Mengunjungi Yellow Crane Tower, Menara Pengintai yang Sohor sebagai ‘Rumah Puisi’

yellowcrane2

Belum ke Wuhan kalau belum ke Yellow Crane. Dari jauh bangunan yang mirip pagoda itu saya kira tempat ibadah, ternyata ‘rumah puisi’.

Dari jalanan, warna kuning pada masing-masing atap bangunan lima lantai Yellow Crane sudah terlihat. Namun, menuju ke lokasi destinasi liburan paling terkenal di China Selatan itu tidak sedekat kelihatannya.

Setelah membayar tiket seharga 80 yuan atau sekitar Rp 160.00 di bulan Juni tahun 2012, saya dan dua teman seperjalanan–Putra Tegar dan Cahyo–yang juga meliput Piala Thomas Uber, langsung disambut tangga untuk menuju pintu gerbang area Yellow Crane Tower atau menara bangau kuning yang ada di Bukit Ular, Wuhan, Provinsi Hubei.

Pemandangan berikutnya adalah kolam ikan dan aula untuk menulis puisi dengan bangku-bangku ceper tersusun rapi. Dinding ruangan dihiasi tulisan-tulisan China yang ternyata itu adalah puisi. Emmhh, aku buta sama sekali dengan abjad China.

Perjalanan belum selesai, jalur tangga naik-turun masih harus dilewati sebelum bertemu dengan pintu masuk pagoda. Beberapa gazebo bundar menambah sip penampilan taman di area itu.

Bangunan itu memang benar tersusun dari lima lantai seperti terlihat dari luar. Di dinding-dinding per lantai itulah riwayat Yellow Crane diceritakan.

yellowcrane

Di lantai satu kami langsung disuguhi dinding porselen dengan lukisan berukuran raksasa yang menggambarkan seorang pria mengendarai bangau keluar dari pagoda dari lantai satu hingga lantai ketiga. Konon, pria itu tak pernah kembali.

Nah, bangau itulah yag menjadi asal nama bangunan tersebut. Bangau itu pula yang menjadi simbol kota Wuhan

“Ini dikenal sebagai tempat seorang pujangga membuat puisi. Ini bukan tempat ibadah,” kata seorang perempuan China dengan bahasa Inggris patah-patah.

Keterangan itu langsung disambar oleh Ega, sapaan karib Putra Tegar. “Pantas saja saya mendadak romantis setelah masuk pagoda,” celetuk dia.

Memasuki lantai dua, kesan kuno dan romantis sedikit pudar. Dua ruangan yang ada malah digunakan untuk kios suvenir. Selain itu, ada lift yang katanya dibangun pada 1981, bertepatan saat renovasi Yellow Crane yang sempat terbakar.

Di lantai lima, kami masih disuguhi patung bangau berleher panjang yang berdiri di lantai.

Selain itu, kita bisa mengintip kota Wuhan lewat teropong yang disewakan dengan tarif 2 yuan.

Dalam sejarahnya, Yellow Crane disebutkan dibangun di tahun 223, selama tiga periode kerajaan (220-280). Karena lokasi yang ada di atas bukit, bangunan itu dijadikan menara pengintai di zaman Raja Wu. Setelah ratusan tahun, fungsi militer secara bertahap dilupakan dan menara itu menjadi destinasi wisata tersohor di Wuhan.

Oh ya, soal kenapa bangunan ini menjadi ‘rumah puisi’ disebutkan beberapa sumber kalau suatu kali Cui Hao, seorang penyair terkenal dari Dinasti Tang, mengunjungi bangunan itu. Dia kemudian membuat pusisi tentang Yellow Crane dan puisinya membuat bangunan itu menjadi bangunan paling terkenal di China Selatan. Setelah itu beberapa pujangga juga membuat pusisi untuk memuji keindahan bangunan itu.

Wuhan juga telah lama terkenal sebagai pusat seni, utamanya puisi dan  studi intelektual. Di bawah penguasa Mongol (Dinasti Yuan), Wuchang dipromosikan menjadi ibukota provinsi di abad ke-18. Kini Wuhan telah menjadi salah satu dari empat kota yang paling penting dalam perdagangan China.

Wuhan juga tempat lahir petenis putri paling top dari Asia: Li Na.

Masih ada bonus tambahan saat mengunjungi Yellow Crane. Ada lucky bell di sana. Titip harapan tak hanya dengan melempar koin, tapi juga membunyikan bel.

luckybell

Kami bertiga make a wish dalam hati dengan dua cara itu, melempar koin dan membunyikan bel.

Aih… koin masuk! Kami pun makin riang.

Sejatinya ada satu pagoda lagi di hadapan Yellow Crane. Pagoda ini beratap hitam dan digunakan untuk mengintip bulan. Benar-benar lokasi yang sangat romantis….

Dalam petunjuk wisata, bangunan itu mendapatkan stempel AAAAA alias wajib dikunjungi. Makanya, belum ke Wuhan kalau belum ke Yellow Crane. Soal penilaian apakah AAAAA itu tepat atau tidak, itu soal selera.

Iklan

3 thoughts on “Mengunjungi Yellow Crane Tower, Menara Pengintai yang Sohor sebagai ‘Rumah Puisi’

  1. Ping-balik: Selain Yellow Crane Tower, Wuhan Juga Punya Destinasi Wisata Lainnya | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s