Bersenang-senang dengan Batik di Museum Tekstil di Jalan Aipda KS Tubun

IMG_3872

Museum Tekstil, di Petamburan, Jakarta sedang sibuk-sibuknya. Kompleks gedung tua yang sudah amat dekat dengan area Tanah Abang itu sedang menyambut hari batik dengan acara yang tak biasa.

Museum Tekstil sedang bersolek. Sisi depan museum tertutup tenda putih berukuran sedang. Beberapa rangkaian bunga ucapan selamat dari kolega sudah berdiri tak teratur. Tampaknya sebuah acara besar baru selesai dan sisa-sisa belum dibereskan.

Setelah membayar tiket masuk Rp 5.000 dan memasuki gedung utama lewat pintu hijau, mata langsung disambut dengan lembaran-lembaran batik klasik Jogja dan Solo, cokelat muda dan colekat tua.

Memasuki ruangan-ruangan yang ada di dalamnya, melulu lembaran batik klasik yang ada. Di antaranya, batik Jogjakarta, Kampuh Dodot, sumbangan Hamengku Buwono XI dan Semen Ukel Cantel.

“Tiga hari ini museum sedang merayakan hari batik. Semua koleksi batik yang ada kami pajang,” kata Artanti, pemandu museum.

“Dari Jumat sampai hari ini, kami meriahkan hari batik Indonesia dengan berbagai kegiatan,” jelas dia.

IMG_3910

Di area belakang museum, beberapa produsen batik memanfaatkan momen itu untuk menjual koleksi milik mereka. Dari Cirebon, Palembang, Solo dan Jogjakarta.

Di gedung Pendopo Batik, serombongan anak TK sedang sedang sibuk mencoba membatik dengan bimbingan beberapa pemandu. Setelah usai, hasil karya mereka dipamerkan di papan-papan yang ada di dalam dan luar ruangan.

Di gedung Galeri Batik yang sejajar dengan gedung utama, berlembar-lembar batik juga dipajang dengan rapi. Jika butuh referensi soal batik, beberapa buku terpampang di meja resepsionis. Beberapa pemandu juga siap mendampingi perjalanan mengelilingi galeri.

Jika belum puas, pengunjung bisa menjelajah gedung-gedung lain yang masih ada dalam kompleks museum tekstil itu.

“Di belakang gedung utama juga ada perpustakaan untuk umum, ruang pengenalan wastra (kain, bahasa sansekerta), dan ruang konservasi serta laboratorium. Satu lagi ada taman pewarna alam yang ada di tengah-tengah antara gedung utama dan perpustakaan,” kata Anti.

Sebulan ini, lanjut dia, memang museum tekstil bertema batik. Itu disesuaikan dengan perayaan hari batik nasional tanggal 2 Oktober. Bisa juga sesuai acara perorangan. Misalnya desainer atau sekolah mode yang tengah pameran.

“Setiap bulan temanya berganti, sesuai pick bulan itu. Bisa jadi tenun atau kain-kain bermotif kaligrafi kalau menjelang ramadhan,” jelas dia.

Makin ramai 7 tahun terakhir

Museum tekstil yang ada di Petamburan dan sudah mendekati Tanah Abang relatif mudah ditemukan. Hanya saja jalan raya Aipda KS Tubun itu memang terkenal dengan lalu lintas yang padat sampai cenderung macet.

Dari beberapa refernsi disebutkan sebelum menjadi museum tekstil, gedung itu adalah rumah pribadi seorang warga negara Prancis yang dibangun pada abad ke-19. Tempat ini kemudian dibeli oleh konsul Turki bernama Abdul Azis Almussawi Al Katiri, yang selanjutnya pada tahun 1942 dijual kepada Dr. Karel Christian Cruq.

IMG_3923

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini difungsikan sebagai markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan tahun 1947 didiami oleh Lie Sion Pin. Departemen Sosial kemudian membeli gedung tersebut pada 1952 dan diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta.

Gedung itu diresmikan sebagai Museum Tekstil pada tanggal 28 Juni 1976 oleh Ibu Tien Soeharto. Tapi sampai tahun 1990an akhir museum itu relatif sepi pengunjung. Bahkan, tawaran untuk belajar membatik di akhir tahun 1990-an belum bisa mendongkrak jumlah pengunjung.

Menurut Anti, pengunjung museum per hari rata-rata 100-150 orang. Jumlah itu meningkat drastis ketimbang tahun 1990-an.

“Sudah sejak tahun 90-an akhir kami membuka kelas membatik, tapi belum terlalu ramai saat itu. Barulah tujuh tahun terakhir ini kegiatan itu diminati,” kata Anti.

“Utamanya anak-anak TK dan SD. Beberapa sekolah bahkan sudah memiliki kegiatan ekstra kurikuler membatik,” jelas dia.

Ismail Isdito, pengunjung museum tekstil dari Pondok Labu, menyebut ini bukan pertama kalinya dia mampir ke museum itu. Malah dia rutin mengunjunginya.

Pria berusia 75 tahun itu kerap membawa anak dan cucunya untuk melihat-lihat koleksi kain yang ada di museum itu.

IMG_3876

“Kalau mendapatkan informasi di sini ada kegiatan, saya usahakan untuk datang. Kan kebetulan orang tua saya juga membatik, jadi saya senang seklai dengan batik dan kain-kain lain,” kata Ismail yang pernah mendesain seragam Perhimpunan Filateli Indonesia itu.

Satu pesan disampaikan Anti kepada pengunjung.

“Seperti jadwal museum-museum lain, Senin museum ini tutup bagi pengunjung. Jangan lupa untuk berkunjung ke museum yang berada satu payung dengan museum tekstil ya: museum keramik dan museum wayang yang ada di Kota Tua,” ucap dia.

Iklan

2 thoughts on “Bersenang-senang dengan Batik di Museum Tekstil di Jalan Aipda KS Tubun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s