Mampir ke ‘Terminal Singgah’ Penyu-penyu Dunia di Toloun, Sulawesi Utara

Toloun juga menjadi tempat singgah enam dari tujuh spesies penyu di dunia.

toloun1Relawan: Melky Kansil (dua dari kanan) tak segan berbagi informasi tentang penyu dan konservasi kepada kami.

Tak jauh dari Pantai Ratulangi, Desa Ranowangko Dua, Kecamatan Kombi, Minahasa, terdapat pusat konservasi penyu di Pantai Toloun. Istimewanya, Toloun menjadi tempat singgah enam dari tujuh spesies penyu di dunia.

Usai mengabadikan tarsius di sesi pertama, kami bisa bersantai-santai untuk menunggu petang dan berburu tarsius babak kedua. Juga untuk menanti acara bakar ikan saat matahari mulai mengarah ke barat. Tak mau buang-buang waktu, kami melipir ke konservasi penyu di Pantai Toloun yang masih berada di Kecamatan Kombi.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya dan tiga rekan seperjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke lokasi. Lahan konservasi yang tak terurus membuat saya sedikit terkejut dan menyimpan pertanyaan. Benarkah ini lokasi untuk menyelamatkan penyu-penyu itu?

Rupanya, bulan Desember–di saat saya berkunjung ini–memang bukan waktu yang tepat untuk berjumpa penyu-penyu itu. Pantai Toloun menjadi terminal penyu-penyu dunia pada bulan April sampai Mei.

Kali ini, kami hanya berjumpa lima tukik, anakan penyu, sisik yang terlambat lepas ke lautan setelah menetas. Tukik-tukik penyu sisik itu diselamatkan relawan konservasi penyu setempat, Melky Kansil, 42 tahun.

Oleh Melky, mereka dicelupkan ke dalam baskom alumunium selama masa penantian dilepas ke pantai. Baskom disimpan di dalam rumah. Potongan udang menjadi makanan tukik-tukik itu.

“Kalau ke sini pada April-Mei daratan akan penuh dengan tukik dan induknya,” kata Melky.

toloun2Sederhana: lokasi konservasi penyu ini didukung oleh WWF dan selalu melibatkan pihak asing. Kita juga mulai peduli yuk.

Itu bukanlah kelompok tukik pertama yang diselamatkan Melky. Dialah penggerak konservasi penyu di Toloun sejak tahun 1989. Dia ‘berperang’ dengan para penduduk yang kala itu menganggap wajar mengonsumsi telur penyu dan menjualnya ke daerah lain. Atau menjadikan penyu sebagai bahan asesoris dan perhiasan rumah.

Dia memulai konservasi itu dengan berpikir sederhana. Melky tak ingin anak cucunya hanya bisa mengenal penyu dari gambar-gambar di buku pelajaran atau malah majalah terbitan negara lain.

Dalam perjalanannya, Melki digandeng oleh WWF agar lebih konsisten memerangi konsumsi penyu.

Dia makin bersemangat untuk melakukan konservasi setelah tahu–dari pengalaman dan diskusi–ada enam dari tujuh spesies penyu di dunia terdapat di Indonesia. Empat di antaranya bahkan bertelur di pantai-pantai di sepanjang perairan Indonesia, yakni penyu hijau, penyu belimbing, penyu sisik, dan penyu lekang.

“Toloun menjadi tempat singgah enam dari tujuh spesies penyu di dunia. Makanya, saya tak pernah berhitung untuk menyelamatkan penyu-penyu itu. Waktu itu warga belum menyadari kalau penyu itu dilindungi,” ucap Melky.

Upaya Melki tak sia-sia. Dia kini tak hanya dibantu oleh badan-badan tertentu dan LSM untuk melakukan konservasi itu.

“Dalam prosesnya, penduduk mulai sadar penyu tak lagi diburu. Kami juga tak menangkar lagi karena berakibat buruk kepada penyu,” kata Melky.

Menurut Melky, penyu yang ditangkar akan terlambat mengenal jalur pulang. Bisa jadi keterlambatan itu sampai enam bulan lamanya.

Pengalaman panjang mengawal penyu-penyu itu menjadikan Melki sebagai seorang yang piawai dengan per-penyu-an. Dia bisa langsung mengindentifikasi jenis penyu, sarang, dan lainnya.

toloun3Penutup perburuan: ikan dan dabu-dabu menjadi teman nasi panas yang pulen sluruupppp…..maklum susah menemukan nasi pulen di warung makan di Manado.

Tak hanya bisa menyaksikan langsung konservasi penyu di Toloun, kami bersyukur perjalanan kali ini dipertemukan dengan sosok teladan. Tanpa pamrih, Melki menebarkan naluri untuk menyelamatkan makhluk mungil itu

Usai bercanda dengan tukik dan mendengarkan kisah kepiawaian Melky menganalisis sarang dan penyu di sana, kami kembali ke Pantai Ratulangi untuk menagih ikan bakar. Dabu-dabu pedas yang menjadi teman wajib ikan bakar sudah terbayang.

Iklan

4 thoughts on “Mampir ke ‘Terminal Singgah’ Penyu-penyu Dunia di Toloun, Sulawesi Utara

  1. Ping-balik: Gondok Menunggak Satu di Antara “3 B” Manado | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s