Menyusun Harapan di Museum Layang-Layang

layanglayang1

Tidak perlu menunggu perayan Waisak di Borobudur untuk menerbangkan harapan lewat lampion. Susunlah asa, rakit layang-layang di Jalan Haji Kamang kemudian, terbangkan di mana saja.

Segala warna dan bentuk layang-layang ada ada di dalam Museum Layang-Layang. Tidak jauh dari Lebak Bulus atau Ragunan, Jakarta Selatan. Bangunan joglo penuh ukiran itu ada di Jalan Haji Kamang, Pondok Labu, Cilandak, masih di Jakarta Selatan.

Dari jalan raya sebuah papan penunjuk berwarna merah jelas memberikan arahan 200 meter ke Museum Layang-Layang. Tak sampailah berkeringat gedung bisa ditemukan. Penanda lokasi ditulis dengan huruf besar-besar di tembok pagar.

Ukuran gedung itu tidak agung seperti jamaknya museum. Kecil saja. Tapi masuk kategori ‘wah’ sebagai rumah hunian. Ya, ini rumah yang dijadikan museum. Lokasinya juga di tengah-tengah perumahan.

layanglayang2

Saat memasuki gerbang suasana serba layang-layang menyambut seketika. Ada beberapa bocah asyik bermain layangaan di halaman. Ada juga layang-layang yang ada di udara tak semestinya. Bukan diterbnagkan tapi digantung.

Kalau tak banyak minat alias hanya ingin menyimak koleksi layang-layang dan membuat layang-layang cukup merogoh kocek Rp 10.000. Acara berkeliling akan otomatis didampingi petugas. uang itu ditukar dengan tiket masuk.

Pertama-tama, kita diminta memasuki ruang gelap. Coba tebak untuk apa? Duduk lesehan, lampu dimatikan, video aneka ragam dan kegiatan layang-layang berdurasi 10 menit ditayangkan.

Sebuah pengantar yang manis agar punya gambaran layang-layang tak melulu mainan tarik ulur benang. “Banyak ritual di daerah dan negara yang menggunakan layang-layang,” kata Dayat, salah satu petugas di museum milik Endang Ernawati itu, saat saya berkunjung 25 Februari lalu.

layanglayang3

Setelah punya bekal dari tayangan video 10 menit-an itu, Dayat mendaulat saya untuk menuju joglo yang ada di seberang ruang pemutaran film. Layang-layang berukuran raksasa pun langsung jadi suguhan. Kereta kuda, laba-laba, kelelawar, kuda sembrani, naga. Tak ada aturan khusus saat menyusunnya. Ada di dinding, ada di atap. ada pulayang ngintip di jendela. Suka-suka saja. Pokoknya masih terlindung atap joglo. Tidak kehujanan.

Tapi koleksi layang-layang tak cuma ada di ruang terbuka itu. Memasuki gedung dengan dua ruangan tidak berimbang, satu luas dan satu lagi sempit, aneka rupa layang-layang dengan bermacam-macam asal, fungsi dan ukuran tersimpan. Di dalam ruangan penyimpanan sedikit teratur. Di kelompok-kelompokkan berdasarkan daerah asal. Ada keterangan tertempal di bawah atau di samping yang bisa dibaca.

Misalnya: layang-layang Dengung dari Sumatera Utara. Bahan kertas minyak, berumbai-rumbai. Itu untuk aduan. Ada pula layang-layang dari Lampung yang fungsional. Bahannya cuma dari kantong plastik hitam yang biasa digunakan ibu-ibu sebagai kantong belanja. Oleh para nelayan Lampung, layang-layang itu digunakan untuk mengerek benang pancing. Kadang-kadang mereka juga menggunakan dedaunan.

layanglayang5

Jakarta juga punya layang-layang. Namanya Koangan. Sederhana saja seperti kebanyakan layangan yang sudah dikenal, Bahannya dari kertas minyak diwarna-warni sekuka-sukanya.

Museum juga punya koleksi layangan yang bikin geleng-geleng kepala. Misalnya, layangan Dewi Sri yang cantik jelita dan berkostum gemerlap bak dewa-dewi kayangan bersayap motif bulu-bulu merak. Postur sungguh tiga dimensi bak manekin di toko-toko busana. Bahannya dari styrofoam. Ringan, agar mudah terbang.

Ada pula barongsai yang dilayang-layangkan. Barongsai ini juga dari bahan yang ringan agar bisa terbang. Namanya juga layang-layang kalau tidak terbang ya bukan layang-layang. Makanya, meski bobotnya besar, tapi dibuat sedemikian rupa untuk bisa terbang. Benangnya juga bukan berukuran besar. Diameter benangnya lebih lebar daripada benang kasur yang pernah saya mainkan untuk menerbangkan layang-layang.

Tak cuma layang-layang berukuran raksasa yang ada di dalam gedung itu, tapi yang kecil-kecil juga ada. Penyimpanannya berbeda. Tak digantung atau ditempel di dinding-dinding tapi disimpam dalam kotak kaca.

Catatan yang berbau-bau layangan juga bisa diikuti. Misalnya dari perangko dan amplop terbitan PT Pos Indonesia. Beberapa catatan tentang festival layang-layang di beberapa negara juga tersimpan di sana.

layanglayang4

Jangan khawatir itu semua bebas diabadikan. “Silakan kalau mau foto-foto tidak ada larangan. Apa mbaknya mau berpose di depan layang-layang yang paling besar ini,” kata Dayat. Siapa tak mau. Kalau tanpa foto nanti dikira hoax saya pernah kemari.

“Nanti kalau sudah puas foto-foto kita bikin layang-layang di luar ya,” tutur Dayat kemudian.

Wah, ini kejutan. Tak hanya anak-anak yang dapat privilege untuk bikin layang-layang. Yang gedean juga bisa. “Buat mengenang masa lalu. Enggak repot kok,” ucap Deni Fitriani, petugas yang berjaga lainnya.

Benar, satu set peralatan membuat layang-layang sudah disiapkan. Tak perlu repot membilah bambu, sebab ragangan berbentuk layang-layang sudah siap sedia. Tugas kami hanya menempel dengan kertas minyak warna putih.

Rupanya kegiatan sederhana yang biasa dilakukan di masa kecil bisa bikin grogi saat dilakukan sekarang. Apalagi ketika proses memasuki tahapan mewarnai.

“Wah mau pilih apa?” Di otak yang pertama saja yang saya tuangkan. Yang penting warna warni, ada merahnya—warna kesukaan saya dan klub sepakbola favorit saya—dan ada hijaunya—juga karena masih klub bola kesukaan saya.

Sedikit keinginan dan mimpi saya sematkan ke layang-layang itu. Semua semesta mendengar dan bersekutu untuk mewujudkan. Sudah seperti motivator ya. Tak sampai 10 menit jadi deh….

layanglayang6

“Ini saya bekali benangnya juga. Kalau mau diterbangkan silakan. Kalau disimpan juga ok,” ucap Dayat. Akhirnya layang-layang berisi doa dan harapan itu saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s