Bersicepat ke Taj Mahal (1) – Melewati Benteng Merah nan Megah Agra Fort

tajmahal

Menuju Taj Mahal, kami disuguhi benteng raksasa yang berisi kubah berukuran besar. Semua serbamerah. Dinamakan benteng Agra. Agra Fort.

Perjalanan ke Taj Mahal kala itu bukan semata-mata untuk liburan. Mumpung ada tugas di New Delhi, saya dan sepasukan teman dari Jakarta bersicepat singgah ke destinasi favaorit di India itu.

Pukul 04.00 waktu setempat, kami sudah harus berkumpul di depan hotel Hyatt, tempat kami menginap. Niat utama: jangan sampai kesiangan tiba di Taj Mahal.

“Tidak enak kalau kesiangan. Panas,” kata Pinot, driver kami selama di New Delhi pada gelaran Piala Thomas Uber 2014 pada bulan Mei di New Delhi, India.

“Kalau kepagian juga tidak tepat. Belum buka,” imbuh dia.

Perjalanan kali ini juga diurus Pinot. Dari sejumlah pewarta bulutangkis dari Indonesia kami mempunyai misi serupa: mampir ke Taj Mahal. Kepada Pinot kami utaran niat itu sejak hari pertama. Waktu belum bisa ditentukan, soalnya semua bergantung laju Indonesia di Piala Thomas Uber kala itu.

Hingga akhirnya hari yang dirasa pas tiba. Kami ke Agra saat final Piala Uber, hari Sabtu. Kebetulan timnas Indonesia, baik Thomas ataupun Uber, sudah tersingkir. Pertandingan final juga digeber siang mulai pukul 13.oo waktu setempat. Bisalah untuk kabur dari New Delhi barang sebentar.

Maka dari perhitungan kami, ada waktu setengah hari untuk ke Taj Mahal plus perjalanan pulang pergi.

Tentu saja ada satu permintaan penting kami kepada Pinot.

“Paket wisata tidak perlu mahal tapi bisa tepat waktu dan aman.”

IMG_1183.JPG

Pinot memberikan jawaban positif. Kami sewa mobil plus sopir dari New Delhi. Berangkat dinihari. Soal biaya, setelah tawar-menawar yang cukup alot akhirnya disepakati sebuah harga.

Sewa mobil dan sopir dibagi rata kami bersepuluh. Kurang lebih kami harus patungan masing-masing sekitar Rp 200 ribu per kepala. Untuk tiket masuk Taj Mahal per orang senilai Rp 150 ribu.

Pagi itu kami meluncur ke Agra, kota di mana Taj Mahal berada. Dari banyak informasi, perjalanan dari Taj Mahal ke Agra sekitar empat jam.

Bolehlah berangkat pagi buta, kami masih bisa tidur di jalan.

Rupanya perjalan saat gelap dan masih tersisa kantuk sedikit menguntungkan. Sebab, saat kami, eh saya, terbangun di tengah perjalanan baru menyadari kalau bus amat kotor dan bau.

Aroma kurang sedap makin menyeruak saat kami transit di sebuah warung, sekitar satu jam lagi menuju Agra. Lalat berterbangan seperti saat musim buah di negeri kita. Sebagian membeli makanan ringan chiki-chikian, sebagian lainnya beli air mineral. Mau jajan prata atau ngopi dan teh mikir dua kali. Tahu kan kenapa?

Tak berlama-lama transit di warung itu, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taj Mahal.

Suasana terasa makin kering saat kami tiba di kawasan Agra yang ada di Distrik Uttar Pradesh itu. Jalanan berdebu, kerbau yang berjalan-jalan di sungai Yamuna yang mengering dan kaki busik para pengembara yang tak memakai sandal.

Perhatian kami segera teralihkan saat bus sudah mendekati kawasan Taj Mahal. Kami melewati bangunan yang tak kalah megahnya dengan Taj Mahal yang ada dalam bayangan kami. Kurang lebih 2,5 kilometer dari Taj Mahal. Benteng megah itu dikenal dengan Agra Fort. Atau Red Agra Fort. Kalau Red Fort sendiri ada di New Delhi.

Istana itu tak berwarna serbaputih, tapi serbamerah. Kata Pinot tiket masuk ke Agra Fort itu Rp 50 ribu untuk wisatawan asing. Ya, harga tiket masuk ke Taj Mahal untuk warga pribumi dan asing juga berbeda. Saat Pinot masuk, dia hanya perlu membayar Rp 10.000.

Istana Agra itu dibangun di atas tanah seluas 94 hektar. Ada yang menyebut benteng itu menjadikan Agra Fort sebagai walled city. Sebuah kanal air dibangun mengelilingi kaki benteng itu.

agrafort1

Merah dan Megah: Agra Fort, sebuah benteng serbamerah yang hanya berjarak 2,5 kilometer dari Taj Mahal. Karena saya tak mampir, gambar saya ambil dari Getty Images by Wolfgang Kaehler/LightRocket

Kenapa walled city? Di dalamĀ  dinding benteng pertahanan setinggi 21 meter sepanjang 2,5 kilometer itu terdapatĀ  bangunan-bangunan dengan nama-nama tertentu. Muthamman Burj, Sheesh Mahal, Anguri Bag, Diwan I am dan Diwan I Khas, masjid Nagina, Khas Mahal, dan Jahangir’s Palace

Nah, Muthamman Burj yang paling terkenal.

Begini ceritanya.

Menurut informasi dari Muhammad, guide kami di Taj Mahal, istana itu dibangun oleh kakek Shah Janan yang namanya Akbar. Akbar ini sukses memenangkan perang Panipat kedua atas raja Hindu, Hemu, pada 1556.

Akbar kemudian berpikir keras untuk membangun pusat pemerintahan. Sampailah dia di Agra dua tahun kemudian. Di Agra, dia menemukan reruntuhan benteng berbata merah. Akbar kemudian membangun kembali benteng dan istana-istana di dalamnya dengan mendatangkan pasir merah dari Barauli. Konon beteng itu dibangun selama delapan taun dan melibatkan 4.000 pekerja.

Cucu Akbar yang bernama Shah Jahan yang kemudian lebih melegenda. Shah Jahan itu yang menjadi otak pembangunan Taj Mahal untuk mendiang istrinya, Mumtaz Mahal.

Sebagai pewaris takhta, Shah Jahan tinggal dan memerintah dari Agra Fort. Nah, meninggalnya Mumtaz membuat dia berduka mendalam. Membangun Taj Mahal dan berfokus kepada akivitas di sana.

Dalam perjalanannya Shah Jahan dikudeta oleh anaknya sendiri, Aurangzeb.

Oleh Aurangzeb, Shah Jahan disekap di salah satu istana di Agra Fort itu, di Muthamman Burj. Dari menara istana itu, Taj Mahal masih bisa disaksikan. Tenang kisah itu tak melulu anak durhaka. Menurut Muhammad, akhir ceritanya happy ending. Aurangzeb dan ayahnya akur.

Kami sih tak masuk ke dalam Istana Agra. Kami hanya melintas dan menyaksikan kemegahan istana itu dari dalam bus. Informasi itu selain dari guide , saya kombinasikan dengan brosur wisata dan Google.

Kami langsung menuju destinasi utama: Taj Mahal.

Sesampainya di tempat parkir area Taj Mahal, kami disambut odong-odong untuk menuju pintu masuk. Tak sampai 10 menit, kami sudah ada di depan loket penjualan tiket.

Selain disambut odong-odong ada satu lagi yang menyambut kami. Yakni, aroma khas yang sedikit kurang nyaman buat hidung saya dan teman-teman seperjalanan.

Pembelian tiket sudah dikoordinir Pinot. Dengan nominal itu kami mendapatkan alas kaki sekali pakai (disposable shoes) dan air mineral serta seorang pemandu wisata. Dia memperkenalkan namanya: Muhammad.

Perjalanan berkeliling Taj Mahal kami mulai setelah melewati pintu masuk yang hanya muat satu demi satu orang. tentunya sih biar antrian rapi ya.

Eh, rupanya tongsis belum dikenal di Agra. Tongkat saya disita. Sedikit kecewa tapi tak apa, kami bepergian bersama beberapa fotografer. (Bersambung)

Iklan

4 thoughts on “Bersicepat ke Taj Mahal (1) – Melewati Benteng Merah nan Megah Agra Fort

  1. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (2) – Menjadi Alice in Wonderland | femidiah

  2. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (3) – Visa Lancar Berkat Haryanto Arbi | femidiah

  3. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (4) – Gunungan Cinta, Ribuan Pekerja, dan Jalinan Pualam | femidiah

  4. Ping-balik: Bersicepat ke Taj Mahal (5/habis) – Diapit Masjid dan Ruang Musik | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s