Mereka Mencintai Kopi dengan Caranya Sendiri

hari kopi femi

Mereka amat mencintai kopi. Mereka mengenalkan kopi dan mengajak publik untuk bersenang-senang dengan kopi.

Undangan serbagratis untuk merayakan hari kopi internasional riuh memenuhi pesan di media sosial atau pesan pribadi saya belakangan ini. Timeline di instagram, twitter, path, dan facebook makin ramai pas hari H, hari ini. 1 Oktober.

Saya sendiri tetap ngantor seperti biasa. Undangan-undangan itu terpaksa saya abaikan. Bahkan sampai sore ini saya belum menyeduh kopi. Sedikit merasa gagal untuk menjadi bagian dari republik kopi, tapi tidak apa-apa.

Toh, saya pada akhirnya menemukan cara untuk merayakan hari kopi sedunia hari ini. Dengan cara saya sendiri.

Mengumpulkan ingatan dan hobi #perjalanan, saya mencoba merangkum pertemuan-pertemuan dengan sosok-sosok yang mumpuni di bidang perkopian. Jumlahnya tidak banyak dan pemilihan bukan karena banyak hal. itu tadi, mereka inilah yang berhasil saya temui saat #perjalanan. Mereka, para pecinta kopi, mempunyai cara mereka sendiri untuk mencintai kopi.

Siapa saja?

1. Hendri Kurniawan, pendiri ABCD Coffee

IMG_1829Lantai dua Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta, pada awal Agustus 2014, sudah tidak terlalu ramai. Tapi kios nomor 75-77 sudah menunjukkan gairahnya.

Beberapa barista sibuk melayani permintaan pembeli yang rata-rata anak muda berpakaian necis. Seolah mereka salah kostum saat masuk pasar.

Varian kopi yang ditawarkan tidak banyak. Pembeli juga dipaksa mengonsumsi kopi panas, bukan ice atau blended. Mereka juga bebas membayar ‘pay as you like it’. Jadi jangan kaget, tak ada kasir di sana. Cuma ada gentong kecil untuk menaruh uang seperti saat kita kondangan.

“Saya ingin menyediakan wadah buat masyarakat Jakarta agar mereka bisa mengonsumsi kopi secara lebih fun. Uangnya buat beli biji kopi lagi, bukan buat barista. Kami relawan semua dan sudah gembira bisa serving kopi buat para konsumen,” kata Uncle Hendri, sapaan karib Hendri.

Tak hanya mengajak bersenang-senang dengan menikmati kopi dari gelasnya, Hendri juga membuat ABCD yang kependekan dari A Bunch of Caffeine Dealers sebagai sekolah kopi, school of coffee.

ABCD sendiri juga merangkum urutan kurikulum belajar jadi barista lho. Secara lengkapnya nanti di artikel lain ya. Hendri memang mempunyai ilmu yang komplet soal perkopian. Dia juga memiliki Licensed Q Grader.

Tak hanya menjadikan ABCD sebagai tempat belajar dan bereksperimen para barista pemula dan yang sudah punya pengalaman, Hendri juga mengajak penikmat kopi lewat #ngopidipasar. Bukan di cafe dengan air condisioner yang adem plus wifi dan sofa empuk itu.

“Kami ingin konsumen mengenal lebih banyak jenis kopi dan mempunyai pengalaman kopi yang benar. Bukan pengalaman sebuah kafe, dengan AC, sofa, atau sudut Instagrammable tapi kadang tanpa seni latte yang cukup,” kata dia.

“Kami ingin mengajak orang datang ke kedai kopi dan membuat perubahan. Bagaimana membangun komunikasi dengan barista dan mulai bertanya “apa kopi terbaik untuk hari ini?” jelas dia.

Hendri, kala itu, menyebut kalau Pasar Santa bakal ramai mulai bulan Oktober. Hampir semua kios sudah di-booking orang, asing atau lokal. “Datang saja nanti sekitar Oktober,” ucap dia.

2. Setiawan Subekti, empu kopi dari Banyuwangi

Bersama Sang Maestro KopiPertemuan dengan Setiawan Subekti sama sekali tak masuk dalam rencana saya saat melancong ke Banyuwangi, Jawa Timur pada Mei 2013. Oleh teman yang menemani kami selama perjalanan di kota Sunrise of Java itu, Mas Kisma Dona, kami dipertemukan dengan pria yang dikenal sebagai empu dan tester kopi tersebut.

Iwan sering kali traveling ke penjuru dunia sebagai juri kopi. Sampai ke Brasil, Amerika Serikat, Jepang, juga negara-negara Asia Tenggara. Beberapa foto yang ada di dinding dan majalah-majalah koleksinya mengukuhkan siapa Iwan di antara ahli kopi Indonesia.

Dia setia dengan kopi karena masih merasa mempunyai utang kepada masyarakat. Sampai, sampai dia membuat tagline: “sekali seduh kita bersaudara”.

โ€œSeharusnya kita paling mudah mengonsumsi kopi terenak. Tapi, kita malah dipaksa minum kopi sortiran dan sudah lawas seperti kopi sachet-an,” kata Iwan.

โ€œSaya ingin menjadikan Banyuwangi sebagai kota kopi. Saya ingin Banyuwangi mempunyai kopi dan kedai kopi yang benar. Bagaimana kopi Indonesia menjadi tuan rumah di Indonesia,โ€ tutur dia.

Dia pun mencoba banyak cara untuk mengenalkan kopi Banyuwangi. Mampirlah ke Sanggar Genjah Arum, jika beruntung Anda bisa berjumpa dan ngobrol banyak soal kopi dengan dia.

Ajakan ngopi dan kalau beruntung (lagi) sebungkus kopi banyuwangi bisa kita bawa pulang.

3. Dewa Agung Bagus, membangun Jambe Asri Agrotourism di Gianyar

dewaagungDari hasil mengumpulkan uang lewat pekerjaan turun-temurun sebagai pedangan beras ketan, Dewa Agung Bagus berhasil membeli tanah seluas 2 hektar di Gianyar, Bali. Niatnya cuma satu: tanah itu bakal jadi kebun kopi di Gianyar.

Bukan semata-mata kebun kopi, tapi nantinya akan dihasilkan kopi luwak dari atas tanah itu. Juga bakal dibangun bale-bale yang menggambarkan nuansa tradisional Bali dengan bale dangen, bale dauh, dan bale dajo-nya.

“Bali sudah dikenal dengan kopi kintamani. Saya ingin Gianyar juga dikenal dengan kopi-nya. Di sini pengunjung bsia menikmati kopi sembari mengetahui proses awal sampai ada di dalam gelas,” kata Dewa.

“Selain itu, mereka bisa menikmati kopi dekat dengan kebun kopi sejauh mata memandang,” kata dia.

Uniknya lagi, kita tak hanya bisa menikmati kopi yang diberi harga tertentu. Ada satu paket minuman lain dengan takaran mini yang digratiskan.

“Ini biar para pengunjung bisa membandingkan minuman satu dengan lainnya hingga nantinya tahu mana minuman yang paling mereka sukai,” ucap Wayan Sunarta, salah satu pegawai di kebun kopi itu.

4. Albert Liongadi dan kedai kopi Phoenam

kopiphoenamKalau masih mendambakan kedai kopi dengan AC, sofa, dan sudut instagramable, kopi Phoenam di Jalan Wachid Hasyim, Jakarta bukanlah pilihan. Yang nongkrong di sana juga bukan anak kekinian, tapi lebih banyak bapak-bapak yang sebagian besar menikmati kopi dengan merokok tak henti serta bercerita dan tertawa keras-keras.

Tapi, kenikmatan kopi bakal menjerat dan membuat kita mengabaikan semua hal itu. Apalagi roti bakar srikaya yang jadi andalan di kedai kopi itu.

Albert Liongadi sang pemilik juga berbaur asyik dengan para pengunjung itu. “Kebanyakan orang-orang Makassar yang di Jakarta pada berkumpul di sini. Awalnya kedai kami memang ada di Makassar,” kata Albert.

Menurut Albert, Phoenam berasal dari bahasa mandri. Artinya, terminal atau tempat transit di selatan.

Albert yang mempelajari kopi secara otodidak itu mencampurkan arabika yang aromanya khas dan robusta yang asamnya tak keterlaluan. Peracikan kopi juga tak repot. Dia membuatnya dengan diseduh air panas. Hanya saja ada satu kuncian yang dipakainya.

“Kopi kami diseduh bukan dengan air panas saja, namun menggunakan air sari kopi. Air sari kopi itu telah disiapkan pada subuh hari sebelumnya. Inilah yang menghasilkan kopi dengan cita rasa yang tinggi,” ucap dia.

Tak hanya itu. Juga ada kisah dari beberapa sosok pecinta kopi yang saya temui dalam #perjalanan saya. Kopi-kopi kaus kaki di Banda Aceh, pertemuan dengan seorang bapak di mempunyai kedai kopi di pojokan tempat wisata terkenal di Hanoi, Vietnam, juga petani-petani kopi di Waerebo. Mungkin akan menjadi cerita tersendiri nantinya.

Jadi ke mana kamu untuk menikmati kopi malam ini?

Selamat hari kopi internasional!!!!

Iklan

6 thoughts on “Mereka Mencintai Kopi dengan Caranya Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s