Kampung Palbatu, Tebet yang Terobsesi Meniru Kauman, Solo

palbatu

Konon, Jakarta zaman dulu, Batavia, mempunyai pusat batik yang sohor. Palbatu terletak di daerah Menteng Dalam, Tebet, persisnya di Jalan Palbatu IV, Jakarta Selatan terobsesi untuk membangkitkan gairah itu lagi. Mampukah?

Memasuki Jalan Palbatu IV seolah memasuki lorong geografis yang tak lagi ada di Jakarta. Kita seakan dibawa berjalan-jalan ke Kauman, salah satu kampung batik di Solo.

Dinding-dinding rumah dengan coretan motif pada batik. Begitu pula di beberapa bagian di aspal. Ya, aspal.

Upaya itu berbuah sejumlah penghargaan.

Kampung Batik Palbatu meraih dua rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI), pada 2011 dan 2012 berkat aktivitas yang berkaitan dengan batik.

Rekor MURI pertama diraih di tahun 2011 atas rekor pemrakarsa dan penyelenggara pengecatan jalan dengan motif batik terpanjang, yakni 133,9 meter. Rekor kedua diraih di tahun 2012. Palbatu memiliki rumah warga paling banyak yang dicat motif batik.

Suasana di jalan itu makin terasa Kauman-nya dengan baliho-baliho di depan rumah: sedia batik tulis dan kalimat lanjutannya. Hanya saja rumah-rumah di sini adalah rumah masa kini, bukan bangunan jadul seperti di Kauman yang dekat dengan Pasar Klewer, Solo.

Tapi, suasana sepi akhir pekan lalu, awal September 2013. Pintu-pintu tertutup. Seolah mereka tidak menerima pembeli.

Saya yang datang ke lokasi bersama empat teman seperjalanan mencoba untuk mencari tahu dari penduduk yang sedang kongkow-kongkow di luar rumah.

“Soal batik, coba ke tempat pembuatan undangan Domino, di sana,” kata seorang pemuda yang kami tanya.

Kami mengikuti saran itu. Di rumah undangan Domino itu kami berjumpa dengan Harry. Dia salah satu pemrakarsa Palbatu sebagai kampung batik.

Dari Harry lah sejarah soal batik Betawi itu kami dapatkan. Konon, kata Harry, daerah Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat pernah menjadi sentra pembuatan batik. Industri rumahan berkembang seperti Solo, Jogja, Pekalongan dan Cirebon.

Kala itu, motif pucuk rebung yang jadi primadona.

palbatu4

Tapi, industri itu lama-lama terhenti. Kalah oleh isu pencemaran lingkungan. Para perajin pindah ke pinggiran.

Kisah lama batik Betawi itu masih menjadi perdebatan sampai saat ini. Ada pendapat lain yang menyebut jika batik Betawi ada karena ada yang memakainya dan menggunakan motif yang amat Betawi, tapi produksi tetap di luar Jakarta.

Nah, pucuk rebung adalah motif paling sohor kala itu. Majalah Historia menyebut motif tersebut bahkan menjadi seragam wajib None Jakarta sejak 1970-an karena dianggap sudah lama ada dan dikenal masyarakat Betawi.

Selain itu warna-warna cerah ala pesisiran yang digemari. Juga motif tumpal dan burung hong menjadi ciri khas lain dari batik Betawi.

Untuk menjaga kelestarian batik Betawi itu, Harry dan beberapa rekannya di tahun 2011 mencoba untuk menggairahkan Palbatu sebagai kampung batik. Tapi di tengah jalan, mereka pisah jalan. Harry yang masih bersikukuh melanjutkan misi itu.

Memang, misi itu belum sepenuhnya berhasil. Perbedaan kultur dan budaya masyarakat ibukota zaman dulu dan sekarang, juga yang di Jakarta dengan di Solo atau Pekalongan membuat batik, menurut Harry, sulit dikembangkan di Jakarta.

“Membuat batik, utamanya tulis, membutuhkan proses berminggu-minggu. Uang hasilnya juga otomatis datangnya lama. Tidak cocok dengan kultur di sini yang terbiasa menerima uang hasil kerja setiap hari atau per pekan,” kata Harry.

Maka, meski mempunyai batik motif Betawi dengan loreng ondel-ondel atau monas, juga nusa kelapa, ciliwung, rasamala, dan salakanagara, batik masih digarap di kota lain. Kalau tidak Cirebon, Pekalongan, Jogja, ya Solo. Palbatu menjadi sentra penjualan batiknya.

palbatu2

Obsesi untuk menyulap Palbatu menjadi Kauman atau bahkan Laweyan tidaklah mudah. Tapi Harry tidak menyerah.

“Program-program kreatif terus dijalankan. Tidak harus di sini. Bisa di Kota Tua, Museum Nasional, Monas atau di manapun di seluruh Jakarta. Saya siap mengenalkan batik kepada seluruh lapisan masyarakat,” ucap dia.

Good luck, Mas!

Foto-foto Ma’mur . Terima kasih ya… Ayo kita jalan-jalan lagi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s