Batu Nona di Sulawesi Utara: Pastikan Berjumpa yang Ori, bukan KW

batu nona2

Menyendiri: Batu Nona dengan latar Gunung Dua Sudara di tengah laut Kema

Batu Nona ada di tengah laut, bukan patung serupa manekin penghias resort mewah di tepi pantai.

Setelah sekitar 50 menit berkendara dengan motor dari Manado, saya dan tiga rekan seperjalanan sampai di Kema III, Minahasa Utara yang ada di Sulawesi Utara. Kami disambut  patung perempuan cantik dengan kaki jenjang dan rambut panjang bak manekin di butik-butik ternama.

“Terlalu manis dan artifisial,” batin saya.

Seperti memahami keterkejutanku, Johns, rekan seperjalanan yang asli Minahasa memberi keterangan.

“Bukan itu Batu Nona. Itu tiruan,” kata Johns, rekan seperjalanan saya.

“Yang asli di sana, di balik karang besar itu,” ucap dia sembari menunjuk gugusan batu karang yang tak jauh dari pantai Kema itu.

Kami kemudian menuju tempat parkir umum. Membayar retribusi senilai Rp 1.500. Harga itu tak sesuai karcis masuk karena memang tak ada karcisnya. Hanya ada papan triplek dengan tulisan masuk: 1.500. Papan itu sekaligus jadi ‘gerbang’ masuk ke tangga menuju sebuah bukit untuk menyakiskan Pantai kema dengan pelabuhannya.

Dari obrolan dengan bapak tua yang menjaga parkir, Abdul Rahman, yang sekaligus menjadi petugas tiket kawasan wisata itu, ditegaskan Batu Nona memang patung manekin di depan resort tadi. Batu Nona ada di tengah laut. Sendirian.

“Sewa perahu yang di sana. Sekitar Rp 15 ribu per orang. Tak sampai 10 menit sampai. Dari sana juga bisa menyaksikan Gunung Dua Sudara,” jelas Abdul Rahman. Eh, soal nama ini, Kema memang dikenal sebagai kawasan muslim.

“Tunggu sore saja, masih panas sekali. Naik dulu saja ke atas, bisa memandang Pantai Kema dari atas. Ada tangga turun juga untuk ke pantai,” jelas dia.

Saya antusias mendengar keterangan itu.Kami pun melewati gerbang Rp 1.500 itu. Naik ke puncak bukit, ada semacam joglo (tentunya bukan joglo karena ini di Minahasa, bukan Jawa Tengah), untuk beristirahat para pelancong. Toilet yang ada sudah tak rusak, tak ada air.

Lumayan bisa turun ke pantai berpasir hitam. Tak ramai. Sepi. Foto-foto sebentar. Kami kemudian memutuskan untuk ke pantai. Tak sabar untuk menyapa Batu Nona.

Dua rekan seperjalanan, Onald dan Gaudi, memutuskan tak turun ke laut. Mereka bilang lapar, mau makan saja.

Saya dan Johns pun mendekati nelayan yang ada di tepi pantai. Setelah negosiasi dicapai sepakat, mereka mau mengantar dengan harga sewa Rp 25 ribu per kepala. Sebab, kuota minimum penumpang tak tercapai.

batu nona 3Manekin: Patung Batu Nona di Resort Batu Nona

Kami oke saja. Di antara oleh seorang bapak dan satu anaknya, kami menuju Batu Nona. Konon, Batu Nona itu jelmaan dari seorang gadis yang patah ahti dan memilih bunuh diri. Soal kebenarannya entah, namanya juga mitos.

Setelah melewati sebuah bukit karang, si anak nelayan (duh, saya lupa namanya) menunjuk-nunjuk ke sebuah Batu hitam. “Itu Batu Nona,” kata dia.

Saya masih bingung bagaimana bisa seonggok batu disebut Batu Nona.

“Nanti seiring perjaanan perahu ini, batunya akan terlihat seperti gadis dengan rambut panjang,” jelas si bapak.

Benar, dari sudut pandnag tertentu batu itu seperti patung buatan dengan rambut, dahi, mata, hidung, bibir, dan dagu plus lehernya. Bahkan masih jelas bentuk bahunya. Makin ke tengah, batu itu makin menunjukkan ‘ke-nona-annya’.

“Batu ini sudah jadi perhatian sejak lama, sejak jaman Portugis,” kata dia.

Belakangan ini, lanjut dia, batu ini mulai tak dikenal. Banyak orang yang mengganggap batu nona itu ya yang ada di depan resort, padahal bukan.

Dia tak mempermasalahkan kalau memang Batu Nona di depan resort itu lebih dikenal nantinya. Hanya saja, dia ingin anak-anak muda tetap tahu kalau Batu Nona yang ori adalah Batu Nona yang sendirian di tengah laut itu. Tidak cantik. Berupa karang hitam. Tapi, punya kekuatan menahan abrasi air laut.

“Sayang sekali kita tidak bisa mendekat. Kita hanya bisa menyaksikan dari jarak seperti ini,” ucap dia.

batunonaPersinggahan: perahu-perahu bersandar di Pelabuhan Kema dilihat dari puncak bukit Kema.

Setelah puas dengan perjalanan mengamati Batu Nona itu kami memutsukan kembali ke pantai. Menyusul dua rekan kami yang mungkin sudah kenyang saat ini.

“Pisang goreng sambal roa dan kopi bisa dinikmati di warung-warung yang ada nanti,” kata bapak nelayan.

Kami pun mengucapkan sayonara ke Batu Nona. Kami akan menjemput pisang goreng dengan sambal bakasang–cabai yang dicampur adonan perut dan telur ikan–ke warung di tepi pantai.

Iklan

4 thoughts on “Batu Nona di Sulawesi Utara: Pastikan Berjumpa yang Ori, bukan KW

  1. Ping-balik: Habis dari Manado, Terbitlah Kecanduan Pisang Goroho | femidiah

  2. Ping-balik: Gondok Menunggak Satu di Antara “3 B” Manado | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s