Ke Wuhan Tanpa Banyak Peringatan

luckybell

Selain payung dan jaket, bawalah tisu basah dan air bersih selama melancong di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China di bulan Mei. Sebab, musim hujan mulai datang. Tisu dan air bersih akan amat berguna saat ingin ke belakang.  

Wuhan tak mengenal macet. Jalan-jalan besar dengan perempatan luas dan jalan layang terbentang.

Jembatan-jembatan raksasa di kota ini mengingatkan kita pada Samarinda dan Kutai Kartanegara, yang juga memiliki sungai besar. Istimewanya, Wuhan dialiri Sungai Yangtze, sungai terpanjang di Asia dan ketiga di dunia.

Di sini taksi tetap pilihan transportasi utama. “Taksi di sini sangat murah,” kata hampir semua resepsionis tempat saya menginap.

Kalau dibanding naik bus berkeliling kota, harganya memang bisa mencapai sepuluh kali lipat, tapi kendala bahasa membuat taksi menjadi pilihan yang tepat bagi wisatawan seperti saya. Berhitung dengan bahasa China satu sampai sepuluh saja tidak lancar. Paling banter cuma bisa Ni Hao Ma? Kami menyangka tarif murah taxi itu berkat bahan bakar gas yang digunakan.

Tak banyak warga Wuhan yang mengerti huruf Latin. Mencoba mengatakan tujuan dengan bentuk mulut yang sudah dimonyong-monyongkan pun bukan solusi.

Wuhan, seperti juga warga seantero China, memiliki pengucapan sendiri, juga tulisannya. Jadi, kalau pergi sendirian, sebelum ke mana-mana sebaiknya datangi resepsionis minta tolong agar dituliskan dengan huruf manadrin tujuan kita, juga ‘no pork’ dalam tulisan mandarin demi kemudahan mencari makanan halal.

Di luar itu, saya punya satu kesimpulan tentang kota ini: kotor dan jorok. Ya, di sela-sela meliput pergelaran Piala Thomas dan Uber pekan lalu, saya bersama beberapa wartawan dari Jakarta meluangkan waktu melancong ke beberapa sudut kota ini.

Sebelum berangkat, beberapa teman cuma mewanti-wanti agar saya membawa payung. Maklum, saat itu di Wuhan baru memasuki babak awal musim semi. Artinya, hujan dan panas terik bergantian datang. Payung, tentu saja, menjadi senjata yang haram dilupakan.

Benar, saat keluar dari Bandar Udara Tianhe, jejak hujan ada di jalanan yang basah. Angin bertiup semilir menambah dingin. Jadi peringatan itu masih terlalu minim.

Seharusnya jaket juga menjadi bawaan wajib, terutama pengunjung dari kawasan tropis. Juga informasi lainnya. Ini terkait dengan kesimpulan saya di atas. Begitu melintasi beberapa sudut wilayah Wuhan, banyak pengalaman yang memaksa saya dan teman-teman mengelus dada, manyun, sampai mangkel.

Bila berniat melancong, menyusuri sudut-sudut kota ini, sebaiknya memang kita dalam kondisi kosong. Segala sampah dalam tubuh sebaiknya dibuang di penginapan. Bila terpaksa melakukannya di tengah perjalanan, risiko tanggung sendiri. Kondisi superhoror seperti hanya bisa dialami di sini.

Jika cuma bau pesing di toilet, bagi saya bau di Wuhan tak sedahsyat di Guangzhou atau terakhir-terakhir ini di Jakarta. Tapi justru hal lebih jorok dan kotor terjadi di Wuhan. Seorang teman bahkan sampai mogok makan saking traumanya dengan tingkat kejorokan di bawah ambang toleransi yang dijumpainya saat masuk toilet. Air untuk bersih-bersih tak tersedia, sehingga kotoran menumpuk begitu saja.

“Apa iya enggak nge-flush setelah pipis dan buang air besar itu tradisi (masyarakat) di sini,” kata dia.

Jadi seharusnya ada pesan wajib lainnya bila melancong ke Wuhan, juga mungkin daerah lain di Cina: bawa air mineral ke mana pun Anda pergi.

Seorang teman lain yang pernah dua kali ke Wuhan malah mengaku sempat menyaksikan toilet jongkok berjajar tanpa sekat di Stadion Utama Wuhan Gymnasium Sport Center. Dua pria yang masuk ke toilet tanpa sungkan memelorotkan celana, kemudian bergantian kentut dan asyik berbincang sambil melepas hajat.

Paling mengerikan kejadian di toilet wanita. Ini sudah masyhur diceritakan beberapa teman yang pernah ke kota ini. Pembalut dibuang begitu saja tanpa dilipat, apalagi dibungkus rapi.

Jadi, jangan lupa bekal air meniral dan rasa jijik yang minim ya kalau ke Wuhan lagi.
***

Taxi Gelap

Deretan taksi berwarna hijau dengan tulisan Cina berjejer menyambut kami di Bandar Udara Tianhe. Eh, belum juga lima menit meninggalkan pintu bandara, saya sudah memetik pengalaman kurang menyenangkan. Seorang pria dengan dandanan rapi jali yang berdiri di antara sopir taksi menyeret koper gede saya. Dua teman wartawan dari Jakarta pun manut karena mengira dia salah satu anggota staf operasional taksi bandara.

Kecurigaan muncul saat pria tadi memarkir taksinya di lokasi agak remang-remang. Telanjur basah, kami mengikuti skenarionya. Begitu mobil mulai bergerak, argo istiqomah. “Wah, taksi gelap ini,” celetuk seorang teman. Kami mengangguk.

Di akhir perjalanan, si sopir menagih biaya 300 yuan atau sekitar Rp 443 ribu (nilai tukar yuan sekitar Rp 1.400). Kami ngotot menawar, dan disepakati menjadi 200 yuan. Di kemudian hari, ternyata ongkos taksi bandara menggunakan argo ke pusat kota tempat saya menginap hanya 85 yuan.
***

Tip Jalan-jalan di Wuhan

– Mengajak rekan yang bisa berbahasa Mandarin karena sangat sedikit masyarakat biasa yang mengerti alfabet Latin.
– Persiapkan fisik yang prima karena bangunan tempat wisata sangat besar.
– Jangan lupa membawa air mineral lebih dari satu botol. Satu untuk minum, satu untuk bersih-bersih. Membawa tisu basah dan kering lebih baik.
– Bawa bekal pakaian dan peralatan wisata selengkap-lengkapnya karena Wuhan tak memiliki banyak toko kelontong yang buka 24 jam.
– Disarankan membawa obat sariawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s