Bersicepat ke Taj Mahal (2) – Menjadi Alice in Wonderland

tajmahal5

Bangunan serbaputih yang amat megah itu menyimpan kisah yang pilu. Sebuah cinta sang raja kepada istri ketiganya, Mumtaz Mahal.

Cerita Taj Mahal sudah begitu melegenda. Bisa berwisata dan mendengarkan langsung cerita dari guide lokal di sana, saya merasa kalau sayalah yang pertama tahu kisah cinta mendalam itu.

Petunjuk Pinot benar. Kami tiba saat Taj Mahal belum ramai. Tapi tak lama kemudian, rombongan demi rombongan wisatawan mulai memasuki halaman luas bangunan yang masuk daftar UNESCO World Heritage Site di tahun 1983 itu.

Memasuki area Taj Mahal seolah kami tak berasa di india. Sepanjang jalan menuju Taj Mahal, kami disuguhi suasana amat kering dengan debu yang tak ada habisnya.

Tapi, setelah membayar tiket dan melewati antrian masuk kami seolah sudah berada dalam taman dengan rumput hijau. Aroma-aroma yang tajam kurang menyenangkan pergi begitu saja. Aku seperti menjadi Alice dalam Wonderland-nya.

Setelah melewati lantai beton, kami disambut gapura cokelat: Derwaza-I. Nah, gapura itulah yang jadi pintu gerbang ruang utama Taj Mahal. Lantai beton berubah dengan padang rumput dengan ending Musoleum Taj Mahal.

Tepat di depan mata, bangunan serbaputih dengan kubahnya serta empat menara di empat sudut berbeda mengelilingi sudah makin dekat. Kami–aku dan Musoelum Taj mahal itu–hanya terpisah kolam memanjang.

Ingin rasanya segera berlari mendekat untuk menginjakkan kaki di atas marbles itu. Tapi, teriakan Muhamamd membuyarkan angan.

“Ayo ke sini! Kita berfoto dulu,” kata Muhamamd. Dia kemudian mengarahkan gaya agar kami seolah-olah memegang pucuk kubah Taj Mahal. Mencium kubah atau bahkan mengangkatnya. Rupanya, dia paham perkembangan gaya foto favorit di lokasi wisata.

Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan lagi. Semakin mendekati Musoleum Taj Mahal. Warna putihnya semakin nyata. Malah mulai terlihat kalau dindingnya tak monoton putih. Ada corak berwarna dengan motif-motif tertentu. Juga dnding yang diukir dnegan motif tertentu.

Tepat di bawah dinding Taj Mahal, kami diminta untuk mengenakan sepatu sekali pakai itu. Rupanya di sinilah fungsi bonus di pintu masuk itu. Mereka punya cara agar Taj Mahal tetap putih.

tajmahal

“Ayo kemari,” ajak Muhammad mendekati dinding Taj Mahal setelah kami menaiki undakan dan sampai di pelatarannya.

“Yang berwarna ini bisa bercahaya kalau malam,” kata Muhamamd sembari menyalakan senter kecil.

“Ini dibuat dari batu-batu alami yang diukir sedemikian rupa,” jelas Muhammad.

Ah, aku langsung teringat dengan batu akik yang dipakai bapakku. Samakah?

Soal ukuran jelas beda. Yang di jari kecil. Yang di sini ‘wow’.

Baca juga: Agra Fort, bonus perjalanan menuju Taj Mahal

Memasuki area dalam Taj Mahal, semua juga putih. Makam Mumtaj dan Shah Jahan ada di bawah lantai dasar. Tapi, para pelancong tak bisa mendekat. Demi keamanan dan kebersihan katanya. Kami hanya bsia melongok dari atas.

Eh ada juga akal-akalan di dalam Taj Mahal ini. Beberapa bapak tua menawarkan untuk memperlihatkan hal ajaib kepada para tamu. Syaratnya kami harus membayar sekian rupee untuk bisa menyaksikan keajaiban itu. Karena penasaran dan nominal yang masuk akal kami membayarnya.

Si bapak tua mengeluarkan senter dan mengarahkannya pada batu-batu di salah satu dinding.

“Menyala kan? Kalau sedang bulan purnama, dan dua hari sebelum dan sesudahnya, dinding ini terang. Cantik sekali,” ujar dia.

tajmahal7

Acara untuk menikmati bagian dalam Taj Mahal selesai. Kami keluar dan memutari bangunan itu. Di salah satu sisi yang teduh kami duduk-duduk.

Kebetulan di hadapan kami ada Sungai Yamuna yang airnya sedang tak banyak. Di seberang sana tanah kosong tak berpenghuni.

Sambil duduk dan ngobrol, aku membayangkan kopi dan pisang goreng. Bolehkan? (Bersambung)

Iklan

5 thoughts on “Bersicepat ke Taj Mahal (2) – Menjadi Alice in Wonderland

  1. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (3) – Visa Lancar Berkat Haryanto Arbi | femidiah

  2. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (4) – Gunungan Cinta, Ribuan Pekerja, dan Jalinan Pualam | femidiah

  3. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (5/habis) – Diapit Masjid dan Ruang Musik | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s