Gondok Menunggak Satu di Antara “3 B” Manado

 

boulevard1

“Never give up on something you really want. It’s difficult to wait, but worse to regret.”

Manado sudah terlalu identik dengan 3B. Maka ke ibu kota Sulawesi Utara tanpa mencicipi Bunaken, Bubur, dan Boulevard-nya, sebagian sih mengartikan b-nya dengan bibir, ya bakalan bawa pulang gondok alias nyesel yang ukurannya lebih besar daripada ransel gendongan.

Dan saya termakan mitos itu. Dan saya merasakan kekecewaan luar biasa karenanya. Dan gondok itu bertambah setiap kali ada yang menanyakan: ke Bunaken? | Bunaken memang bagus banget ya? | Nyelam juga di Bunaken? | Penginapan di Bunaken kisarannya berapa? | dan masih banyak lagi pertanyaaan serbaBunaken yang bertaburan.

Dan kemudian, tepat sebulan sejak perjalanan saya ke Minahasa, masih saja keinginan mencicipi itu datang. Dan masih gelaplah jawaban. Entah kapan, karena selain tiket yang kadang luar biasa mahalnya, waktu menjadi pembatas yang lebih sukar ditawar.

Dua B (sengaja dikapitalkan) yang lain katam. Bubur Manado atau nama setempat tinutuan tak sulit dicari meski tak sedikit penjual libur hari raya natal. Ada pula bubur yang bercampur mi alias midal. Lidah Jawa saya merasa aneh dengan “bubur campur” itu. Namun lantaran itu syarat komplet menginjak Minahasa, maka haruslah dicoba.  

Boulevard jadi jajahan perdana setiba di sana. Malam tahun baru juga dirasakan bersama para pendatang dan penduduk setempat yang tumplek blek di area tepi pantai itu. Kalaupun diartikan bibir yah, ehem-lah buat yang satu ini. Singkat kata, singkat cerita tak bikin penasaran lagi.

Ya, sepekan di Manado tapi saya sama sekali tak ngambah Bunaken. Salah saya sendiri terlalu percaya kata orang.

“Cuaca sedang tak bagus, nelayan saja tak berani menyebrang ke pulau sana.” Begitulah kalimat yang saya dengar dari beberapa teman baru.

Memang tak bisa dimungkiri, selama di Manado itu hampir tiap hari turun hujan. Cuaca cerah bisa dihitung dengan jari. Bodohnya saya tak mengecek langsung ke pasar Jengki atau pasar Bersehati, pelabuhan penyeberangan Manado-Bunaken. Saya terlalu asyik menuju tempat-tempat yang tak biasa yang dikenalkan oleh rekan seperjalanan. Ke Pantai Ratulangi dan mampir ke Toloun kemudian ke Tomohon, juga mengunjungi Batu Nona di Kema, serta menikmati pisang goreng yang banyak disediakan warung-warung dari boulevard sampai ke pelosok.

Nah, karena mendapatkan informasi cuaca buruk dan sebagainya saya sih biasa-biasa saja tak melongok taman laut Bunaken. “Wong, cuaca buruk kok nekad nyebrang laut.” Begitu dalih dalam hati.

Namun, penyesalan itu datang tepat menjelang pulang. Waktu itu kami, di malam menjelang pergantian tahun, kami kongkow di pusat jajan Pantai Malalayang.

Well, di sinilah kalimat yang menusuk-nusuk hati dilontarkan salah satu pelayan. “Sudah ke Bunaken? Menyeberang saja paling Rp 100 ribu.”

Saking kecewanya saya cuma bisa menelan ludah kemudian menarik napas panjang. Sudah tak ada waktu lagi untuk melipir ke Bunaken. Kontrak liburan sudah sudah tandas. Melirik arloji, tinggal hitungan jam saya menjejak Sulawesi.

Kekecewaan kian melanda karena setelah dihitung-hitung saya tak disiplin mengatur waktu. Selain itu saya juga terlalu takut hujan. Juga kalah sama wali kota Jakarta Jokowi yang riang blusukan seantero ibu kota.

Istilah keren ala para pendaki juga sudah lama saya kenal: orientasi medan. Lha kok malah terlenakan. Rain coat ada, payung juga siap sedia. Soal bahasa tak ada kendala!!!

Jadi tak menghargai keinginan plus ilmu dan bekal peralatan itu memang sungguh menjadi beban di belakang…. Kata orang menyesal selalu belakangan, kalau di depan namanya pendaftaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s