru muda ke biru tua di dasarnya sudah pasti berantakan. Konsekuensinya, kami harus menerima kalau kami belum ke Raja Ampat. Maklum dalam benak kami sudah terlanjur terpatri “belum ke Raja Ampat kalau belum menginjak Wayag”.

Inyong, guide lokal, memberi solusi. Nathalie yang jadi pimpinan rombongan sepakat dan kami mengamini. Wayag diganti Fainemo! (Bersambung)

Iklan

4 thoughts on “Raja Ampat Tidak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (1)

  1. Ping-balik: Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (2) | femidiah

  2. Ping-balik: Raja Ampat Tak Hanya Wayag, Ada Tanjung Bintang Pelipur Kecewa (3/habis) | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s