Penjelajahan Trowulan yang Tak Katam

trowulan

Perjalanan yang tak selesai itu meninggalkan pekerjaan rumah yang tak mudah untuk dilupakan 

Jangan coba-coba menantang untuk merampungkan penelusuran situs-situs arkeologi di Trowulan jika hanya punya waktu sempit. Sungguh ini tak bisa jadi kegiatan samben alias sampingan. Trowulan menuntut jadi menu utama.

Nyatanya, saya dan 10 rekan dari Jakarta ditambah dua rekan dari Surabaya panen kedongkolan usai bertandang ke Trowulan yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Kami  hanya menjadikan Trowulan sebagai sampingan.

Kami menjadikan kawasan yang disebut Unesco sebagai bekas pusat pemerintahan Mojopahit itu kegiatan pengisi waktu luang. Maklum kegiatan jalan-jalan ini kami lakukan di sela-sela padatnya jadwal kejuaraan beregu bulu tangkis Djarum Superliga Badminton di Surabaya awal Februari 2013.

trowulan2

Berbekal referensi minimalis kami melajukan kendaraan ke Mojokerto. Untungnya sopir yang didapuk mengantarkan kami jagoan jalanan yang tak kader jalur. Tak perlu bertanya kanan-kiri, Kecamatan Trowulan segera ditemukan.

Namun problem datang saat harus memilih tempat tujuan. Rupanya situs itu menyebar di satu kecamatan yang tentunya untuk mengitarinya butuh waktu khusus!

Cagar Budaya Gapura Bajang Ratu

towulan 6Cagar Budaya Gapura Bajang Ratu menjadi persinggahan pertama. Satu gapura bata merah sangat mencolok perhatian. Penampakannya gagah benar, sangat kontras dengan hijau rerumputan yang menjadi latar belakang.

“Gapura ini punya tipe paduraksa, yakni beratap dan punya sayap,” kata Sugeng, pemandu di lokasi setempat.

Menurut Sugeng gapura itu punya fungsi layaknya gapura masa kini: sebagai pintu gerbang.

“Gapura Bajang Rau itu merupakan pintu masuk ke bangunan suci di belakangnya,” kata Sugeng.

Konon, bangunan suci itu makam Raja Jayanegara. Kami hanya mengangguk-angguk seolah-olah mengerti. Sebab, pernyataan Sugeng kontras dengan kondisi yang kami temui di lapangan.

Ya, tepat setelah Sugeng menyampaikan kalimat “merupakan pintu masuk ke bangunan suci di belakangnya” kami otomatis kompak melongokkan kepala ke belakang gapura. Lha kok kami nggak menemukan apapun. Di sana, di belakang gapura itu hanya ada tanah luas yang cukup landai dengan rerumputan hijau. Sejauh mata memandang kami tak menemukan –bangunan-suci-di-belakangnya-.

Tampaknya Sugeng memahami raut muka penuh tanda tanya yang kami pasang bersama-sama di waktu bersamaan.

“Semuanya belum bisa dipastikan, semua masih dalam penelitian,” kata Sugeng.

Serta-merta kami bak kelompok paduan suara: “Ooooooooo….”.

Jawaban Sugeng ditanggapi beragam oleh rombongan. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian yang lebih besar sudah tak bisa menyembunyikan senyuman.Tapi, kemudian berubah jadi senyum kecut dan takut-takut.

“Tanah kosong itu makam,” lanjut dia.

Eh, lha kok ndilalah Sugeng yang kira-kira berusia 45 tahun itu tipikal guide yang memegang prinsip: turis adalah raja, dia memberikan keterangan seluas-luasnya dan serinci mungkin kepada raja meskipun lebih banyak diikuti kalimat: “semuanya belum bisa dipastikan, semua masih dalam penelitian”.

Beliau-nya masih cuek memberikan keterangan meski mood kami mulai melorot karena “hanya” bersua gapura merah bata. -Hanya-pada kalimat sebelumnya sengaja saya kurung dengan tanda petik karena gapura itu saja sejatinya sudah sangat istimewa. Bata merah yang diperkirakan dibangun pada abad XIII itu masih awet. Sebagian memang sudah tambalan dengan bata merah artifisial. Bata merah yang aslipun tak mulus seperti batu bata merah yang menyusun rumah-rumah jaman sekarang tapi penuh ukiran.

Tak bisa berlama-lama dan perjumpaan dengan penghuni utama di gapura Bajang Ratu sudah lulus, kamipun menunjuk Candi Tikus. Perjalanan tak lebih dari lima menit berkendara. Lokasi ini konon merupakan pemandian raja Airlangga.

Candi Tikus

trowulan 8Masih serupa dengan Gapura Bajang Ratu, kolam yang lebih dikenal dengan sebutan pentirtaan disusun dengan bata merah. Tak banyak informasi yang kami dapatkan.

Selain memang terburu-buru tak ada guide di area ini. Tapi pengelola menyediakan buku panduan wisata yang bisa dibaca sendiri, asal beli.

Setelah asyik-asyik berfoto kami berpindah lokasi. Tak ada tujuan pasti, muter-muter area situ saja asal terlihat candi yng menurut kami kece, maka kami datangi.

Pilihan jatuh di Candi Brahu. Kegiatan ya tak jauh-jauh dari foto-foto. Sendirian, kemudian rombongan.

Candi Brau

trowulan 9Matahari makin terik, lumayan di pintu masuk ada penjual pentol alias cilok. Lumayan untuk mengganjal perut. Urusan kehausan sudah lebih dulu terpenuhi. Ada warung penjual minuman dingin di depan Gapura Bajang  Ratu.

Sayangnya wasit bayangan sudah meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Matahari sudah semakin tinggi. Injury time diberikan hanya untuk perjalan kembali ke Surabaya.

Kami melewati patung Budha tidur. Kami tak berhasil mampir candi Jati Pasar dan candi Gentong. Kami pun tak memasuki museum arkeologi Trowulan.

Oh ya, makanan khas yang sohor dari Mojokerto: onde-onde pun tak didapatkan. Sate kambing muda sehat yang menjadi kuliner andalan Mojokerto juga cuma titip salam.

Jadi, memang butuh waktu panjaaaaannggg untuk menikmati area yang disebut-sebut sebagai cikal bakal nusantara.

Iklan

4 thoughts on “Penjelajahan Trowulan yang Tak Katam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s