Habis dari Manado, Terbitlah Kecanduan Pisang Goroho

pisang1

Para penyuka pisang goreng, wajib untuk liburan ke Manado. Pisang goreng, eh goroho, dan sambal di Kawanua bak pinang dibelah dua, selalu tampil bersama.

Kalau memang penyakit gila dengan nomor suka-suka di Laskar Pelangi itu ada, bisa jadi saya sedang mengidapnya. Nyatanya sebulan ini, saya tak bisa meninggalkan satu kudapan yang biasa saja, mudah ditemui, dan tak mahal-mahal amat harganya.

Camilan itu juga bukan makanan asing yang baru dikenal. Malah, makanan ini sudah amat biasa disajikan bareng gorengan lainnya. Tapi, makanan itu menjadi fardhu ain buat disantap sebulan belakangan. Dia pisang goreng.

Ya, pisang goreng. Manado sudah sukses membuat saya kencaduan pisang goreng. Padahal tak sampai seumur jagung saya berada di tanah Kawanua itu. Hanya sepekan saya berasyik-asyik di sana.

Penduduk setempat akrab menyebut pisang goreng goroho. Maka tak aneh jika buku menu atau tawaran menu yang nempel di dinding warung menawarkan goroho, bukan pisang goreng.

Informasi dari om Google, goroho sendiri sebenarnya nama pisang khas Sulawesi dengan nama latin Musa acuminafe.

Memang sangatlah gampang menemukan pisang goreng di Minahasa. Seperti slogan aremania, kami tak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Begitulah pisang goreng di Minahasa, bukan hanya se-Manado.

Jika dikalkulasi, warung pisang goreng ada di setiap lima langkah berjalan. Saya berani padankan dengan maraknya angkringan di Jogja atau Solo, juga dengan warung kopi di Surabaya. Ya, warung dengan menu utama pisang goroho.

pisang2Telanjang: Di Jalan Pierre Tendean pisang digoreng tanpa tepung. Tipis dan letoy. Disajikan dengan saraba

Uniknya se-Minahasa kompak memaksa pisang goreng itu berteman akrab dengan sambal. Ya di Manado, ya di daerah lain. Di jalan Pierre Tendean, masih kawasan Boulevard–tempat nongkrong paling hit buat anak muda di Manado dan jadi salah satu ikon Manado–kompak menjajakan goroho plus sambal.

Padahal kalau disimak, penjajanya berlogat jawa. Semestinya, pisang digoreng tepung, sedikit ditambah rasa manis, sedikit asin, dan ada wangi panili atau pandan.

Tapi tak seperti pisang goreng di Jawa, di sepanjang jalan ini pisang digoreng begitu saja, tanpa tepung. Macam keripik pisang kalau di Jawa. Tapi, dengan ketebalannya berkali lipat dari keripik. Jadi letoy gitu deh kalau dipegang.

Kalau dihitung setidaknya ada sepuluh warung dengan dagangan serupa. Pisang goreng tanpa tepung.

Di sini penikmat menyantap goroho dan sambal itu dengan saraba, minuman jahe dengan racikan khas. Lumayan, kehangatannya bisa jadi ramuan ampuh penolak dingin angin pantai.

Ada pula tawaran kopi dan teh panas untuk menemani makan pisang goreng, tapi masih kalah voting dari saraba.

Lepas dua jam dari Manado, ke arah Tomohon, di Danau Linow yang tepatnya berlokasi di Lahendong, Tomohon, pisang goreng juga jadi menu andalan. Tiket masuk seharga Rp 25.000 dikompensasi dengan pisang goreng dan secangkir kopi. Boleh pilih, kopi hitam atau kopi susu. Pisangnya juga bervariasi, pisang keju, pisang coklat, pisang dabu-bu, sambal khas Manado. Sayang warung tutup jam 18.00 waktu setempat meski kecantikan danau tiada berbatas waktu.

Camilan itu juga ditemukan saat tiba di Batu Nona yang ada di Kema III, Minahasa Utara. Konsisten lho, di mana ada pisang goreng di situ ada sambal mendampingi. Tapi di sini sambalnya sangat istimewa: sambal bakasang.

“Cabe dicampur dengan perut dan telur ikan cakalang,” kata Abdul Rahman, penjaga Batu Nona. Harganya sangat pas di kantong. Cukup menyediakan Rp 1.000 pisang pun menjadi hak milik.

Yang menyenangkan ukurannya tak biasa, satu batangnya jumbo. Yang mengasyikkan, pisangnya bertepung dan disajikan panas-panas. Lumayan menjadi pelengkap saat kami mengunjungi Batu Nona yang tampaknya kian surut popularitasnya.

Makin istimewa dengan harganya yang murah meriah yang tentu saja membuka kesempatan makan banyak-banyak. Maklum, untuk mencari makan berat, nasi misalnya, harus keluar kompleks Batu Nona. Jatah uang saku juga sudah tersedot sewa perahu untuk melongok si nona yang bersembunyi di balik tebing. Per kepala wajib membayar Rp 15.000.

pisang3Sambal istimewa: Di Batu Nona pisang goreng disajikan dengan pasangan yang spesial, sambal bakasang

Satu lagi tempat mudah menemukan pisang goreng: Pantai Malalayang. Tepatnya di area Lokasi Pedagang Lapangan Kreatif Pantai Malalayang. Lagi, lagi pisang klop dengan sambal.

Makanan khas Manado lain juga tersedia: tinutuan, midal atau mie cakalang. Milu alias jagung bakar juga ada.

Menurut rekan seperjalanan yang orang Minahasa asli, ada satu tempat sohor soal perpisanggorengan ini di Manado. Yakni di Stadion Klabat. Lokasinya memang ada di seberang Stadion Klabat. Bangunannya seperti warung tegal yang menyebar di Jawa. Entah sudah berapa turunan pisang itu dikenal khalayak ramai. Sayang, saya malah tak mampir ke sana padahal kelewatan saat putar-putar kota.

Nah, saking mudah dan menjadi seringnya menikmati pisang goreng di Minahasa saya terbitlah candu itu setelah saya menjejak Jakarta kembali. Bedanya saya tak menerima mentah-mentah kebiasaan mereka. Saya menikmati pisang goreng sebagai cemilan yang sudah saya kenal sebelumnya. Kadang-kadang menjadi teman minum teh atau kopi panas. Lebih sering ya cuma disantap begitu saja: pisang goreng tepung panas kepul-kepul. Sesekali ditiup-tiup agar panasnya tak menjadi membakar bibir dan lidah.

Tak sulit mendapatkannya. Pada hari-hari harus ngantor, kantin di lantai pertama gedung Aldevco siap sedia pisang goreng coklat bersalut tepung. Harganya memang sedikit tak masuk akal: dua potong pisang dan saya harus merogoh kocek Rp 10.000. Tapi demi jabang bayi, eh bukan tentu saja, cuma demi memenuhi hasrat ingin saja. Toh, bisa menjadi pengganti makan tengah hari. Maklum tepungnya jumbo, jadi cukup mengenyangkan.

Kalau sedang tak di kantor tukang gorengan keliling jadi langganan. Yang begini cukup melegakan. Cukup mengulurkan Rp 2.000 maka tiga batang pisang goreng pun di tangan. Tapi ya gitu, dapat manis syukur, sepat anggap saja nasib. Tombo kepengin. Obat ingin.

Rupanya tak hanya saya seorang yang ketagihan goroho. Alison, perempuan dari Skotlandia, yang belum lama singgah di Manado juga ketagihan pisang goreng.

“Enak sekali, bisa makan pisang goreng setiap saat. Apalagi dimakan dengan sambal,” kata Alison yang sudah setahun ini tinggal di Jakarta.

Alison yang teman baru itu juga kerap kali mencari pisang goreng setelah berada di Jakarta. Namun, akhirnya dia kesal sendiri lantaran tak mendapatkannya.

“Kalau saja di sini juga ada pisang goreng di mana-mana.”

Tooss!!!!!

Iklan

2 thoughts on “Habis dari Manado, Terbitlah Kecanduan Pisang Goroho

  1. Jadi, kalo di Jakarta, pisang goroho itu pisang apa Kak? Apa benar jenis pisang ini ga ada di Jakarta, cuma di Manado aja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s