Selain Yellow Crane Tower, Wuhan Juga Punya Destinasi Wisata Lainnya

Screenshot_2015-09-16-09-33-06-1d

Sebelum terbang ke Wuhan, China, sederet rencana mendatangi tempat wisata sudah saya siapkan. Selain mengunjungi Yellow Crane Tower, Sungai Yangtze dan menara pagoda serta sejumlah museum menarik untuk disinggahi.

Yellow Crane Tower menjadi satu tempat indah yang tak boleh dilewatkan saat melancong ke Wuhan, Hubei. Menara pengintai di zaman Raja WU itu berubah fungsi sebagai taman yang doikenal sebagai ‘rumah puisi’.

Di sana juga ada lucky bell alias lonceng keberuntungan. Selain dengan cara memukul lonceng konon, nasib baik juga bisa didukung dengan lempar koin. Percaya atau tidak silakan dibuktikan saja.

Di lokasi yang sama, masih di bukit ular, ya namanya bukit ular, ada satu menara satu lagi. Waranya tidak kuning seperti Yellow Crane Tower, tapi hitam. Menara itu untuk melihat bulan.

Selian itu wisata itu, Wuhan memiliki lokasi lain yang bisa disinggahi. Saya berkesempatan mampir ke beberapa destinasi wisata itu di sela-sela penugasan liputan Piala Thimas Uber pada Juni 2012.

Berikut di antaranya:

1. Baotong Temple

baotongtemple

Saya mendatangi Baotong Temple yang ada di kaki bukit Hongshan, Wuhan. Memasuki kawasan Baotong Temple gratis saja, barulah saya harus merogoh kocek saat akan naik ke pagodanya.

Tiket masuk ke pagoda tujuh lantai itu tergolong murah meriah, hanya 10 yuan atau sekitar Rp 20.000.

Untuk yang berbadan gempal sebaiknya tidak melancong ke tempat ini. Tangga naiknya ke tiap lantai sempit luar biasa. Lagipula, tidak ada lifta tau eskalator. Menuju ke lantai ketujuh, tangga jadi satu-satunya jalur ke atas.

Uniknya, sebelum masuk pagoda, pengunjung diharuskan untuk mengelilingi pagoda itu satu kali dengan searah jarum jam.

Pagoda Baotong yang juga dieknal dengan pagoda Lingji itu dibangun dari batu bata dengan tinggi 44,3 meter.

Saat memasuki pagoda Baotong, kita bakal disambut oleh wihara yang cukup megah. Katanya, bangunan yang tersusun di atas tanah yang makin tinggi itu juga ada tempat tinggal para biksu.

Di bagian belakang ada satu wihara lagi, lebih kecil tapi cukup memukau. Di seluruh dinding tersippan patung budha berukuran kecil yang disusun berderet.

2. Museum Provinsi Hubei

Saya dibuat terpesona dengan museum Provinsi Hubei yang berlokasi di distrik atau kecamatan Wuchang, Wuhan. “Semestinya Indonesia mempunyai museum seperti ini,” begitu batin saya seketika saat memasuki lrong waktu di dalam gedung itu.

Ya, museum Wuhan jelas membuat iri. Bangunannya luas dan megah serta amat bersih dan cukup modern.

Biaya masuk museum ini gratis. Pengunjung hanya perlu membayar guide jika membutuhkannya. Bisa guide orang atau menyewa rekaman yang disediakan petugas setelah pintu masuk.

Museum ini disebut-sebut mempunyai koleksi terlengkap yang menyimpan benda-benda perjalanan Provinsi Hubei. Dari porselen, batu giok, alat perang, alat musik, dan peralatan rumah tangga.

Yang mengasyikkan tak ada larangan memtoret di semua area museum ini. Selain itu, museum juga mempunyai satu ruangan yang khusus menjual suvenir-suvenir yang menarik.

3. Pusat barang palsu Han Zhengjie

shopingwuhan
Ada satu pasar yang begitu kondang di Wuhan. Petugas hotel sempat melarang saya ke Han Zheng Jie saat saya menanyakan arah dan transportasi yang digunakan untuk ke sana.

“Itu pasar barang-barang palsu.”

Tapi larangan itu tak menyurutkan niat karena, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari mahasiswa Indonesia yang belajar di Wuhan, pasar ini seperti Pasar Tanah Abang.

Bersama tiga rekan seperjalanan, Ega, Cahyo, dan Doni, kami akhirnya mencoba untuk jalan-jalan ke area itu. Tempatnya ternyata hanya di belakang hotel tempat menginap saya, tinggal jalan kaki tak lebih dari 20 menit. MOda tranportasi umum bahkan sampai menolak permintaan kami untuk mengantarkan ke lokasi.

Tiba di lokasi, kami seperti ada di Beijing Lu, kawasan belanja di Guangzhou. Tiba-tiba ada calo yang mendekati dan menawarkan barang dengan kertas yang ada gambar arloji, sepatu, tas kulit, dan barang-barang yang ditawarkan. Sedikit bikin deg-degan karena kalau menyetujui kami langsung digiring ke sebuah kios yang tertutup, kemudian disuguhi barang-barang yang ditawarkan.

Di sana tertimbun aneka barang bermerek. Tapi pria yang sudah menunggu di ruangan itu percaya diri sekali menawarkan dengan harga selangit.

Kami tak mau kalah gertak dengan menawar hingga seperlimanya, seperti transaksi di Pasar Klewer atau Malioboro. Semula si penjual tak mau. Tapi, begitu kami cuek ngeloyor, baru beberapa langkah kami dipanggil.

Deal! Mau beli apa saja, jika punya nyali, tawar seekstrem mungkin.

Di area lain jalan itu, berdiri megah toko-toko dengan merk kenamaan. Zara, Adidas, Nike, Li Ning dll. Yang ini barang asli.

4. Melihat Pecinan Sesungguhnya

Kalau jalan-jalan di Jakarta, Semarang, Solo, dan Magelang, ada kawasan pecinan dengan toko-toko kecil yang menjual barang spesifik. Di Wuhan, pecinan ini masih hidup sekali. Tak banyak mal berdiri. Tapi jangan harap banyak yang buka 24 jam. Yang bertahan sampai pagi justru toko bebek kering. Toko kelontong pun tutup cepat.

5. Kongkow di tepian Sungai Yangtze

Sungai Yangtze disebut-sebut dalam pelajaran geografi SMP. Rasanya tak percaya saya bisa berdri di tepi sungai terpanjang di China, malah se-Asia itu.

Ada satu area yang membuat kongkow di tepi sungai Yangtze jadi kegiatan mengasyikkan. Tempatnya bersih dan terdapat beberapa kedai makanan.

Dari brosur wisata, Wuhan masih menyimpan banyak tempat wisata lain, Antara lain, taman nasional Donghu, jembatan sungai Yangtze Wuhan, pusat kuliner di Hubu Alley, taman botani Wuhan, museum seni Hubei.

Karena keterbatasan waktu dan kesulitan komunikasi, saya kurang bisa maksimal menjelajah kota itu. Semoga dalam waktu dekat saya bisa segera berbahasa mandarin dengan lancar. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s